Kupang – Fransiskus Xaverius Seda, tokoh nasional asal NTT dikagumi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Tokoh besar ini tengah diusulkan untuk kedua kalinya agar memperoleh gelar pahlawan nasional.
Philips Gobang selaku Ketua Panitia Pengusul Penganugrahan Gelar Pahlawan Nasional Fransiskus Xaverius Seda menyampaikan ini, Selasa 21 Februari 2023.
Sosok yang akrab dikenal sebagai Frans Seda sangat dikagumi dan dihormati Sri Mulyani. Menteri Keuangan dari Presiden Joko Widodo ini memandang Frans Seda sebagai guru dan teknokrat dalam konteks ekonomi Indonesia.
Hal ini pun pernah diutarakan oleh Sri Mulyani dalam seminar secara daring dan laring bertema Merajut Nilai Keutamaan Frans Seda dalam Menata Kemajuan Bangsa, Januari 2023 lalu.
Baca juga: Frans Seda Layak Dianugerahi Pahlawan Nasional
Menurut Philip, Frans Seda disebut oleh Sri Mulyani sebagai aktor pembangunan basis ekonomi nasional yang sangat kuat dengan konsep anggaran berimbang dalam penyusunan APBN.
“Hingga digunakan sampai dengan hari ini,” ungkap Philip usia rapat dengan Tim Peneliti Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) di Kantor Gubernur NTT saat itu.
Fraans Seda tercatat secara gemilang sebagai Menteri Keuangan yang mampu menjinakkan hiperinflasi selama dua tahun menjabat, 1966-1968. Dia diangkat oleh Presiden Soeharto pada 28 Juli 1966 sebagai Menteri Keuangan pada Kabinet Ampera I.
Semasa jabatannya itu tokoh yang lahir di Maumere pada 4 Oktober 1926 ini menekan gejolak inflasi yang fenomenal itu secara drastis yaitu dari 650 persen menjadi 112 persen. Angka ini yang nantinya turun lagi ke 9 persen.

Hiperinflasi ini sendiri terjadi selama masa Orde Lama. Ini terjadi karena Soekarno mengintervensi independensi Bank Indonesia untuk kepentingan mencetak uang dengan cara tak terukur.
Terjadi ketimpangan pembangunan ekonomi dan infrastruktur di masa pemerintahan Soekarno. Saat itu Soekarno gencar menggunakan uang untuk program politik dan militer.
Baca juga: Dua Kali Frans Seda Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Suara Masyarakat Menentukan
Defisit anggaran pun terjadi. Jumlah pendapatan pemerintah 1 berbanding 3 dengan pengeluaran. lalu utang yang besar, minimnya cadangan devisa. Ditambah dengan operasi Trikora di Iran Barat dan Dwikora terhadap Malaysia yang memakan biaya besar untuk militer.
Inflasi yang tembus 650 persen itu, kata Philip, ditangani dengan baik oleh Frans Seda dengan menghentikan pencetakan Uang. Atau menghentikan penambahan peredaran uang, dan mempunyai kebijakan gaji yang tepat.
“Hanya dalam waktu singkat diturunkan dari 650 persen sampai 112 persen dan menjadi 9 persen. Itu dalam waktu dua tahun menjadi satu digit,” terang Philip.
Menurut cerita Sri Mulyani, ulangnya, kondisi itu belum pernah terjadi di negara manapun. Dan di zaman itu Frans Seda sudah berperan penting menekan inflasi.
“Hal yang bisa dilakukannya saat itu dan belum terjadi di negara mana pun. Kebijakan dia mengambil keputusan dan tepat,” sebutnya.
Ia menyebut Frans Seda tidak sendiri saat itu. Pemilik Frans Seda Foundation ini mempersenjatai diri dengan pemikiran ahli ekonom lainnya seperti Emil Salim, Prof. Dr. Widjojo Nitisastro, Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo, dan Prof. Dr. Mohammad Sadli.
Kini Frans Seda diusulkan kembali menjadi pahlawan nasional atas jasa dan sumbangsihnya terhadap negara selama membantu kepemimpinan 5 presiden Indonesia. Prosedur pengusulan dari daerah untuk gelar pahlawan ini paling lambat 31 Maret 2023. (Putra Bali Mula)




