Alumni IPB NTT Sambut Tawaran Visa Pertanian Australia

Ilustrasi industri pertanian di Australia. (Ist)

Ilustrasi industri pertanian di Australia. (Ist)

Kupang – Program visa pertanian (Agriculture Visa Program) yang ditawarkan Pemerintah Australia cocok untuk tenaga kerja di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kesempatan bagi generasi muda Indonesia dalam meningkatkan keterampilan dan pengetahuan bidang pertanian itu perlu ditindaklanjuti.

Petrus Malo Bulu selaku Ketua Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor (HA IPB) NTT memberi apresiasi atas tawaran program visa pertanian dari Pemerintah Australia tersebut. Hal itu cocok untuk NTT dan Indonesia secara umum guna mendalami pertanian dan peternakan. Pengalaman selama bekerja atau magang di Negeri Kangguru menjadi bekal bagi generasi muda yang hendak berkarya di Tanah Air.

Baca : Dukung Tanam Jagung Panen Sapi, Alumni IPB Ditantang Jadi Pelopor

“Sekalipun pertanian dan peternakan di Australia adalah skala industri, namun ada beberapa hal yang bisa menjadi modal dan bekal dalam urusan pangan di Indonesia. Mulai dari hulu saat menyiapkan lahan, hingga hilir terkait dengan pengolahan,” ujarnya, Senin (14/2/2022).

Doktor jebolan Murdoch University, Australia ini juga mendorong skema magang bagi generasi milenial melalui Agriculture Visa Program. Apalagi, kebutuhan tenaga kerja di Australia sangat besar ketika masa panen. Hal tersebut menjadi kesempatan yang bagus untuk belajar dan menimba pengalaman bagi generasi muda Indonesia, khususnya NTT.

Baca : Kerja Keras Anak-anak Muda Indonesia di Pabrik Daging Australia

Dalam sebuah tulisannya, Mukhamad Najib selaku Atase Pendidikan RI Canberra yang juga Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) menjelaskan bahwa Pemerintah Federal Australia memperkenalkan visa pertanian untuk pekerja dari negara Pasifik dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Hal itu untuk membantu mengisi kekurangan tenaga kerja di sektor pertanian, perikanan, perkebunan, kehutanan dan pengolahan daging yang dialami Australia. Kurangnya pekerja di sektor pertanian sebenarnya sudah dialami Australia jauh sebelum pandemi Covid-19. Namun penutupan perbatasan Australia karena pandemi telah mempercepat defisit tenaga kerja pertanian sekitar 30.000 orang.

Dalam kunjungannya ke Indonesia pekan lalu, Menteri Pertanian dan Wilayah Utara Australia David Littleproud MP menawarkan visa khusus bagi pekerja pertanian Australia tersebut. Tawaran itu sudah disampaikan kepada Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziyah dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.  Hal yang sama juga disampaikan pihak Australia dalam pertemuan dengan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL).

Menaker Ida Fauziyah menyambut baik inisiatif tersebut. Namun, masih banyak hal yang harus didalami seperti upah, perlindungan sosial, kontrak kerja, dan cost structure. “Dalam kerja sama di bidang penempatan tenaga kerja, saya sangat menekankan untuk benar-benar memastikan mekanisme pelindungan yang diterapkan kepada pekerja Indonesia,” kata Menaker.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) saat menerima kunjungan David Littleproud mendorong kerja sama bagi petani milenial Indonesia. Namun, karena ada perbedaan kondisi pertanian Indonesia dan Australia, maka perlu berbagai pelatihan pendahuluan dan penyesuaian.

“Saya cukup berbahagia karena Menteri Pertanian Australia menawarkan agar petani muda milenial kita bisa bekerja atau magang di Australia,” katanya. [K-02]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *