Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali Kaji Puluhan Gua Jepang di Bonen

Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Bali meninjau gua panglima peninggalan Jepang pada perang dunia II di Kampung Bonen (Joe-KatongNTT)

Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Bali meninjau gua panglima peninggalan Jepang pada perang dunia II di Kampung Bonen (Joe-KatongNTT)

Kupang – Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Bali melakukan pengkajian objek dugaan cagar budaya (ODCB) puluhan gua diduga peninggalan Jepang di Kampung Bonen, Kabupaten Kupang. Pengkajian dilakukan mulai 1-6 Agustus 2022.

Warga kampung Bonen bersama Pendeta Otniel Dhany Liu mengidentifikasi sekitar 53 gua. Beberapa gua sudah diberi nama sementara berdasarkan cerita masyarakat dan konstruksi gua.

Kepala BPCB Bali, Komang Aniek Purniti pada pekan lalu mengatakan, timnya melakukan kajian pelestarian ODJB di kawasan kampung Bonen yang dengan puluhan guanya.

Andi Syarifudin, Pamong Budaya Ahli Muda dari BPCB Bali yang ditemui di Bukit Fatusuba, Kampung Bonen menjelaskan, kegiatan yang dilakukan merupakan bagian dari aspek perlindungan. Terkait itu, upaya pertama yang perlu dilakukan adalah pencatatan.

“Jadi memang harus dicatatkan, didaftarkan dan ditetapkan oleh pemerintah daerah,” kata Andi.

Selian itu, kajian yang dilakukan untuk melihat aspek fisik puluhan gua yang ditemukan. Pihaknya akan melihat, apakah gua-gua tersebut sudah dibersihkan dan dapat diakses masyarakat.

Pihaknya juga akan memberikan rekomendasi dari hasil kajian. Misalnya terhadap beberapa gua yang rubuh akibat badai seroja dan beberapa yang sudah tertutup.

Kajian juga berfokus pada aspek keamanan gua. Terutama untuk mengetahui kekuatan pada dinding dan atap gua. Bagian ini merupakan upaya perlindungan bagi masyarakat yang berkunjung. Dari kajian itu akan direkomendasikan gua-gua yang aman untuk dikunjungi masyarakat.

“Jangan sampai masyarakat berbondong-bondong datang untuk melihat dan belajar tentang sekarang Perang Dunia II malah membawa petaka” ujarnya.

Ia mengatakan, setelah melalui serangkaian kajian, akan dilanjutkan pada tahapan pengembangan. Dari aspek pengembang, kata Andi, puluhan gua tersebut bisa menjadi objek penelitian sejarah dan konstruksi dari perguruan tinggi di NTT.

Puluhan gua tersebut, kata Andi, bisa direvitalisasi menjadi objek wisata. Namun Andi menegaskan, pelestarian harus tetap dipertahankan disamping pengembangan dan revitalisasi. Dengan pelestarian, objek cagar budaya bisa terus dinikmati tidak hanya satu generasi.

“Kita bisa memanfaatkan ODCB, cagar budaya, apapun juga itu yang bernilai sejarah, tapi aspek kelestariannya tetap yang paling utama,” kata Andi.

Andi menjelaskan, bila objek tersebut memberikan manfaat yang baik bagi masyarakat, maka pelestarian tersebut bisa dilakukan secara mandiri. Hal itu, kata Andi, sesuai dengan amanat undang-undang pelestarian cagar budaya.

“Katakanlah gua ini bisa menghidupi masyarakat sekitar, secara otomatis masyarakat sekitar akan menjaga kelestariannya,” jelasnya.

Direktur PPK Kemendikbudristek RI, Restu Gunawan bersama tim berfoto di salah satu gua barak pasukan di kampung Bonen (Joe-KatongNTT)

Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan (PPK) Kemendikbudristek RI, Restu Gunawan kagum dengan ODCB di Kampung Bonen. Menurutnya, perlu perhatian bersama, baik masyarakat, Pemerintah Pusat dan daerah dalam pengembangannya.

“Bisa nanti dikembangkan dan dimanfaatkan untuk pendidikan, untuk kesejahteraan, pertunjukkan dan lain sebagainya,” ujar Restu.

Ia menyebut, kawasan tersebut unik. Dengan puluhan banyak gua dan area yang luas dan disebutnya komplit, mulai dari gudang minyak, logistik, barak pasukan, gua senjata, penjara dan tempat hiburan.

“Artinya gini, daerah sini itu wilayah yang sangat strategis. Jepang melihat ini sebagai wilayah yang sangat strategis dari segi pertahanan,” katanya.

Menurutnya, NTT adalah wilayah yang strategis. Puluhan gua peninggalan Jepang itu menjadi bukti. Karena itu ia mendorong agar NTT menjadi orientasi berpikir.

“Saya kira penting, dari konteks pertahanan dan geografisnya,” jelasnya.

Pada hari pertama pengkajian, tim BPCB Bali meninjau beberapa gua seperti Barak Pasukan dan gua Panglima. Hasil pengamatan sementara, Andi mengatakan lokasi tersebut sebagai kawasan sejarah Perang Dunia II. Bukti fisik perang dunia II di daratan Timor berada di kampung Bonen, Desa Baumata, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang.

“Ini kawasan perang dunia II yang mewakili Indonesia Timur,” ujarnya.

Dari penelusuran pada beberapa gua itu, Andi melihat karakteristik yang sama pada gua-gua tersebut. Dengan beberapa mulut gua, kamar dan terowongan yang cukup panjang.

“Memang karakter Jepang seperti itu,” tambahnya.(Joe)

Baca juga: Menelusuri Gua di Kampung Bonen, dari yang Megah, Labirin Tak Berujung, Hingga Mistis (Tulisan 3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *