Kupang – Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana mengatakan, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kelapa Lima 1, Kota Kupang mendistribusikan 3.374 orang yang menerima makanan bergizi gratis (MBG) selama Juli 2025.
Distribusi dilakukan di SDI Oesapa Kecil 1 sebanyak 577 siswa, SDN Oesapa Kecil 2 sebanyak 290 siswa, SMPN 5 sebanyak 1015 siswa, SMPN Terbuka ada 35 siswa, SMPN 8, sebanyak 1.050 siswa, SMPN 21 ada 227 siswa, SLB Asuhan Kasih 136 siswa, dan Kader Posyandu ada 44 orang.
Menurut Dadan, dari 1.050 porsi yang didistribusikan ke SMPN 8 Kota Kupang, sekitar 100 siswa yang mengeluhkan keracunan dan 9 orang dirawat.
Baca juga: Keracunan Massal di SMPN 8 Kota Kupang: Sayur Basi, Rendang Berjamur
Kemudian dari 8 kelompok yang menerima manfaat MBG, hanya SMPN 8 Kota Kupang yang melaporkan tentang siswa-siswanya mengalami keracunan.
“Jadi menunya Senin, keluhannya Selasa pagi,” kata Dadan kepada KatongNTT melalui pesan Whatsapp, 24 Juli 2025.
Beralasan tak ingin berspekulasi, Dadan menyarankan agar semua pihak menunggu hasil uji laboratorium BPOM Kupang.
“Sampel makanan disimpan di SPPG dan sudah diambil BPOM,” ujarnya.
Dadan mengatakan, standar BGN sudah cukup tinggi tanpa bersedia menjelaskan parameter “cukup tinggi” itu.
Pasalnya, setelah kasus keracunan massal setelah mengkonsumsi MBG di SMPN 8 Kota Kupang, keracunan MBG kembali terjadi di SDN Tenau, Kota Kupang pada Selasa, 23 Juli 2025. Total jumlah siswa SD dan SMP yang keracunan 140 siswa.
Keracunan MBG juga terjadi di SMAN 1 dan SMAKN 2 di Tambolaka, Sumba Barat Daya, dan SMA Don Bosco pada Selasa dan Rabu, 23-24 Juli 2025. Total siswa yang mengalami keracunan 75 orang.
Ombudsman Provinsi Nusa Tenggara Timur menyesalkan terjadinya peristiwa siswa-siswa di NTT keracunan setelah mengkonsumsi MBG.
Baca juga: Guru Walikelas VI SDN di Sabu Paksa 24 Siswanya Nonton Video Porno
“Kasus tersebut bisa saja mengindikasikan adanya maladministrasi berupa penyimpangan prosedur pelayanan SPPG menu MBG. Ombudsman RI menegaskan bahwa korban harus segera mendapatkan penanganan medis dan pemerintah wajib bertanggung jawab. Program ini merupakan program pemerintah dan menggunakan APBN. Pemerintah tidak boleh abai terhadap dampak langsung yang terjadi di lapangan,” kata Darius Beda Daton, Kepala Ombudsman NTT dalam pernyataan persnya.

Penanggung jawab SPPG Kelapa Lima 1 Bungkam
Pintu pagar dapur SPPG Kelapa Lima 1 yang berlokasi di Jalan Sam Ratulangi, Kota Kupang digembok. Sejumlah pekerja yang mengaku relawan berteduh dan bercengkrama di bawah pohon di halaman depan bangunan bertingkat dua ini.
“Kami hanya relawan,” kata dua perempuan berinisiatif menjelaskan tanpa dimintai tanggapannya.
Seorang petugas berpakaian kaus biru dan topi bergegas menemui jurnalis KatongNTT dari balik pagar seraya mengatakan, penanggung jawab SPPG sedang keluar. Jurnalis dan media dilarang masuk. Dua orang pria dari balkon lantai 2 menatap ke arah jurnalis KatongNTT. Petugas berkaus biru ini kembali mengatakan penanggung jawab dapur keluar.
Baca juga: Guru Agama Tersangka Pencabulan 7 Siswa SD di Ende Terpengaruh Film Porno
Sesaat petugas terdiam ketika jurnalis KatongNTTmemberitahu bahwa pria yang di atas balkon mirip dengan foto profil di nomor whatsapp penanggung jawab SPPG Kelapa Lima 1, Adiyatman Bahauddin. Beberapa detik kemudian, foto profil di nomor whatsapp dihapus tanpa merespons pesan yang dikrimkan.
Bertepatan saat itu muncul mobil membawa buah jeruk untuk dimasukkan ke dalam dapur, petugas bertopi itu membuka gembok pagar agar mobil dapat masuk dan kemudian berbalik arah bergegas ke arah jurnalis KatongNTT seraya mengatakan dilarang mengambil foto dan video di sekitar area itu. Petugas SPPG Kepala Lima 1 itu berusaha merampas telepon seluler jurnalis KatongNTT yang berada di luar pagar. Namun gagal.
“Dilarang rekam di sini,” ujarnya. Namun dia kemudian berbalik setelah dipanggil seorang perempuan berjilbab coklat seraya masuk dan menggembok pintu pagar.
Dadan hanya membaca pesan Whatsapp tentang perilaku petugas SPPG Kelapa Lima 1 tersebut dan sikap bungkam penanggung jawab SPPG Kelapa Lima 1.
Kepala BGN bahkan tidak mengeluarkan pernyataan empati kepada siswa-siswa NTT yang mengalami keracunan usai mengkonsumsi MBG. Dalam situs resmi BGN, peristiwa ini jug tidak dimunculkan. Sementara ratusan siswa trauma dengan menolak mengkonsumsi MBG. SMPN 8 juga meniadakan kegiatan belajar mengajar di kelas sementara waktu.
Program MBG sebagai program uji coba mulai dilaksanakan Januari 2025 dengan menarget 15-16,5 juta penerima manfaat dengan jumlah SPPG sebanyak 1542 unit. (RIAN|RITA)


