Menjelang Pemilihan presiden 14 Februari 2024 bangsa ini “terpecah” lagi. Ini siklus 5 tahunan.
Tadinya diperkirakan ada dua kelompok yg saling berhadapan Anies vs calon dari PDIP dan Jokowi. Ternyata Ganjar yang dicalonkan PDIP vs Prabowo yang didukung Presiden Jokowi.
Sedangkan Anies anteng-anteng saja menikmati dan mengambil manfaat dari pertarungan Ganjar – Prabowo yang tadinya diharapkan maju dalam satu kubu melawan Anies.
Kubu-kubuan di kalangan kaum pengikut dan pendukung calon presiden, bertahan lama bahkan sampai bertahun – tahun pasca pilpres. Ingat Kampret vs Cebong.
Sebaliknya di kalangan elite politik dan partai pertarungan Ini ibarat sandiwara. Sehabis pilpres dan ketahuan hasilnya, tidak ada dendam kesumat asalkan yang menang tidak temaha dan mau membagi rezeki.
Ini yang dilakukan Presiden Jokowi dengan memberikan dua kursi menteri kepada Gerindra. Setelah itu sang bos Kampret diam bahkan kini menjadi satu kubu di pilpres 2024. Inilah yang disebut keajaiban kursi. Dari lawan menjadi sahabat.
Baca juga: Buruknya Media Para Politisi di Pemilu 2024
Sebaliknya dari kawan sejalan menjadi musuh. Namun di dunia politik Indonesia tak ada musuh bebuyutan yang ada hanyalah musuh bohong – bohongan yang terjadi setiap lima tahun. Di zaman Orba, Megawati harus berhadapan dengan sang mantu Presiden.
Setelah Presiden Orba tumbang, Megawati dan Prabowo satu perahu di Pilpres 2009. Setelah itu keduanya kembali bermusuhan.
FX Rudy pernah jadi wakil Jokowi pada saat Jokowi jadi Walikota Solo dua periode. Kemudian FX Rudy menggantikan posisi Jokowi.
Keduanya bersahabat karena sama-sama wong Solo dan satu kandang banteng. Rudy banyak memuja muji Jokowi .
Baca Juga: Deret Anak-anak Politisi Besar Rebutan Suara di NTT
Empat bulan lalu segalanya berubah total setelah Jokowi tidak betah lagi berada di kandang banteng dan justru ikut terbang dengan burung garuda.
Sejak saat itu mulailah Rudy memperlihatkan ketidaksukaan kepada sahabatnya yang kini dianggap sebagai pengkhianat partai. Kritik dan opini sah – sah saja.
Namun rupanya Rudy sudah berdiri offside dan patut disemprit wasit. Rupanya ia terlalu keras, sehingga tidak saja kebijakan yang diserang juga hal – hal pribadi.
Ini terjadi bukan hanya pada Rudy juga banyak pendukung Jokowi. Demikian juga para buzzer bayaran kini justru berbalik arah.
Baca juga: Sistem Pemilu Terbuka Lebih Demokratis Tapi Sarat Politik Uang
Rupanya si kumis sudah sangat kesal pada mantan atasannya. Semoga si kumis terus konsisten dengan sikapnya tidak menyerah oleh siklus lima tahunan.
Dalam hal ini rakyat kudu meniru “teladan” para elite partai dan politisi : tidak ada musuh dan kawan abadi yang ada adalah politik kursi. Karena di mana ada kursi, ke situlah cuan mengalir. Ah, politikus itu juga manusia sama dengan rakyat jelata : butuh uang dan terlebih lagi kenikmatan duniawi.
Makanya kita para pendukung nggak perlu sampai ribut bela mati-matian gacoan. Kita mati, emangnya para capres mau melayat.
Mereka sudah pada ngopi bareng dan ha ha hu hi. Sedangkan rakyat masih pada musuhan. Santuy aja sambil joget. *****




