Jakarta – Proyek percontohan (modelling) tambak budi daya udang berbasis kawasan (BUBK) buatan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Kebumen, Jawa Tengah mendapat penghargaan.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dalam keterangan tertulisnya mengatakan BUBK Kebumen dinilai sebagai langkah inovatif KKP dalam meningkatkan produksi udang nasional. Atas inovasi itu, KKP diganjar penghargaan kategori Excellent Award for Strategic Initiative.
Seperti diketahui, BUBK Kebumen adalah percontohan tambak udang modern terbesar yang pernah dibangun KKP dengan luas 100 hektare dan menjadi modelling tambak udang modern pertama di Indonesia. Di lokasi tersebut terdiri dari 149 petak tambak dengan infrastruktur utama, seperti water in take, tandon, petak pemeliharaan, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), juga laboratorium uji kualitas air dan kesehatan ikan, gedung kantor, gudang pakan, sarana produksi, mess operator hingga bangunan pasca panen.
Baca : Lahan dan Dana Pinjaman Jadi Kendala Investasi Udang NTB, NTT Perlu Lebih Siap
Dirjen Perikanan Budi Daya KKP Tb Haeru Rahayu menyampaikan, BUBK Kebumen masih terus dikembangkan, sejauh ini budidaya vaname di BUBK Kebumen sudah memenuhi best practice dengan hasil mencapai 40 ton per hektare.
“BUBK adalah pemicu, dan harapan kami ini diduplikasi oleh pembudidaya ataupun pemerintah daerah sehingga target produksi udang nasional 2 juta ton pada tahun 2024 bisa kita capai,” ujarnya seperti ditulis Antara.
Lalu bagaimana kelanjutan tambak terintegrasi (integrated shrimp farming) di Desa Palakahembi, Kecamatan Pandawai, Sumba Timur?
Baca : Menteri Trenggono Dorong Budidaya Udang Terintegrasi di Sumba Timur Jadi Kawasan Industri
Informasi yang diperoleh menyebutkan rencana tambak tersebut agak tersendat. Namun, hingga Jumat (8/9/2023), KatongNTT.com belum mendapatkan konfirmasi dari jajaran Ditjen Perikanan Budi Daya KKP. Belum lama ini, KatongNTT.com juga mendapat kabar dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT bahwa program tersebut langsung ditangani pemerintah pusat.
Baca : KKP Perlu Perjelas Sumber Dana Investasi Udang Rp 7,5 Triliun di Sumba Timur
Pada Maret lalu, pemerintah berencana membangun tambak budi daya udang berbasis kawasan di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Rencana tambak terintegrasi seluas 1.800 hektare (ha) itu akan menyerap 5.000 tenaga kerja.
Hal ini disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat meresmikan tambak budi daya udang berbasis kawasan (BUBK) di Kebumen, Jawa Tengah (Jateng).
“Sebentar lagi kita akan mulai lagi 1.800 hektare di Waingapu, NTT. Ini desain perencanaan sudah selesai,” kata Jokowi di Kebumen, Kamis (9/3/2023).
Dia mengatakan, tambak budi daya udang di Waingapu rencananya akan mencontoh yang sudah ada di Kebumen. “Ini di-copy dibuat di sana (Waingapu, Red). Kita harapkan itu akan menjadi sebuah kawasan yang terintegrasi, ada tambak udangnya, ada industri pakannya, ada industri untuk turunan dari udang-udang yang dipanen,” paparnya.
Baca : Butuh 5.000 Karyawan, Jokowi Sebut Desain Tambak Udang Sumba Timur Selesai
Terkait pengembangan udang di Sumba Timur, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, sudah mengunjungi kawasan tersebut pada Minggu (22/1/2023) lalu. Pembangunan tambak udang modern di wilayah tersebut untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi masyarakat dan serta menghadirkan distribusi ekonomi di wilayah timur Indonesia.
“Tenaga kerja yang dibutuhkan bisa mencapai 5.000 orang. Untuk tenaga kerja, mutlak dan harus mengutamakan tenaga kerja lokal,” ujarnya Trenggono saat itu.
Informasi yang diperoleh KatongNTT.com menyebutkan beberapa investor mulai tertarik atas potensi udang tersebut, mulai dari China, Taiwan, Inggris, dan Belanda. Salah satu investor dikabarkan sudah melakukan survey awal potensi udang di NTT, yakni Evergreen Feed. Perusahaan tersebut merupakan salah satu produsen pakan ikan yang berbasis di Jawa Timur. [Anto]




