Kupang – Bulan timbang balita pada Februari ini telah dimulai. Bulan timbang dan pengukuran balita ini nantinya dapat berguna untuk mengetahui jumlah anak stunting di Kota Kupang.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kupang optimistis angka stunting di ibukota Provinsi NTT ini dapat turun.
Kepala Dinkes Kota Kupang, Retnowati menyebut prevalensi stunting Kota Kupang dapat ditekan kali ini karena berbagai intervensi sudah dilakukan. Misalnya dengan pemberian makanan tambahan, pendampingan hingga program orang tua asuh.
Untuk itu Retnowati meminta masyarakat Kota Kupang yang memiliki bayi atau balita untuk dapat ditimbang di posyandu. Proses penimbangan ini dilakukan selama Februari 2023 dan diharapkan partisipasi 100 persen.
Baca juga: Mimo, Susu Kelor Produksi Warga Kota Kupang Jadi Asupan Mengatasi Stunting
“Dengan begitu dapat diketahui pasti besaran angka stunting di Kota Kupang,” kata Retnowati, Jumat 3 Februari 2023.
Penimbangan ini dilakukan terhadap semua balita yang ada di Kota Kupang. Nantinya dalam pendataan akan dicacah lagi menurut status apakah warga Kota Kupang atau pendatang.
Posyandu di Kota Kupang sendiri sejumlah 338 unit di bawah pengawasan puskemas. Pihak puskesmas yang akan melaporkan kegiatan penimbangan via Elektronik Program Penanggulangan Gizi Buruk Berbasis Masyarakat (EPPGBBM).
Puskesmas Bakunase misalnya telah menjalankan penimbangan selama dua hari di 36 Posyandu yang ada di wilayah kerja mereka.
Kepala Puskesmas Bakunase, dr Sartje Nubatonis menyebut pihaknya juga akan melakukan sweeping untuk menemukan anak-anak untuk ditimbang.
“Sasaran kali ini mencapai 3 ribuan lebih anak,” tukasnya.
Sebelumnya Penjabat Wali Kota Kupang, George M. Hadjoh, yakin program orang tua asuh dapat menekan angka stunting di Kota Kupang.
Program ini melibatkan berbagai stakeholder, baik TNI, Polri, BUMN, perusahaan swasta, perbankan, perguruan tinggi serta berbagai pihak lainnya.
Baca juga: Ludi Gasong Sinergikan Riset dan Bisnis Jagung Bose Instan untuk Cegah Stunting di NTT
Menurut George, program orang tua asuh bisa membantu mengurangi tingkat keparahan stunting ini. Pemetaan terkait sebaran stunting pun telah dilakukan di 1.315 RT pada 51 kelurahan dan 6 kecamatan di Kota Kupang.
Program orang tua asuh ini berupa pendampingan dan pemenuhan gizi berkelanjutan bagi anak-anak stunting di tiap RT.
Pemkot Kupang juga telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp 27 miliar untuk penanganan stunting, lewat intervensi oleh 7 perangkat daerah sebagai leading sector.
Prevalensi stunting di Kota Kupang sendiri, kata George, turun sejak tahun 2018 hingga 2022 mencapai 13,9 persen.
Namun kendalanya adalah pemenuhan kebutuhan air bersih yang baru mencapai 37 persen di Kota Kupang. Sementara indeks sanitasi yang aman baru mencapai 8,92 persen.
“Karena itu Kota Kupang butuh dukungan pemerintah pusat untuk percepatan penurunan dan pencegahan stunting berupa penanganan dan perluasan jaringan air bersih dan sanitasi,” pungkas George dalam keterangannya, Rabu 1 Februari 2023. (Putra Bali Mula)




