• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Rabu, Januari 14, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Pekerja Migran & Perdagangan Orang

Cegah TPPO di NTT: Deklarasi Bersama, Migrant Centre, dan Desa Migran Emas

“NTT tercatat sebagai salah satu provinsi dengan jumlah korban PMI ilegal tertinggi. Ini terjadi karena kita semua belum bersinergi dengan baik. Negara harus hadir, mulai dari proses awal, hingga PMI kita bisa kembali dengan selamat,” kata  Melki.

Rita Hasugian by Rita Hasugian
5 bulan ago
in Pekerja Migran & Perdagangan Orang
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Gubernur NTT Melki Laka Lena membacakan Deklarasi Bersama Pencegahan dan Pemberantasan Penempatan PMI Ilegal dan TPPO di aula kantor Gubernur NTT, Rabu, 06 Agustus 2025. (Riandi Kore/KatongNTT)

Gubernur NTT Melki Laka Lena membacakan Deklarasi Bersama Pencegahan dan Pemberantasan Penempatan PMI Ilegal dan TPPO di aula kantor Gubernur NTT, Rabu, 06 Agustus 2025. (Riandi Kore/KatongNTT)

0
SHARES
61
VIEWS

Kupang – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena menegaskan bahwa persoalan Pekerja Migran Indonesia (PMI) ilegal dan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) merupakan luka kemanusiaan mendalam yang selama ini mencederai martabat warga NTT.

Penegasan itu disampaikan dalam Deklarasi Bersama Pencegahan dan Pemberantasan Penempatan PMI Ilegal dan TPPO bersama Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), yang digelar di Aula Rumah Jabatan Gubernur NTT, Rabu (6/8/2025).

BacaJuga

Rumput laut milik nelayan desa Lifuleo, Kabupaten Kupang rusak disebabkan limbah batubara PLTU Timor-1. (Dok. Oktaf Saketu)

PLN Klaim Usut Dugaan Batubara PLTU Timor-1 Cemari Laut Timor

8 Januari 2026
Penjara Kluang, Johor, Malaysia tempat PMI NTT tak berdokumen menjalani hukuman sebelum dideportasi pulang. (icrc.uthm.edu)

PMI NTT Ungkap Penjara dan Detensi Imigrasi Malaysia Tidak Manusiawi

27 Desember 2025

Baca juga: Eks Kapolres Ngada Didakwa Pidana Asusila, Lepas dari Jeratan TPPO

Kegiatan ini dihadiri oleh Sekjen KP2MI  Dwiyono,  para Pejabat Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Forkopimda NTT, para bupati dan walikota se-Provinsi NTT, lembaga pendidikan, akademisi, lembaga keagamaan, pekerja migran Kota Kupang, dan organisasi masyarakat yang terlibat langsung dalam mencegah TPPO di NTT.

Melki menyampaikan keprihatinan dan komitmen yang kuat untuk mengakhiri praktik pengiriman PMI ilegal dari NTT. Ia mengatakan bahwa selama ini sinergi antar lembaga belum berjalan optimal, sehingga negara gagal melindungi warganya secara utuh.

“Masalah PMI ilegal dan TPPO ini adalah luka kemanusiaan yang terus terjadi. NTT tercatat sebagai salah satu provinsi dengan jumlah korban PMI ilegal tertinggi. Ini terjadi karena kita semua belum bersinergi dengan baik. Negara harus hadir, mulai dari proses awal, hingga PMI kita bisa kembali dengan selamat,” kata  Melki.

Ia menekankan pentingnya mempersiapkan calon PMI sejak dari desa, termasuk penguatan sistem informasi, edukasi, pelatihan keterampilan, dan layanan pengaduan. Beberapa upaya telah dilakukan, seperti pembentukan Gugus Tugas Pencegahan TPPO hingga ke tingkat desa, serta pembangunan Layanan Terpadu Satu Atap (LTSA) di kabupaten/kota.

Gubernur Melki juga memberikan apresiasi kepada para pejuang akar rumput, termasuk para rohaniwan dan jurnalis yang mempertaruhkan nyawa untuk mengungkap sindikat perdagangan manusia.

“Saya sampaikan terima kasih dan penghargaan luar biasa kepada Suster Laurens dan Pendeta Debi. Juga kepada wartawan NTT yang dengan keberaniannya membongkar sindikat perdagangan manusia sampai ke Malaysia, bahkan hampir kehilangan nyawa. Ini bukan pekerjaan mudah, ini perjuangan hidup mati,” kata  Gubernur.

Ia menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke Malaysia pada 2018, menemukan bahwa 90 persen PMI asal NTT di sana adalah korban pengiriman non-prosedural. Mereka berasal dari berbagai daerah seperti Rote, Sumba, Flores, Timor, hingga TTS.

Baca juga: Tak Relevan, NTT Harus Ganti Perda TPPO

Gubernur Melki menyerukan kolaborasi lintas sektor dari aparat hukum, lembaga pendidikan, tokoh agama, hingga media untuk terus bahu-membahu memberantas praktik yang merendahkan martabat warga NTT.

“Mari kita lanjutkan kolaborasi lebih kuat lagi. Untuk NTT yang sehat, cerdas, maju, sejahtera, dan berkelanjutan. Ayo bangun NTT, ayo bangun Indonesia!” pungkasnya .

Sekjen KP2MI Dwiyono mengatakan, NTT kini masuk 10 besar provinsi pengirim PMI terbanyak secara nasional, dan sebagian besar berisiko karena non-prosedural.

“Data kami mencatat bahwa pada 2025, NTT sudah mengirim 2.249 PMI secara prosedural. Tapi fakta menunjukkan bahwa 95–97 persen PMI yang jadi korban kekerasan dan eksploitasi adalah mereka yang berangkat ilegal. Kita tidak tahu mereka kerja di mana, dengan siapa, dan dalam kondisi seperti apa,” ujar Dwiyono.

Ia menambahkan, jalur ilegal kerap lebih diminati karena dianggap cepat, mudah, dan murah, tanpa perlu pelatihan, BPJS, maupun visa kerja. Sebaliknya, jalur prosedural memang memerlukan proses panjang, namun menjamin perlindungan dan hak PMI secara menyeluruh.

Baca juga: Amerika Rilis Korupnya Pemerintah NTT Dalam Perdagangan Orang

Untuk memperkuat perlindungan dari hulu hingga hilir, Dwiyono mengusulkan pembentukan Migrant Center di NTT, agar semua proses  mulai dari pelatihan, tes kesehatan, hingga administrasi  bisa dilakukan dalam satu tempat terintegrasi. Ia juga mendorong pembentukan Desa Migran Emas di setiap kabupaten/kota sebagai benteng pertama cegah TPPO.

“Kalau kita punya Migrant Center, masyarakat tidak perlu keluar-masuk instansi. Semuanya dilakukan di satu tempat. Ini solusi konkrit. Dengan Desa Migran Emas, kita bisa membentengi warga dari bujuk rayu sindikat,” ungkapnya.

Acara ditutup dengan pembacaan Deklarasi oleh Gubernur NTT, yang diikuti seluruh unsur Forkopimda, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan perwakilan kementerian.

Suster Laurensia Suharsih, biarawati Katolik yang aktif menyuarakan pencegahan TPPO di NTT mendukung Deklarasi Bersama ini dengan harapan berjalan efektif.

“Kami hadir sesuai undangan dan dukung penuh acara ini hanya saja semoga pada pelaksanaannya harus benar benar efektif dan berjalan dengan baik sesuai yang diinginkan kita semua,” kata  Suster Laurensia.  (Riandi Kore)

 

Tags: #DesaMigranEmas#GubernurNTT#KementerianPerlindunganPekerjaMigranIIndon#LTSA#Malaysia#MelkiLakaLena#MigrantCenter#pminonprosedural#TPPOdiNTT
Rita Hasugian

Rita Hasugian

Baca Juga

Rumput laut milik nelayan desa Lifuleo, Kabupaten Kupang rusak disebabkan limbah batubara PLTU Timor-1. (Dok. Oktaf Saketu)

PLN Klaim Usut Dugaan Batubara PLTU Timor-1 Cemari Laut Timor

by Rita Hasugian
8 Januari 2026
0

Kupang – PT PLN sedang menelusuri dan memvalidasi informasi dari nelayan Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang bahwa aktivitas bongkar muat batubara...

Penjara Kluang, Johor, Malaysia tempat PMI NTT tak berdokumen menjalani hukuman sebelum dideportasi pulang. (icrc.uthm.edu)

PMI NTT Ungkap Penjara dan Detensi Imigrasi Malaysia Tidak Manusiawi

by Rita Hasugian
27 Desember 2025
0

Kupang – Marselinus Seke menahan rasa sakit pada kedua kakinya yang bengkak setiap kali melangkah. Kulit kakinya melepuh,  mengeluarkan cairan...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati