Cerita Teman Tuli Menggeluti Bisnis di Kafe Kopi Sa

(Dari kiri ke kanan) Michelle, Rezki, dan Ernest. Teman Tuli yang bekerja di Kafe Kopi Sa, di gedung Dekranasda NTT (KatongNTT)

(Dari kiri ke kanan) Michelle, Rezki, dan Ernest. Teman Tuli yang bekerja di Kafe Kopi Sa, di gedung Dekranasda NTT (KatongNTT)

Kupang – Lahir tanpa bisa mendengar atau tunarungu membuat penyandang Tuli tumbuh dengan perlakuan diskriminasi oleh masyarakat.

Ruang publik yang belum ramah disabilitas, tertutupnya akses untuk Teman Tuli bekerja, serta keengganan masyarakat untuk membangun komunikasi dengan Teman Tuli, membuat mereka takut, malu, dan memilih menyembunyikan identitas diri mereka.

Ini membuat Mario Lengi Lado, pria lulusan Desain Grafis, Universitas Mercu Buana Jakarta ini, berinisiatif untuk membangun Komunitas Tuli Kupang (KTK) pada awal 2016 lalu. Untuk menumbuhkan kepercayaan diri Teman-teman Tuli agar tampil secara apa adanya di depan banyak orang.

“Tujuannya untuk advokasi bahasa isyarat. Supaya Teman-teman Tuli jangan malu pakai bahasa isyarat. Contohnya naik bemo, terus ada Teman Tuli pakai bahasa isyarat, ada orang lihat, langsung Teman Tulinya diam karena malu. Kalau di jalan, tidak mau isyarat. Takut dilihat orang. Dilihat sepi baru mau menggunakan isyarat,” kata Mario yang diterjemahkan melalui Anna, Juru Bahasa Isyarat (JBI) di Kupang.

Mario menjelaskan, tujuan membangun KTK adalah mengadvokasi pemerintah agar menerima Teman-teman Tuli untuk bekerja di ruang publik. Menurutnya, banyak Teman Tuli yang tidak memiliki pekerjaan karena banyak pihak yang tidak mau mempekerjakan mereka.

Hingga akhirnya, Peraturan Daerah NTT Nomor 2 tahun 2019 disahkan dan memberi payung hukum yang jelas bagi para disabilitas agar bisa bekerja.

Mario Lengi Lado, ketua Komunitas Tuli Kupang (KTK) bersama Anna, salah satu JBI yang ada di Kupang. Sedang menjelaskan asal mula terbentuknya KTK. (KatongNTT)

Mario yang kini bisa diterima bekerja di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pembina Oepura itu, kemudian punya rencana untuk membuka usaha supaya bisa mempekerjakan Teman-teman Tuli lainnya. Hingga dia berkesempatan bertemu dengan Ketua Dekranasda NTT, Julie Laiskodat, kemudian diajak untuk mengikuti pelatihan kopi.

“Jadi ibu Julie minta, ‘Mario mau untuk pelatihan Kopi?’ Katanya. Saya bilang, wah mau. Karena banyak Teman-teman Tuli yang belum kerja. Saya kemudian wawancara, ternyata lulus. Akhirnya saya berangkat ke Bandung selama satu minggu.” ujarnya.

Kopi Sa Sebagai Tempat Belajar Teman Tuli

Pernyataan Mario dibenarkan Kichi Jacob, salah satu pemilik kafe Kopi Sa yang beroperasi di Gedung Dekranasda NTT. Kafe yang kini menjadi tempat bekerja beberapa Teman Tuli.

“Pada 2021 saat pandemi, tamu mulai berkurang. Kemudian siapa yang paling sering bertahan datang adalah teman-teman dari Komunitas Tuli Kupang,” katanya.

Ia menyebut, mereka punya relasi yang cukup erat dengan teman-teman KTK. Karena salah satu pemilik kafe ini, Sisca Kana, adalah pembina di KTK.

“Itu buat mereka sering main ke sini, membuat kami tetap bertahan di masa pandemi. Lalu mereka mulai tertarik dengan kopi. Di September 2021, kita dapat beasiswa dari Dekranasda NTT untuk sekolah sertifikasi barista di Bandung,” jelas perempuan 32 tahun itu.

Pada saat itu, yang melamar ada tujuh orang. Jadi ada yang ikut sekolah roasting, ada pula yang barista. Pada Oktober 2021, tim Kopi Sa mulai suarakan ke teman-teman KTK untuk belajar tentang kopi lebih dalam karena sudah ada pengajar dari Teman Tulinya sendiri.

Baca Juga: Jatuh Bangun Yustin Sadji, Eks Pengungsi Timtim Merawat UMKM Mindari

Kini, dari enam pekerja di Kopi Sa, empatnya adalah Teman Tuli. Kichi mengutarakan jika pekerjaan mereka di kafe adalah melaksanakan semua pekerjaan yang ada.

“Kalau di kafe kami mewajibkan mereka bisa masak, bisa buat kopi. Jadi mereka itu dari pegang kasir bisa, keuangan bisa, dalam artian terima pesanan, rekap pesanan, bahkan sampai rekap pendapatan harian itu bisa. Terus buat minuman bisa, masak juga bisa. Melayani jadi pelayan juga bisa,” ujarnya.

Bukan tanpa tujuan Kichi dan Sisca memberlakukan ini. Karena bagi mereka, Kopi Sa hanya menjadi tempat belajar bagi Teman-teman Tuli untuk selanjutnya mereka bisa membuka usaha sendiri kelak.

“Jadi konsepnya ini tempat singgah. Kita rebranding Kopi Sa sebagai kafe inklusi. Kami bilang ini tempat singgah, jadi kita berharap, mereka tidak bekerja lama di sini justru. Mereka keluar buat bisnis atau bekerja di tempat yang lain. Supaya teman-teman lain yang belum ada keterampilan lainnya itu bisa masuk ke sini,” jelasnya.

Selanjutnya, Kichi mengatakan sulit membimbing mereka di awal karena belum paham SOP yang berlaku. Namun, setelah mereka paham bagaimana sistem kerja yang berlaku, sikap kerja yang mereka tunjukkan sangat baik.

“Yang saya belajar dari Teman-teman Tuli di sini, adalah mereka melayani dengan gestur tubuh bangga. Itu pembelajaran buat saya. Bahwa, pekerjaan sekecil apapun dikerjakan dengan angkat wajah dengan bangga,” kata Kichi.

Terkadang pelanggan protes karena pekerjaan yang lama. Namun Kichi menekankan kafe mereka menggunakan spesialis manual brew atau seduh manual.

“Jadi seduh manual itu memang tantangannya di waktu. Setiap minuman punya waktunya sendiri-sendiri. Lama itu bukan karena anak-anak kami punya keterbatasan dan melayani lama. Bukan, tapi karena kami memang mengedepankan manual brew tadi,” tegas Kichi.

Selain itu, menurut Kichi, Teman-teman yang bisa mendengar agak kesulitan dalam menjalankan pekerjaan ini karena bisa mendengar komentar negatif dari pelanggan.

“Kalau Teman-teman Tuli tidak mendengar ya, jadi tidak mendengar julid dari orang-orang. Kadang kalau kita bercanda, mereka itu hear no evil, jadi tidak mendengar setan apapun, mereka tetap positif,” ucap Kichi dengan tertawa.

Kichi Jacob, pemilik Kopi Sa sedang menceritakan bagaimana Kopi Sa merekrut Teman-teman Tuli untuk bekerja di Kafenya. (KatongNTT)

Kendala, Kekesalan, dan Mimpi Teman-teman Tuli

Melalui wawancara tertulis, empat Teman Tuli yang bekerja di Kopi Sa menumpahkan cerita suka duka mereka bekerja di kafe tersebut. Hal yang menjadi kendala hingga kini adalah beberapa pelanggan yang masih menolak untuk berkomunikasi langsung dengan mereka.

Beberapa kali juga masih berbicara dengan menggunakan masker. Padahal, mereka bisa mengerti lewat gerak bibir.

Tanel Loa, salah satu Teman Tuli yang bekerja di Kopi Sa mengatakan, beberapa kali pelanggan menyusahkan mereka dengan terus menggunakan masker saat berbicara.

“Orang datang pesan di kafe pakai masker. Saya tidak bisa dengar. Orang omong cepat-cepat. Saya minta tolong untuk buka masker tapi tidak mau buka,” cerita pria 26 tahun tersebut.

Keempatnya pun mengalami kekesalan yang sama akan pelanggan yang masih berutang ke mereka

“Saya pusing, pelanggan selalu datang pesan setelah itu utang-utang terus sampai saya jengkel karena belum bayar utang,” cerita Michelle Elik, perempuan 20 tahun ini.

Sedangkan kendala lain yang muncul adalah dari diri mereka sendiri. Tiga dari mereka mengungkapkan, bekerja di Kopi Sa adalah pengalaman pertama mereka di dunia kerja. Sehingga masih sering kali menemui kesusahan.

“Saya sulit buat Latte. Tangan masih selalu gemetar,” tulis Ernest.

Senada dengan Ernest, Rezki, pria berusia 19 tahun asal Kupang mengatakan, masih sulit membuat latte art untuk mempercantik tampilan seduhan kopi latte.

Walau menemui banyak kendala, mereka terus berusaha untuk membuktikan ke dunia, bahwa sekalipun tidak bisa mendengar, mereka juga punya kemampuan dan kesempatan yang sama dengan manusia lainnya.

Rezki dan Ernest berkata, dengan pengalaman yang sudah mereka dapatkan di Kopi Sa, ke depannya mereka berharap bisa menjadi barista dan punya kedai kopi sendiri.

“Impian saya, agar NTT bisa lebih inklusi, sehingga pilihan kerja kami lebih banyak. Dan semoga saya bisa jadi barista Tuli yang hebat,” tulis Rezki.

Bagi Tanel yang punya ketertarikan di dunia fotografi berharap ke depannya bisa punya studio foto sendiri.

“Biar Yeman-teman Tuli bisa kerja. Agar orang bisa tahu, Teman-teman Tuli NTT punya kemampuan,” kata Tanel.

Sedangkan Michelle, perempuan asal Kupang ini berkeinginan melanjutkan bisnis salonnya, sebagai bentuk pembuktian diri bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain jika mereka pun memiliki kemampuan yang sama, dan tak harus dikucilkan.

“Saya mau lanjutkan (usaha) salon saya. Agar teman-teman tahu kami punya keahlian juga. Teman-teman tolong jangan diskriminasi teman-teman tuli yah.” tutup Michelle. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *