Demak – Sorgum menjadi salah satu komoditas pertanian yang dikembangkan di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Kementerian Pertanian memberikan sertifikat tanda daftar varietas lokal dengan nama sorgum Eistimewa dengan produktivitas mencapai 10 ton per hektare (ha).
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Demak Agus Herawan dalam keterangannya mengatakan dengan diterimanya sertifikat tanda daftar varietas tanaman untuk varietas lokal itu maka bibit sorgum sudah bisa diperbanyak. Nantinya, kelompok tani bisa memperbanyak bibit tanaman sorgum untuk diperjualbelikan dengan label varietas Eistimewa.
Baca : Optimalkan Singkong, NTT Bisa Kurangi Ketergantungan Beras dari Luar
Dikatakan, varietas baru diharapkan memotivasi petani menanam komoditas itu sebagai bahan pangan alternatif gandum. Apalagi, produktivitasnya bisa mencapai 10 ton per ha, dari sebelumnya hanya 4 ton per ha.
Bupati Demak dr Eisti’anah menambahkan penentuan varietas Eistimewa tersebut juga telah menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). “Saya berharap, masyarakat luas dapat lebih mengenal sorgum dan memanfaatkan sebagai bahan pangan alternatif,” ujarnya, pekan lalu.
Di Nusa Tenggara Timur (NTT), sorgum juga sudah dipromosikan sejak satu dekade silam. Catatan KatongNTT.com menyebutkan ada sejumlah program pengembangan sorgum yang dilakukan pemerintah pusat, badan usaha milik negara (BUMN), swasta hingga kelompok masyarakat atau lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Baca : Kementan Lirik 34.500 Hektare Lahan di NTT Untuk Sorgum
Puncaknya, pada Kamis (02/06/2022) lalu, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) melakukan penanaman bibit dan meninjau panen sorgum di Kabupaten Sumba Timur, NTT. Hampir setahun setelah Jokowi panen, tepatnya pada April 2023, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko berkunjung ke Sumba Timur untuk panen raya sorgum 50 ha di Waingapu, NTT.
Saat itu, Moeldoko berjanji mengembangkan sorgum pada tahun 2023 dengan luasan 400 ha. Namun, setelah panen raya sorgum seluas 50 ha yang dikelola PT Sorgum Moelti Agriculture tersebut, belum ada kelanjutan lagi.
Padahal, katanya, pemerintah juga telah menyusun roadmap pengembangan sorgum di NTT. Tahap awal, dengan mempersiapkan lahan seluas 15.000 ha. Tahap kedua, 50.000 ha, dan tahap ketiga ditargetkan mencapai 200.000 ha.
Baca : Keamanan Digital di Kalangan Orang Muda di NTT
“Selain lahan, pemerintah juga sekarang sedang menyiapkan pembibitan atau benih sorgum nasional di Waingapu. Jadi empat puluh lima persen dari hasil panen sorgum digunakan untuk benih dan ditanam kembali,” jelasnya seperti ditulis dalam laman https://www.ksp.go.id.
Hingga saat ini belum ada kejelasan terkait tindak lanjut pengembangan sorgum tersebut. Informasi yang diperoleh menyebutkan Pemerintah Kabupaten Sumba Timur berencana mengembangkan sorgum dengan luas 3.000 ha. Rencana luasan untuk 2024 tersebut sepertinya menghadapi sejumlah tantangan karena target 2024 seluas 400 ha saja belum jelas.[Anto]




