Kupang – Di era digital saat ini, perempuan tidak hanya mengerti tentang aksesibilitas, namun bersamaan itu harus memahami pentingnya keamanan digital. Nadia Molana, pegiat media sosial dan pelaku UMKM di Nusa Tenggara Timur menyadari pentingnya keamanan digital agar data pribadi miliknya tidak disalahgunakan oleh orang lain.
Nadia membuat password atau kata sandi untuk akun media sosial dan rekening banknya. Secara teratur dia memeriksanya untuk memastikan bahwa hanya dirinya yang tahu kata sandinya.
Baca juga: 14 Media Alternatif Perempuan Sepakat Memperjuangkan Teknologi Digital Inklusif
Nadia memanfaatkan media sosial Instagram untuk mempromosikan keripik pangsit yang dia produksi. Dia sudah memiliki pelangan tetap. Transaksi penjualan dia lakukan pada akun medsos miliknya. Kenyataan ini membuat dia menjaga ketat keamanan akunnya dengan membuat kata sandi yang sulit diretas.
“Harus ada kombinasi kata dan kalimat, bukan bulan atau tanggal lahir. Apalagi saya juga pengguna rekening digital dan hal-hal seperti ini yang perlu untuk dijaga agar kita terhindar dari kejahatan digital yng merugikan,” kata Nadia kepada KatongNTT, Kamis, 14 Maret 2024.
Mega Lamablawa memberikan tips tentang keamanan digital di antaranya secara teratur memperbarui password akun media sosial maupun rekening bank.
“Tidak sembarangan memberikan password sekalipun orang itu kita percaya,” ujar perempuan asal Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur.
Dia teringat akun Facebook temannya diretas yang berdampak bagi orang lain.
Baca juga: Pelanggaran Hak-Hak Digital 2023 Meningkat dan Semakin Parah di Tahun Pemilu
“Pernah saya punya teman , akunnya dibajak terus inboks teman-temannya minta isikan dia pulsa dan ada yANG percaya terus isi sesuai nomor yang diberikan. Teman saya juga tidak tahu siapa yang hacked. Jadi dia langsung cari tutorial di YouTube dan ganti sandi jadi akunnya bisa kembali,” ujar Mega.
Os Waldus Neno, seorang pemuda asal Kefa TTU membagikan pengalamannya saat akun rekening bank miliknya diretas. Dana di rekeningnya dikuras habis.
“ Saya juga pengguna rekening online saya pernah buat rekening waktu awal masuk kuliah dan pernah mengalami saldo minus. Ini karena uang yg ada dalam rekening tersebut disedot oleh salah satu oknum yang mengatas namakan satu perusahaan. Selama sebulan, setiap kali ada uang masuk ke rekening akan selalu disedot dan habis,” ujarnya kesal.
Asisten Manajer Pelaksanaan Pengembangan UMKM KI & Syariah Bank Indonesia wilayah NTT, Mohammad Zehan Irfanda menyarankan agar dilakukan pengecekan transaksi keuangan secara berkala. Ini untuk memastikan keamanan rekening bank.
Dilansir dari SAFEnet, serangan digital berupa peretasan dengan motif ekonomi banyak menimpa pengguna internet. Ini menunjukkan bahwa serangan digital sebenarnya tidak pandang bulu, tidak pandang pasar, dan tentu saja tidak kenal waktu.
Baca juga: 187 Kasus Perempuan dan Anak di Kota Kupang, Ada Pelacuran Online
SAFEnet membuat metode penilaian secara mandiri terhadap keamanan digital yang diberi nama Pakem Diri.. PAKEM DIRI ini adalah metode yang dikembangkan agar setiap orang bisa menilai secara mandiri sejauh mana mereka telah menerapkan keamanan digital.
Menilai keamanan diri sendiri tentu penting karena akan membantu kita mengetahui posisi keamanan diri yang sebenarnya, dan tingkat risiko diri di dunia digital.
“Harapannya, kalau sudah tahu risikonya kita bisa berpikiran untuk mulai meningkatkan keamanan digital,” tulis SAFENET di situsnya. Silakan akses pakemdiri.safenet.or.id dan menilai sendiri seberapa aman anda di dunia digital. (Ayunda)




