Kupang – Lontaran lava, gempa dan aktivitas magma dari Gunung Lewotobi Laki-laki makin intensif hingga 16 Januari 2024. Gunung api di Kabupaten Flores Timur (Flotim) NTT ini juga mengalami guguran awan panas.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) juga telah mengeluarkan rekomendasi terbaru perubahan jarak aman terhadap gunung yang sudah berstatus Awas atau Level IV ini.
Namun begitu ada masyarakat yang diketahui pulang ke rumah mereka lagi. Data pengungsi yang ada di tenda pengungsian, rumah warga dan fasilitas umum menunjukkan penurunan sebanyak 389 jiwa.
Baca juga : Korban Erupsi Lewotobi Capai 7.015 Jiwa Versi Data ASEAN
PVMBG sudah melarang masyarakat beraktivitas dalam radius 5 kilometer (km) dari pusat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki serta sektoral 6 km pada arah utara – timur laut.
Dalam laporan PVMBG per 16 Januari diketahui tinggi kolom erupsi mencapai 600 meter dengan terjadinya guguran lava pijar ke arah barat daya – barat sejauh 2 km.
Kegempaan yang signifikan juga terjadi yaitu 13 kali Gempa Awan Panas Guguran, 108 Gempa Letusan, 92 kali Gempa Guguran, 172 kali Gempa Low Frequency, 10 kali Gempa Tremor Harmonik, dan 1 kali Gempa Vulkanik Dalam.
Baca juga : Letusan, Gempa dan Abu Vulkanik Gunung Lewotobi, 3 Desa Dikosongkan
Gempa low frequency juga meningkat signifikan yang menunjukkan pergerakan magma ke permukaan yang semakin intensif dalam waktu yang cukup singkat.
Berdasarkan laporan jumlah pengungsi, dari 6.568 jiwa per Minggu 14 Januari menjadi 6.489 jiwa per Senin 15 Januari. Jumlah pengungsi juga kembali turun pada Selasa 16 Januari menjadi 6.179 jiwa.
Menurut Pos Data dan Informasi Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki ada pengungsi yang telah kembali ke rumah dan dilakukan pembaharuan data.
Baca juga : 3.982 Gempa Menerjang NTT Selama 2022
Berdasarkan identifikasi data lapangan di Posko Wulanggitang diketahui 37 jiwa di SDI Boru sudah kembali ke rumah mereka di Desa Hokeng Jaya.
Menurut Kadis Kominfo Flotim, Hironimus Lamawuran, Desa Hokeng Jaya sebenarnya termasuk desa yang rawan atau masuk dalam zona merah. Desa terkategori rawan ini pun Desa Klatanlo, Nawokote, Dulipali, Nobo, dan Nurabelen.
Sebelumnya warga Desa Riang Rita juga dievakuasi ke Posko Konga. Data per 16 Januari 2024 pukul 06.00 WITA mencatat adanya 1.951 jiwa yang diungsikan namun pukul 18.00 WITA jumlahnya berkurang menjadi 1.665 jiwa.
Baca juga : Pengungsi Lewotobi Derita 15 Penyakit, Tertinggi ISPA
Ada pun data pengungsi di Desa Bokang Wolomatang setelah dieavakuasi dari Desa Riang Rita juga belum terakomodir.
Menurut Hironimus warga nekat meninggalkan lokasi pengungsian dengan alasan terlalu lama meninggalkan rumah, perkebunan, hingga peternakan miliknya.
Pelaksana tugas (Plt) Kalak BPBD Kabupaten Flores Timur, Achmad Duli, sendiri belum memberi keterangannya terkait hal ini saat dihubungi.
“Ada sementara rapat,” jawabnya melalui sambungan telepon, Rabu 17 Januari 2024. ***




