• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Kamis, Juli 2, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Cuaca, Iklim dan Lingkungan

Iklim Ekstrem, Petani NTT Kian Sulit Tentukan Musim Tanam

Tim Redaksi by Tim Redaksi
2 tahun ago
in Cuaca, Iklim dan Lingkungan
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Iklim Ekstrem, Petani NTT Kian Sulit Tentukan Musim Tanam

Seorang petani di NTT menunjukkan gabah kering hasil panen 2023 lalu. (Putra Bali Mula - KatongNTT)

0
SHARES
149
VIEWS

Kupang – Perubahan iklim (climate change) berdampak besar pada sektor pertanian. Para petani di Nusa Tenggara Timur (NTT) sampai cemas atau bahkan takut akan berbagai dampak yang dapat ditimbulkannya.

Perubahan iklim ini berupa perubahan suhu, curah hujan, hingga kejadian cuaca yang ekstrem. Penyebabnya emisi gas rumah kaca baik secara regional maupun global.

BacaJuga

Desa Tablolong. (Rita Hasugian/KatongNTT)

Cerita Rumput Laut dari Tablolong: Petani Kesulitan Bibit, Hama Lendir, dan Tercemar Mikroplastik

11 Februari 2026
Jalur sebelah barat pembuangan limbah air pendingin mesin untuk merawat turbin dan pipa PLTU Timor-1 yang dibuang ke Laut Timor. Limbah itu mengandung serpihan batubara, oli dan solar. Jalur barat lokasinya berdekatan dengan lokasi budidaya rumput laut petani Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang, NTT. (Dok.Oktaf Sekatu)

4 Lembaga Uji Lab, Petani: Limbah Pendingin Mesin PLTU Timor-1 Dibuang ke Laut

9 Januari 2026

Camat Lamba Leda Utara (LAUT), Kabupaten Manggarai Timur, sekaligus Ketua Asosiasi Petani LAUT, Agus Supratman, mengungkap bagaimana ketakutan mereka.

“Perubahan iklim ini mengganggu konsentrasi kerja para petani seperti ragu dan cemas hendak olah lahan. Tidak sedikit para petani urung niat olah lahan karena takut resiko kerugian besar,” tanggapnya saat dihubungi Kamis, 20 Juni 2024.

Baca juga : Kisah Masyarakat Adat NTT Atasi Perubahan Iklim, Di Mana Pemerintah?

Dampak yang mereka rasakan misalnya terjadi salah target masa tanam karena musim hujan datangnya tak menentu. Akibatnya, para petani sangat takut merugi sehingga jumlah luas lahan akhirnya terbatas atau makin sedikit yang digarap.

“Banyak gagal tanam, ada juga yang gagal tumbuh dan berdampak pada gagal panen. Ini berdampak pada menurunnya pendapatan para petani. Ekonomi para petani jelas mengalami gangguan dari segi pendapatan,” jelasnya.

Markus-petani-di-Sumba-membersihkan-lahan-pertanian-miliknya-yang-kesulitan-air-karena-musim-kemarau-ekstrim-Rabu-1-September-2021. (Al-KatongNTT.com)
Markus-petani-di-Sumba-membersihkan-lahan-pertanian-miliknya-yang-kesulitan-air-karena-musim-kemarau-ekstrim-Rabu-1-September-2021.-(Al-KatongNTT.com)

“Dahulu para petani leluasa dalam mengolah lahan garapan, sekarang serba cemas. Kendalanya ya di perubahan iklim itu tadi,” sambung Agus.

Menurutnya mitigasi yang bisa dilakukan pemerintah seperti membuat peta wilayah rawan bencana. Kemudian perlu upaya penghijauan hutan dengan penyuluhan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam melestarikan hutan.

Persediaan cadangan pangan pemerintah juga sangat diperlukan di samping adanya kerjasama dengan BMKG dalam memberi info detail dan akurat soal iklim.

“Ini perlu disosialisasikan secara berjenjang dan kontinyu kepada masyarakat melalui pemerintah kecamatan dan desa,” tukasnya.

Baca juga: Perubahan Iklim, Limbah Makanan dan Pangan Berkelanjutan di Flores Barat

Rossi selaku Koordinator Yayasan SHEEP Indonesia menemukan hal serupa dalam penelitiannya selama 3 tahun di Kabupaten Kupang.

Menurut Rossi petani kian sulit memprediksi kapan musim hujan atau kemarau sehingga seringkali terjadi gagal tanam saat ini.

“Masyarakat dulunya mampu membaca tanda alam tapi kini sulit hal itu diprediksi lagi,” tanggapnya saat diwawancarai 15 Juni lalu.

Ilustrasi kekeringan menyebabkan gagal panen (Kominfo RI)

Perubahan iklim suatu daerah pun makin diperparah dengan adanya kebijakan pembangunan yang melahirkan kerentanan baru. Hal ini membuat masyarakat makin terdampak terhadap krisis iklim.

Akhirnya, produksi pertanian sangat terpengaruh karena bukan saja gagal panen yang terjadi tapi lebih sering terjadi gagal tanam.

Perubahan iklim ini memang berpengaruh terhadap produksi pertanian di NTT seperti perubahan curah hujan, kekeringan, kenaikan suhu yang mempengaruhi pertumbuhan dan hasil panen.

Baca juga: Koalisi Masyarakat Sipil NTT Suarakan Dampak dan Solusi Perubahan Iklim

Perubahan iklim makin pula mengganggu jadwal tanam dan panen tradisional termasuk masalah meningkatnya hama dan penyakit.

Menurut NASA (National Aeronautics and Space Administration) hingga IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), suhu rata-rata global telah meningkat lebih dari 1 derajat Celsius sejak akhir abad ke-19.

Laporan IPCC terbaru juga mengonfirmasikan tren peningkatan suhu global ini. Mereka menyoroti kontribusi manusia sebagai faktor utama kondisi mengerikan ini melalui emisi gas rumah kaca.

NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) juga menguatkan tren ini. Analisis mereka menunjukkan peningkatan suhu signifikan dalam beberapa dekade terakhir. ***

Tags: #climatechange#PerubahanIklim#PetaniNTT
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Desa Tablolong. (Rita Hasugian/KatongNTT)

Cerita Rumput Laut dari Tablolong: Petani Kesulitan Bibit, Hama Lendir, dan Tercemar Mikroplastik

by Rita Hasugian
11 Februari 2026
0

Pada Jumat sore, 30 Januari 2026, Indrawati Doroh duduk berselonjor di teras rumahnya di Desa Tablolong, Kabupaten Kupang, NTT bersama...

Jalur sebelah barat pembuangan limbah air pendingin mesin untuk merawat turbin dan pipa PLTU Timor-1 yang dibuang ke Laut Timor. Limbah itu mengandung serpihan batubara, oli dan solar. Jalur barat lokasinya berdekatan dengan lokasi budidaya rumput laut petani Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang, NTT. (Dok.Oktaf Sekatu)

4 Lembaga Uji Lab, Petani: Limbah Pendingin Mesin PLTU Timor-1 Dibuang ke Laut

by Rita Hasugian
9 Januari 2026
0

 Kupang – Klaim PT PLN (Persero) untuk mengusut dan memvalidasi dugaan batubara sebagai bahan bakar PLTU Timor-1 memunculkan pertanyaan. Sebab...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati