Kupang – Perubahan iklim (climate change) berdampak besar pada sektor pertanian. Para petani di Nusa Tenggara Timur (NTT) sampai cemas atau bahkan takut akan berbagai dampak yang dapat ditimbulkannya.
Perubahan iklim ini berupa perubahan suhu, curah hujan, hingga kejadian cuaca yang ekstrem. Penyebabnya emisi gas rumah kaca baik secara regional maupun global.
Camat Lamba Leda Utara (LAUT), Kabupaten Manggarai Timur, sekaligus Ketua Asosiasi Petani LAUT, Agus Supratman, mengungkap bagaimana ketakutan mereka.
“Perubahan iklim ini mengganggu konsentrasi kerja para petani seperti ragu dan cemas hendak olah lahan. Tidak sedikit para petani urung niat olah lahan karena takut resiko kerugian besar,” tanggapnya saat dihubungi Kamis, 20 Juni 2024.
Baca juga : Kisah Masyarakat Adat NTT Atasi Perubahan Iklim, Di Mana Pemerintah?
Dampak yang mereka rasakan misalnya terjadi salah target masa tanam karena musim hujan datangnya tak menentu. Akibatnya, para petani sangat takut merugi sehingga jumlah luas lahan akhirnya terbatas atau makin sedikit yang digarap.
“Banyak gagal tanam, ada juga yang gagal tumbuh dan berdampak pada gagal panen. Ini berdampak pada menurunnya pendapatan para petani. Ekonomi para petani jelas mengalami gangguan dari segi pendapatan,” jelasnya.

“Dahulu para petani leluasa dalam mengolah lahan garapan, sekarang serba cemas. Kendalanya ya di perubahan iklim itu tadi,” sambung Agus.
Menurutnya mitigasi yang bisa dilakukan pemerintah seperti membuat peta wilayah rawan bencana. Kemudian perlu upaya penghijauan hutan dengan penyuluhan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam melestarikan hutan.
Persediaan cadangan pangan pemerintah juga sangat diperlukan di samping adanya kerjasama dengan BMKG dalam memberi info detail dan akurat soal iklim.
“Ini perlu disosialisasikan secara berjenjang dan kontinyu kepada masyarakat melalui pemerintah kecamatan dan desa,” tukasnya.
Baca juga: Perubahan Iklim, Limbah Makanan dan Pangan Berkelanjutan di Flores Barat
Rossi selaku Koordinator Yayasan SHEEP Indonesia menemukan hal serupa dalam penelitiannya selama 3 tahun di Kabupaten Kupang.
Menurut Rossi petani kian sulit memprediksi kapan musim hujan atau kemarau sehingga seringkali terjadi gagal tanam saat ini.
“Masyarakat dulunya mampu membaca tanda alam tapi kini sulit hal itu diprediksi lagi,” tanggapnya saat diwawancarai 15 Juni lalu.

Perubahan iklim suatu daerah pun makin diperparah dengan adanya kebijakan pembangunan yang melahirkan kerentanan baru. Hal ini membuat masyarakat makin terdampak terhadap krisis iklim.
Akhirnya, produksi pertanian sangat terpengaruh karena bukan saja gagal panen yang terjadi tapi lebih sering terjadi gagal tanam.
Perubahan iklim ini memang berpengaruh terhadap produksi pertanian di NTT seperti perubahan curah hujan, kekeringan, kenaikan suhu yang mempengaruhi pertumbuhan dan hasil panen.
Baca juga: Koalisi Masyarakat Sipil NTT Suarakan Dampak dan Solusi Perubahan Iklim
Perubahan iklim makin pula mengganggu jadwal tanam dan panen tradisional termasuk masalah meningkatnya hama dan penyakit.
Menurut NASA (National Aeronautics and Space Administration) hingga IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), suhu rata-rata global telah meningkat lebih dari 1 derajat Celsius sejak akhir abad ke-19.
Laporan IPCC terbaru juga mengonfirmasikan tren peningkatan suhu global ini. Mereka menyoroti kontribusi manusia sebagai faktor utama kondisi mengerikan ini melalui emisi gas rumah kaca.
NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) juga menguatkan tren ini. Analisis mereka menunjukkan peningkatan suhu signifikan dalam beberapa dekade terakhir. ***




