Sikka– Angka kasus HIV/AIDS di Kabupaten Sikka terus meningkat. Berdasarkan data Komite Penanggulangan HIV/AIDS, hingga Februari 2025 tercatat 1.195 kasus sejak 2003. Di balik angka itu, ada wajah-wajah manusia yang berjuang melawan penyakit, stigma, dan rasa takut. Satu di antaranya adalah seorang perempuan yang tinggal di Kecamatan Alok Barat. Kita sebut saja dia Melati, seorang ibu, petani, dan penyintas.
Perjalanan Melati sebagai penyintas HIV/AIDS dimulai pada 2011. Saat itu dia tinggal bersama suami keduanya di Samarinda, Kalimantan Timur. Sang suami sering jatuh sakit hingga akhirnya keluarga membujuknya untuk melakukan pemeriksaan di rumah sakit. Melati sedang hamil tua sehingga tidak sempat mendampingi suaminya.
Baca juga: Kisah Mak Ne, Transpuan Rote Bertarung Bebaskan Lembata dari HIV AIDS
Sepulang dari rumah sakit, suaminya berubah. Ia lebih sering murung, menangis tanpa sebab, dan menutup diri. Melati mengira itu karena penyakit mata yang diderita suaminya.
“Waktu itu saya pikir dia menangis karena matanya tidak bisa disembuhkan,” cerita Melati.
Hari-hari penuh tanda tanya itu berakhir ketika sang suami dengan berurai air mata memeluknya dan berbisik. “ ‘Saya mengidap HIV.’ Dia minta maaf, katanya pasti saya tidak bisa menerima kondisinya,” kenang Melati.
Dorongan keluarga membuat Melati akhirnya ikut melakukan pemeriksaan, meski kondisinya hamil tua. Hasilnya: dia juga positif.
“Saat itu saya panik. Pengetahuan saya tentang HIV/AIDS sangat terbatas. Yang ada di pikiran saya hanya kematian yang semakin dekat,” ujarnya lirih.
Namun, berbeda dengan banyak kisah penyintas HIV/AIDS lain, Melati bersyukur karena keluarganya tidak meninggalkannya. “Sejak awal keluarga menerima kami tanpa diskriminasi,” katanya.
Setelah menerima kenyataan, Melati memilih untuk tetap bertahan. Dia rutin berobat ke rumah sakit bersama suaminya, menjalani terapi, dan perlahan membangun kekuatan.

Baca juga: Jumlah Penyandang HIV Meningkat Tajam di 19 Kabupaten dan Kota di NTT
Sebelum menikah dengan suami keduanya, Melati pernah hidup bersama seorang pria saat menjadi buruh perusahaan di Kalimantan. Dari hubungan tanpa status, dia dikaruniai dua anak. Namun hubungan itu tidak bertahan lama, hingga akhirnya dia menikah dengan suaminya yang positif HIV.
Hidupnya yang sederhana sebagai petani di Alok Barat kini dijalani dengan kesadaran penuh bahwa HIV adalah bagian dari dirinya. Bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dihadapi.
Lebih dari satu dekade telah dilalui bersama suaminya yang kedua bola matanya tidak lagi berfungsi , Melati masih menyimpan satu beban besar: bagaimana membuka status kepada anak-anaknya?
“Sampai sekarang saya masih merasa berat untuk membuka status. Saya takut anak-anak ikut terdampak diskriminasi masyarakat,” ucapnya.
Kedua anaknya kini beranjak remaja. Melati masih mencari momen tepat untuk membawa anak-anaknya melakukan pemeriksaan darah. Rasa takut masih mengikatnya: bukan takut pada penyakit itu sendiri, melainkan pada stigma sosial yang bisa menghancurkan masa depan anak-anaknya.
Baca juga: Dinkes Ungkap Usia Termuda Pengidap HIV di Lembata
Sebagai ODHA, Melati punya harapan besar pada pemerintah, khususnya Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka. Dia ingin agar tenaga kesehatan yang memadai disiapkan untuk melakukan sosialisasi secara masif.
“Saya berharap Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka menyiapkan SDM yang cukup untuk sosialisasi tentang HIV/AIDS, supaya masyarakat paham dan tidak ada diskriminasi terhadap penyintas,” katanya.
130 penyintas HIV tidak bisa mengakses obat ARV
Dia juga menyoroti soal akses obat. Berdasarkan data dari Rumah Sakit Dr. TC Hillers Maumere, sekitar 130 penyintas HIV tidak bisa mengakses obat ARV. Padahal obat ini sangat penting untuk mempertahankan kualitas hidup.
Selain itu, Melati menitip pesan agar diskriminasi—baik secara langsung maupun di media sosial—tidak lagi terjadi. “Kami juga manusia. Kami ingin diterima,” pintanya.
baca juga: Muncul Ratusan Pekerja Seks Anak di Lembata
Bagi keluarga Melati, kabar bahwa dia positif HIV dulu sempat menjadi pukulan berat. Ab (68), kakak pertama PL, mengaku sempat kehilangan harapan.
“Waktu itu saya kaget. Dalam pikiran kami, saudari kami sudah tidak ada harapan hidup,” ujarnya melalui pesan WhatsApp.
Namun, sikap keluarga perlahan berubah. Mereka justru memilih untuk mendukung penuh. “Kami mendorong dia agar terus berobat dan berkonsultasi. Hingga kembali ke Flores pun kami tetap mendukung. Yang penting dia semangat dan rutin ke rumah sakit,” kata Ab. *****


