Pengembangan Labuan Bajo sebagai destinasi super prioritas telah berdampak ke berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dampak keberhasilan tersebut seperti ketersediaan tenaga kerja, pendapat asli daerah dan pertumbuhan usaha perhotelan tertinggi se Provinsi Nusa Tenggara Timu. Capaian-capaian tersebut turut menyemangati masyarakat untuk terpacu menyambut perkembangan daerahnya. Termasuk dampak langsung dan tidak langsung bagi pertumbuhan wilayah Labuan Bajo.
Memperhatikan konsep tata ruang pengembangan Labuan Bajo, menurut saya sudah sesuai dengan arah perencanaan wilayah. Pengembangan ke arah selatan 25 kilometer dari Labuan Bajo yaitu Kawasan Ekonomi Khusus Golomori. Kemudian pengembangan Kawasan Utara serta pengembangan destinasi parapuar.
Baca juga: Ironi di Labuan Bajo: Investor Luar Menikmati, Masyarakat NTT Nyaris Tak Punya Peran
Desa Tanjung Boleng mempersiapkan diri untuk menguatkan kapasitanya dalam bidang kepariwisataan di Labuan Bajo. Komunitas Relawan Pariwisata disingkat Korps Green Lovers pun hadir untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan kapasitas masyarakat di bidang pelestarian lingkungan dan kepariwisataan.
Berdasarkan hasil kajian cepat Korps Green Lovers ada beberapa hal yang menjadikan Desa Tanjung Boleng sebagai desa wisata unggulan. Pertama, memiliki keunggulan geo wisata yang telah menjadi destinasi favorit seperti gua rangko. Selanjutnya, memiliki kawasan manggrove yang dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata baru. Desa ini juga memiliki wisata kawasan hutan Waebobok. Keempat, memiliki kearifan lokal seperti sawah lodok dan rumah gendang. Terakhir, bentang alam di Desa Tanjung Boleng dapat dikembangkan menjadi wisata religi dipadukan dengan wisata budaya.
Secara geografis, letak Desa Tanjung Boleng di pantai utara Labuan Bajo. Desa ini berjarak sekitar 30 menit dari Kota Labuan Bajo. Dapat dijangkau melalui jalan darat dan jalur laut. Perjalanan lewat jalur darat akan disuguhi dengan pemandangan yang menakjubkan seperti pemandangan pesisir pantai, pulau gusung dan sesekali melewati hutan manggrove.
Baca juga: Menakar Dampak Pembentukan KEK Labuan Bajo
Di desa Tanjung Boleng terdapat lima dusun yang memilki kekhasan masing-masing seperti persawahan, pantai, sungai dan area hutan. Dengan jarak yang singkat dari Kota Labuan Bajo membuat desa ini strategis untuk dikembangkan menjadi destinasi unggulan.
Upaya untuk menjadikan Tanjung Boleng sebagai desa wisata unggulan dengan mengembangkan destinasi berdasarkan potensi yang dimiliki. Pertama, destinasi wisata sawah Lodok yang terkoneksi dengan pembibitan manggrove. Kedua, destinasi wisata manggrove Nanga Lumut. Ketiga, destinasi wisata Patung Kristus Raja di Waebobok atau Raren.
Destinasi-destinasi baru yang diusulkan untuk dikembangkan ini akan memberikan pilihan destinasi bagi wisatawan.Sehingga diharapkan berdampak pada lama tinggal.
Korps Green Lovers mengharapkan Presiden dan jajarannya dan pemerintah daerah dapat melihat secara langsung dan mengembangkan potensi Desa Tanjung Boleng. Selain itu, masyarakat khususnya pemuda Desa Tanjung Boleng diimbau untuk membangun dan meningkatkan kapasitasnya.
Pendiri Korps Green Lovers Yakobus Stefanus Muda mengharapkan pembangunan Labuan Bajo sebagai destinasi super prioritas agar terus dilanjutkan. Tidak berhenti di era Presiden Jokowi tetapi diteruskan di masa kepemimpinan berikutnya. *****


