Manfaatkan Medsos, Abon Sapi dan Ikan Buatan Meli Banjir Pesanan

Memberdayakan potensi daging sapi dan ikan yang ada di NTT, ibu dengan 3 anak tersebut memilih membuat abon sapi dan abon ikan tuna

Melia Kurniawan, pelaku UMKM di Kota Kupang yang memproduksi abon sapi dan ikan (Ruth-KatongNTT)

Melia Kurniawan, pelaku UMKM di Kota Kupang yang memproduksi abon sapi dan ikan (Ruth-KatongNTT)

Kupang – Sekelumit hambatan dan masalah semakin kompleks saat pandemi COVID-19 mulai melanda Indonesia. Kebijakan pemerintah membatasi aktivitas di luar rumah berdampak pada hampir semua sektor publik. Namun, usaha kuliner, terkhususnya yang berbasis daring justru meningkat saat pandemi.


Badan Pusat Statistik mencatat, dari total penjualan daring yang terjadi di Indonesia pada 2020, penjualan makanan adalah yang tertinggi mencapai 51%.


Melihat peluang yang ada, Meli Kurniawan memilih untuk membuka usaha kuliner di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Memberdayakan potensi daging sapi dan ikan yang ada di perairan Provinsi NTT, ibu dengan 3 anak tersebut memilih membuat abon sapi dan abon ikan tuna di 2021.


“Saya senang masak. Dan saya melihat kayaknya ada peluang baik nih di usaha kuliner. Jadi saya mulai produksi,” ujar Meli.


Namun keadaan ekonomi masyarakat yang sedang tak stabil di awal pandemi tetap memunculkan keraguan dalam diri Meli ketika memproduksi abonnya ini.


“Karena waktu itu awal pandemi, jadi semua orang itu mungkin keadaan ekonomi sedang terseret. Jadi saya produksi itu saya lihat juga kondisi pasarnya ini mampu tidak menerima produk yang saya keluarkan ini,” kata Meli.

Awalnya penjualan tak terlalu berkembang. Sehingga Meli menyadari bila penjualan lewat media sosial memberi banyak pemasukan bagi bisnisnya. Pemilik akun Instagram @de_momang itu sampai menggunakan jasa influencer untuk membantu memasarkan produknya dan memang lebih banyak mendatangkan pelanggan baru.


Oleh karena makin banyak yang memesan produknya, Meli kewalahan karena semua proses pembuatan dari membeli bahan-bahan di pasar, mengolah, mengemas, hingga mengantar pesanan ke rumah pembeli dilakukannya sendiri. Untuk itu ia kini sudah memiliki enam karyawan tetap.


Walau sudah memiliki karyawan, proses pengolahan abonnya tetap ia pantau agar bisa menghasilkan rasa dan bentuk yang sama.


“Waktu proses pengolahan itu saya tidak bisa ke mana-mana. Karena harus saya pastikan hasil di tacu (wajan) yang satu dengan yang lain itu sama,” jelas perempuan 34 tahun itu.


Pesanan yang membludak kala pandemi menjadi berkat namun juga ia mengaku kesulitan karena ia harus membagi waktu untuk mengurus usahanya dengan anak-anaknya. Penerapan sekolah dari rumah oleh pemerintah membuat dirinya sebagai orang tua harus membimbing dua anaknya yang sedang menjalani masa sekolah dasar itu.


Untuk itu ia menyiasati mengolah produk abonnya di akhir pekan agar tidak mengganggu kegiatan bimbingan belajar anak-anaknya.


Meli pun mengisahkan bila awalnya ia dan anak-anaknya bahkan tak menyukai makanan abon ini. Hal ini karena abon yang ia temui berserat kasar, dan kurang krispi. Sehingga munculah ide untuk membuat abon sendiri.

Abon ikan tuna crispy hasil olahan Meli Kurniawan (Ruth-KatongNTT)


“Lidahnya orang NTT itu lebih ke pedas dan asin. Jadi abon saya agak berbeda dari pada umumnya. Seratnya jauh lebih halus, kemudian teksturnya lebih renyah, dengan rasa pedas, asin, dan manis,” jelas perempuan asal Manggarai, NTT ini.


Tak main-main, Meli sampai mengambil kelas kursus memasak Abon di Surabaya agar ia paham benar bagaimana mendapatkan kualitas abon yang renyah dan dapat bertahan lama.


“Saya belajar lagi untuk tahu, ada dasar teorinya juga. Supaya saya tahu bagaimana agar abon itu bisa awet lama. Abon itu awet karena pengolahannya lama,” ungkap Meli.


Tanpa bahan kimia


Diolah hingga kering dengan tanpa bahan pengawet maupun MSG, membuat produk abon sapi dan ikan buatan Meli tersebut bertahan hingga satu tahun.


“Abon kami itu, kami goreng sampai benar-benar kering. Dan tidak pakai MSG maupun bahan pengawet jadi tahan sampai 1 tahun,” tutur Meli.


Menggunakan daging sapi segar dan ikan tuna yang kaya akan vitamin, serta tanpa bahan kimia yang membahayakan tubuh manusia. Aonnya bahkan kini dipilih Dewan Kerajinan Nasional Daerah (DEKRANASDA) sebagai salah satu produk PMT untuk mencegah stunting yang akan didistribusikan ke 22 Kabupaten/kota di NTT.


Pada Rabu, 8/06/2022, Meli menunjukkan proses pengolahan abon sapinya yang ia olah di kediamannya sendiri di Jln. Jupiter, Oesapa, Kota Kupang. Hari itu Meli mengolah abon Sapi.


Hal pertama yang dilakukan ialah mencuci bersih daging sapi kemudian diiris tipis agar daging cepat lunak. Kemudian, daging direbus hingga lunak sekitar 2-3 jam.


Sehabis itu, dinginkan, dan daging masuk dalam tahap penggilingan.


Setelah selesai digiling hingga halus, kemudian daging diuraikan dengan tangan agar tidak menggumpal. Daging kemudian diberi bumbu seperti bawang putih, sereh, dan lainnya. Selanjutnya, daging siap digoreng.


Tahap penggorengan ini memakan waktu sampai 4 jam menggunakan api sedang. Selama proses penggorengan, abon harus terus diaduk agar masaknya merata dan juga menghindari abon di dasar penggorengan hangus.


Setelah benar-benar kering, abon kemudian dimasukan dalam mesin pengering. Abon ditekan menggunakan mesin agar minyak dalam abon terperas sehingga abon yang dihasilkan tak berminyak dan benar-benar kering. Selanjutnya dikemas untuk dipasarkan.

Abon dikemas dengan berat 250gr, dibandrol dengan harga Rp. 90 ribu untuk abon ikan, dan Rp. 105 ribu untuk abon sapi.


Kini, abon milik Meli sudah memiliki reseller di Kota Kupang. Seperti di Dekranasda, La Moringa, dan Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) NTT.


Untuk pengiriman keluar kota masih kurang banyak karena memang terkendala ongkos kirim.


“Kadang nih ada yang mau beli dari luar (kota), tapi terkendala ongkos kirimnya mahal,” keluh Meli. Sehingga ia berharap ke depannya ada reseller di setiap kota sehingga bagi yang ingin membeli abonnya, tidak terkendala ongkir yang mahal lagi.


Selain itu, Meli pun sudah membangun galerinya sendiri yang diberi nama De Momang untuk menjual produk-produknya. Karena selain abon, Meli pun memproduksi sambal sapi asap, cumi, dan sambal tuna.


Ia pun tak hanya menjual produknya sendiri, akan tetapi produk-produk UMKM lainnya juga ia jual di galerinya. Seperti kecap tanpa kedelai Letodae, teh kelor, dan camilan lainnya. Hal ini dilakukan sebagai bentuk saling mendukung sesama UMKM yang ada di Kupang.

Baca juga: Terinspirasi Kekayaan Laut NTT, Epa Gagas Se’i Ikan

 

Silakan hubungi nomor +6285239325553 jika berminat untuk membeli produk UMKM ini. Ayo kita dukung kemajuan UMKM NTT!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *