Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mendorong pengembangan industri pengolahan gula terintegrasi dengan perkebunan tebu. Apalagi, pembangunan pabrik gula terpadu di luar Pulau Jawa yang mendukung pemerataan ekonomi inklusif.
Menteri Perindustrian Agus G Kartasasmita memberi apresiasi kepada PT Muria Sumba Manis (MSM) atas keberaniannya dalam mendirikan pabrik gula terintegrasi di luar Jawa.
“Kami berharap, dengan peningkatan produksi yang disumbang dari pabrik gula baru PT MSM ini akan mengurangi impor. Ini sejalan dengan program substitusi impor yang kami inisiasi,” ujar Agus G Kartasasmita saat berkunjung ke pabrik gula PT MSM di Desa Wanga, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (22/8/2023).
Baca : PMI Asal Sumba Meninggal di Malaysia, Kepala Desa Surati Kemenlu dan BP2MI
Dikatakan, dengan mengurangi impor, Indonesia bisa menghemat devisa negara, memperkuat neraca transaksi berjalan, membuka lapangan pekerjaan, dan akhirnya menciptakan multiplier effect bagi perekonomian. Saat ini, jumlah pabrik yang aktif berproduksi mengolah tebu menjadi gula kristal putih (GKP) untuk konsumsi langsung di Indonesia sebanyak 59 pabrik, terdiri dari 40 pabrik gula milik BUMN dan 19 pabrik gula swasta. “Dari jumlah pabrik tersebut, total kapasitas terpasang nasional mencapai 324.350 TCD (ton cane per day),” katanya dalam keterangan tertulis.
Baca : NTT Ekspor Komoditas Unggulan Sedikitnya ke 11 Negara
Sedangkan pabrik yang mengolah gula kristal rafinasi (GKR) untuk bahan baku industri makanan, minuman dan farmasi (maminfar), terdiri dari 11 pabrik dengan kapasitas 5,016 juta ton per tahun.
Kemenperin juga mengapresiasi PT MSM yang menerapkan kogenerasi listrik sebagai sumber tenaga seluruh proses produksi dan pompa irigasi dengan teknologi sub-drip. Hal inilah yang membedakan dengan pabrik gula pada umumnya. MSM memiliki 40 reservoir dan lima embung dengan kapasitas reservoir 300-480 ribu m³.
Pada tahap pertama, kapasitas produksi PT MSM untuk gula kristal putih sebesar 6.000 TCD. Untuk tahap kedua, kapasitas produksi mencapai 12.000 TCD. Hingga saat ini, tenaga kerja terserap sebanyak 3.744 orang yang didominasi karyawan lokal 3.390 orang dan 354 orang dari luar Sumba.
Baca : Minta Tambah APBN, Tambak Udang Sumba Timur yang Disinggung Jokowi Tersendat?
Managing Director PT MSM Budi Hediana menyampaikan PT MSM merupakan salah satu pabrik strategis nasional untuk menopang ketahanan pangan dan swasembada gula yang merupakan program prioritas pemerintah. “Perusahaan telah menyiapkan fasilitas training centre serta program pelatihan dan pengembangan untuk seluruh karyawan. Besar harapan kami bisa menyerap tenaga kerja lokal berkualitas dari putra-putri Sumba,” tuturnya.
Baca : Warga Segera Dapat Ganti Rugi Lahan Tambak Udang di Sumba Timur
MSM telah memproduksi gula dengan brand “Sumba Manis” dan mengusung tagline “Dari Sumba untuk Indonesia”. Selama ini Sumba Timur dianggap sebagai daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), yang sulit melakukan investasi, padahal potensinya banyak sekali. Saat ini potensi wisata di sini sudah mulai dikenal cukup luas. Kehadiran MSM diharapkan bisa membuka mata banyak pihak bahwa Sumba Timur punya nilai ekonomis yang cukup diperhitungkan.
CEO Hartono Plantation Indonesia (HPI) Agro Robert Halim menyatakan apresiasi atas kunjungan Menperin ke pabrik gula PT MSM yang sudah berproduksi sejak tahun 2021 lalu.
Pihaknya berharap dukungan dan fasilitas, terutama infrastruktur dan sarana transportasi laut dalam pengembangan usaha selanjutnya.
Sebagai pabrik gula terintegrasi, PT MSM mengembangkan perkebunan tebu seluas 3800 hektare dan terus ditingkatkan sehingga kebutuhan bahan baku gula bisa dipenuhi. “PT MSM juga berkeinginan untuk terus berkontribusi terhadap percepatan kemandirian industri gula dalam negeri melalui komitmen penggunaan konten lokal yang tinggi,” tandas Budi. [Anto]




