• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Rabu, Januari 14, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Pekerja Migran & Perdagangan Orang

Orang NTT Pilih ke Malaysia Meski Diupah Sangat Murah

Tim Redaksi by Tim Redaksi
2 tahun ago
in Pekerja Migran & Perdagangan Orang
Reading Time: 2 mins read
A A
0
44 CPMI hadir mendengar pembekalan dalam OPP yang dilaksanakan BP3MI (Ruth Botha - KatongNTT)

44 CPMI hadir mendengar pembekalan dalam OPP yang dilaksanakan BP3MI (Ruth Botha - KatongNTT)

0
SHARES
53
VIEWS

Kupang – Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) mencatat banyak pekerja asal NTT berangkat ke Malaysia yang cenderung mengupah murah ketimbang Singapura atau Australia.

BP2MI RI juga mencatat kasus terbanyak terhadap pekerja juga terjadi di Malaysia. Warga NTT yang menjadi korban juga dominan baik itu pekerja prosedural atau non prosedural.

BacaJuga

Rumput laut milik nelayan desa Lifuleo, Kabupaten Kupang rusak disebabkan limbah batubara PLTU Timor-1. (Dok. Oktaf Saketu)

PLN Klaim Usut Dugaan Batubara PLTU Timor-1 Cemari Laut Timor

8 Januari 2026
Penjara Kluang, Johor, Malaysia tempat PMI NTT tak berdokumen menjalani hukuman sebelum dideportasi pulang. (icrc.uthm.edu)

PMI NTT Ungkap Penjara dan Detensi Imigrasi Malaysia Tidak Manusiawi

27 Desember 2025

Bila dibandingkan dengan upah pekerja dan jumlah kasus sebenarnya Singapura lebih aman bagi pekerja ketimbang Malaysia.

Baca juga : TJPS Gagal Cegah Warga NTT Jadi PMI Ilegal

Kepala Dinas Koperasi, Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi (Disnakertrans) NTT, Sylvia Peku Djawang, menyampaikan hal tersebut.

Sylvia melanjutkan pesan dari Kepala BP2MI Benny Rhamdani agar orang NTT juga dapat memilih negara lain selain Malaysia.

“Dari BP2MI pusat, Pak Beni bilang, kalau boleh orang NTT jangan memilih Malaysia karena membayar sangat murah,” ungkap Sylvia beberapa waktu lalu dalam diskusi soal TPPO di Kota Kupang.

Baca juga : Polda NTT Minta Keluarga PMI Non Prosedural Tidak Tutup Mulut

Ada berbagai alasan orang NTT berangkat ke Malaysia, jelas Sylvia, karena diajak keluarga atau direkrut kerabat mereka sendiri, adanya desakan ekonomi, maupun budaya atau bahasa yang dianggap hampir sama.

“Atau mungkin skill orang NTT kurang, atau manut-manut saja, orang NTT no choice, tetapi kita orang NTT sudah senang karena ringgit saat dirupiahkan menjadi besar,” tambah Sylvia.

Pihaknya mengupayakan untuk mengurangi jumlah keberangkatan pekerja ke Malaysia dan memberangkatkan ke Singapura nantinya.

Baca juga: Resmi, Anggaran Gugus Tugas TPPO Pindah ke Polisi

Ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (APJATI) NTT, John Salmon Saragih, merespon hal ini. Persoalannya, kata John, karena negara kurang membuka kran business to business (B to B) selain dengan Malaysia saja.

“Yang enak-enak diambil. Malaysia memang terkenal susah dari dulu. Saudi Arabia juga susah. Yang enak itu Jepang, Korea tapi itu G to G (government to government) bukan B to B,” tukas dia.

Baca juga : Modus TPPO di NTT, Pakai Jerat Utang Hingga Rekrut Lewat Medsos

Ia menambahkan jumlah pekerja asing di Australia ada 450 ribu orang dan kebanyakan berasal dari Vietnam dan Kamboja tetapi dari Indonesia sedikit yang resmi.

Menurut dia Australia pun sebetulnya lebih memilih warga NTT tetapi ini perlu direspon segera dengan kerja sama city to city.

“Gaji Australia lebih tinggi daripada Malaysia. Australia itu lempar batu sampai tapi kita tidak pernah ada pekerja ke sana,” kata dia. ****

Tags: #Malaysia#pminonprosedural#PMINTTdoyankeMalaysia#PMINTTMeninggal
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Rumput laut milik nelayan desa Lifuleo, Kabupaten Kupang rusak disebabkan limbah batubara PLTU Timor-1. (Dok. Oktaf Saketu)

PLN Klaim Usut Dugaan Batubara PLTU Timor-1 Cemari Laut Timor

by Rita Hasugian
8 Januari 2026
0

Kupang – PT PLN sedang menelusuri dan memvalidasi informasi dari nelayan Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang bahwa aktivitas bongkar muat batubara...

Penjara Kluang, Johor, Malaysia tempat PMI NTT tak berdokumen menjalani hukuman sebelum dideportasi pulang. (icrc.uthm.edu)

PMI NTT Ungkap Penjara dan Detensi Imigrasi Malaysia Tidak Manusiawi

by Rita Hasugian
27 Desember 2025
0

Kupang – Marselinus Seke menahan rasa sakit pada kedua kakinya yang bengkak setiap kali melangkah. Kulit kakinya melepuh,  mengeluarkan cairan...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati