Pantau Gelar Pelatihan Jurnalistik di Kupang, Jurnalis KatongNTT Jadi Peserta

Fahri Salam (baju merah muda), Pemimpin Redaksi Project Multatuli sedang membagikan materi penulisan jurnalisme narative ke 15 peserta di Kupang (KatongNTT)

Fahri Salam (baju merah muda), Pemimpin Redaksi Project Multatuli sedang membagikan materi penulisan jurnalisme narative ke 15 peserta di Kupang (KatongNTT)

Kupang – Yayasan Pantau, sebuah organisasi yang fokus peningkatan kapasitas jurnalis di Indonesia, membuka kelas jurnalisme narasi di Kota Kupang, Provinsi NTT.

Selama pandemi, pelatihan penulisan ini ditiadakan dan baru dibuka kembali. Tur kelas Jurnalisme Naratif 2022 dimulai di Kupang, 3-7 Oktober 2022. Pelatihan ini diselenggarakan di lima kota.

Rangkaian kelas yang didukung oleh Kedutaan Amerika Serikat di Jakarta ini selanjutnya akan tur ke Semarang, Manado, Palangkaraya, dan Pekanbaru.

“Media memainkan peran penting dalam menyuarakan suara dan pandangan yang termarjinalisasi – dan pelaporan dengan jurnalisme yang baik dapat membentuk opini dan mempengaruhi perilaku dan pengambilan keputusan,” ujar Michael Quinlan, Juru Bicara dan Atase Pers Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta dalam rilisnya.

Kelas yang berlangsung selama lima hari di Kupang dipandu oleh Janet Steele, guru besar di George Washington University dan Fahri Salam, Pemimpin Redaksi Project Multatuli.

Sebanyak 15 peserta dipilih dari beberapa kabupaten dan latar belakang, termasuk jurnalis, aktivis, mahasiswa dari Flores, Timor, Sumba, Alor, Sabu, Lembata, Rote dan Papua.

Jurnalis KatongNTT.com, Ruth Botha menjadi salah satu peserta dalam pelatihan penulisan ini.

Satu peserta lainnya yang terpilih adalah Mariam Lanmay, yang mewakili Komunitas Suara Perempuan (Super) Alor. Komunitasnya fokus mengadvokasi kasus kekerasan seksual pada perempuan dan anak di Alor. Beberapa kali kasus kekerasan tersebut diselidik setelah terendus media.

Baca Juga: Kekerasan Seksual Anak Marak di NTT, Dua Ahli Ini Soroti Degradasi Nilai Kekerabatan

Hal ini membuatnya menyadari media punya ‘kuasa’ untuk menggerakkan pihak-pihak terkait untuk segera menangani kasus yang kerap menimpa masyarakat kecil.

“Terlalu banyak kasus kekerasaan seksual di kabupaten Alor. Sampai orang bingung mau lapor ke mana. Pihak yang berwajib kapan viral di media baru mereka usut. Jadi saya ikut pelatihan ini agar bisa menyuarakan kasus-kasus di Alor lewat media nanti.” pungkas Mariam. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *