Selama puluhan tahun, dominasi beras telah mengubah pola konsumsi pangan masyarakat NTT. Namun kini, perempuan dari desa-desa terpencil memimpin kebangkitan pangan lokal demi kemandirian dan ketahanan di tengah perubahan iklim.
Selain itu, seiring masuknya makanan cepat saji ke pelosok-pelosok desa di NTT seperti mi instan, keripik, dan berbagai jenis jajanan yang mengenyangkan perut namun rendah nutrisi, tanaman pangan lokal semakin tersingkir.
Gerakan masyarakat NTT untuk kembali mengkonsumsi pangan lokal muncul dalam satu dekade terakhir. Perempuan menjadi motor penggerak untuk mengajak masyarakat NTT kembali mengkonsumsi jagung, ubi, kacang-kacangan, sorgum sebagai pengganti nasi. Mereka juga bergerak untuk menggali dan menyelamatkan benih-benih tanaman lokal yang sudah jarang ditanam bahkan hampir punah.
*****
Di lereng Gunung Lewotobi yang belum lama ini erupsi, sekelompok perempuan di Desa Hewa, Flores Timur, merawat harapan dari dalam tanah. Mereka bukan sekadar petani, tetapi penjaga benih lokal yang hampir punah.
Maria Mone Soge,34 tahun memimpin komunitas Wetan Helero bersama delapan ibu-ibu desa dan sejumlah pemuda. Mereka menanam kembali sorgum, jewawut, gandum, hingga kacang kara benguk—kacang hutan yang beracun namun berhasil mereka olah menjadi pangan aman.
“Yang kami jaga bukan cuma tanaman, tapi masa depan kami,” kata Maria.
Baca juga: Kisah Perempuan NTT Bertahan Dari Mahalnya Harga Beras
Dalam pondok beratap alang-alang, mereka menyimpan hasil panen dalam wadah daun lontar. Setiap biji adalah cerita tentang ketahanan, tentang perlawanan terhadap gempuran makanan instan dan budaya konsumtif.
Komunitas ini tumbuh diinisiasi Maria Mone Soge atau Shindy, sapaan akrab Maria. Ia memfasilitasi diskusi warga soal krisis pangan dan perubahan iklim. Hasilnya: aksi nyata untuk menggali, menanam ulang, dan memasarkan pangan lokal lewat festival-festival.
Namun dukungan masih minim. Pemerintah kabupaten sering mengundang mereka ke pameran, tapi belum menyediakan alat, akses pasar, atau modal usaha.
“Kami butuh lebih dari sekadar panggung. Kami butuh keberpihakan nyata,” tegas Maria.
Kepala Dinas Pertanian Flores Timur, Densy Kleden menjelaskan, basis intervensi institusinya adalah kelompok tani atau gabungan kelompok tani (gapoktan). Menurutnya, komunitas ini selalu berinteraksi dengan LSM, Yayasan Kehati Komunitas Wetan Helero belum pernah dia lihat hadir di kantornya atau mengikuti penyuluhan pertanian untuk berkomunikasi atau sekadar berkonsultasi.
“Apakah mereka ini petani yang secara nyata melakukan aktivitas pertanian dan memiliki lahan pertanian, atau sekadar komunitas,” kata Densy melalui pesan Whatsapp kepada KatongNTT.
Baca juga: Agar OVOP Tak Hanya Jadi Slogan
Imroatul Mukhlishoh Mansyur dari Yayasan Kehati menjelaskan, komunitas Wetan Helero merupakan hasil dari kajian partisipatif di mana Shindy mewawancarai warga, memimpin forum diskusi,dan menyampaikann hasilnya ke pemerintah daerah Flores Timur.
“Dari hasil kajian itu, lahirlah komunitas Wetan Helero. Shindy dan teman-temannya mulai merancang rencana aksi iklim, membudidayakan pangan lokal seperti jagung, padi ladang, sorgum, hingga kacang kara benguk yang dikenal beracun namun berhasil mereka olah menjadi pangan layak konsumsi,” kata Imroatul.
Komunitas Wetan Helero juga mendokumentasikan kekayaan hayati pangan lokal di desanya berupa 17 jenis padi ladang, 6 jenis jagung, serta berbagai tanaman lokal lain.
“Ini data yang sangat berarti untuk konservasi dan advokasi kebijakan,” ujar Imroatul.
Kerja keras mengelola kebun bersama dengan menanam berbagai tanaman pangan lokal membuahkan hasil. Saat panen, mereka mengatur hasil panen untuk kebutuhan keluarga dan sisanya untuk dijual. Komunitas Wetan Helero meraih omzet Rp 65 juta pada tahun 2024. Mereka pun membuat kesepakatan bagi hasil dari penjualan berdasarkan kinerja.
Perempuan-perempuan yang tergabung dalam Komunitas Wetan Helero telah menunjukkan hasil dari kemandirian sekalipun dukungan minim dari pemerintah setempat.

Selamatkan 9 Varietas Jagung Lokal
Soal minim dukungan pemerintah juga dialami para petani di Desa Kairane, Kecamatan Amabi Oefeto, Kabupaten Kupang. Organisasi Masyarakat Basis (OBM) Tafena Kuan yang beranggotakan kebanyakan perempuan telah menyelamatkan 9 varietas jagung lokal.
Baca juga: Kemarau Landa NTT, Budidaya Singkong Jadi Pilihan Atasi Krisis Pangan
Odi Nesti Benu atau disapa Mama Odi, merupakan anggota OBM Tafena Kuan yang mendorong para perempuan di Desa Kairane untuk fokus bertanam bibit jagung lokal. Juni lalu, Mama Odi dipilih memimpin Kelompok Tani Wanita yang berada di bawah payung OMB Tafena Kuan. Kelompok tani ini beranggotakan 20 perempuan petani di Desa Kairane.
“Kelompok tani kami perempuan sudah ada Ibu, resmi dibentuk Juni ini,” kata Odi Nesti Benu tertawa.
Perempuan petani ini menjadi penggerak pembudidayaan kembali bibit jagung lokal di Desa Kairane. Bibit jagung lokal ini memiliki kemampuan adaptif terhadap perubahan iklim yang sudah dirasakan para petani di Desa Kairane.
“Bibit jagung ini kami simpan untuk kami tanam lagi tahun depan. Bibitnya bisa disimpan 1 sampai 2 tahun, sonde (tidak-red) rusak,” kata Mama Odi.
Berbeda dengan jagung hibrida, ujarnya, yang tidak bisa disimpan sebagai bibit untuk dibudidayakan. Selain itu, jagung hibrida juga tidak kuat menghadapi perubahan iklim ekstrim di NTT. Mereka memanfaatkan jagung hibrida kebanyakan untuk pakan ternak dan dijual ke pasar untuk menambah penghasilan.
Menurut Mama Odi, kelompok tani wanita ini akan fokus mendorong budidaya bibit lokal dan mengolah berbagai jenis pangan lokal di Desa Kairena menjadi makanan yang bergizi untuk dijual. Dengan begitu akan meningkatkan penghasilan bagi anggota kelompok tani.
Hanya saja kepedulian untuk melestarikan dan membudidayakan bibit jagung lokal yang dilakukan OMB Tafena Kuan kurang mendapat dukungan Pemerintah Desa Kairane. Mama Odi berharap pemerintah ikut mendorong pembubidayaan bibit jagung lokal di Desa Kairane. Kemudian, membantu mereka membuka pasar dari hasil pengolahan jagung lokal dalam bentuk sereal dan susu jagung.
“Belum ada dukungan dari Kades,” kata Mama Odi.
Manager Area Yayasan SHEEP Indonesia cabang Kupang, Rossi Yunior Nugroho, membenarkan pernyataan Mama Odi tentang kurangnya dukungan Pemerintah Desa Kairane.
“Benar, beberapa kali datang tapi kurang peduli. Secara kebijakan memang belum ada,” kata Rossi.
Baca juga: Kemarau Landa NTT, Budidaya Singkong Jadi Pilihan Atasi Krisis Pangan
Yayasan SHEEP Indonesia merupakan lembaga yang mendampingi OMK Tafena Kuan dalam menggali dan membudidayakan bibit tanaman pangan lokal. SHEEP juga mendorong ada kebijakan pemerintah daerah NTT untuk melindungi bibit pangan lokal. Misalnya ada peraturan pemerintah agar setiap desa merawat bibit pangan lokal. Produknya harus cukup untuk dikonsumsi masyarakat baru yang tersisa boleh dijual.
Selain itu, pemerintah daerah NTT tidak membiarkan masyarakat petani yang membentuk UMKM bertarung sendirian di pasar dalam menjual produk pangan lokalnya. “Perlu campur tangan pemerintah,” tegas Rossi.
Kepala Desa Kairane, Alfonsius Tefi mengatakan, tanaman jagung lokal sudah ada sejak dulu dan menjadi tradisi turun temurun.
“Jadi sebelum kelompok tani dibentuk, jagung lokal sudah ada sejak nenek moyang. Pemerintah desa menganggap tidak perlu ada pendampingan, pupuk, cara menanam, karena sudah mendarah daging,” kata Alfonsius.
Dia menjelaskan, masyarakat di Desa Kairena masih menjalankan ladang atau kebun berpindah-pindah (nomaden). Sehingga bantuan pupuk juga tidak diperlukan.
Luas Desa Kairane 2.400 hektar dan seribu hektar di antaranya digunakan untuk keperluan bertanam jagung lokal dan hibrida. Sebanyak 70 hektar sebagai lahan sawah untuk menanam padi. Adapun jumlah penduduk Desa Kairane hingga Juli 2025 sebanyak 658 orang.
Seperti Maria di Flores Timur dan Mama Odi di Kupang, perempuan-perempuan di Kabupaten Timor Tengah Selatan juga bergerak dengan cara mereka sendiri __ mengorganisasi kelompok tani, mendata, dan melindungi bibit tanaman panan lokal yang kian langka. Perempuan-perempuan di TTS membuat Kebun Belajar untuk Masyarakat dan Kebun Dapur.

Baca juga: Ribuan Kasus Kekerasan Menimpa Perempuan di NTT, Mengapa?
Menurut Alfons Seran dari CIFOR – ICRAF, peran perempuan sangat penting dalam mengelola ketahanan pangan dan pengelolaan sumber daya alam untuk pangan lokal di TTS. Program Kebun Belajar untuk Masyarakat dan Kebun Dapur untuk mengajak istri, suami, dan ana-anak mengenali tanaman pangan lokal, memahami dampak perubahan iklim, dan mengakses berbagai tanaman pangan lokal tanpa harus mengeluarkan biaya.
“Kami mengarahkan masyarakat mengembangkan pangan lokal karena sudah ada secara turun temurun, walaupun kondisi iklim berubah,” kata Alfons.
Perempuan Petani Melawan Stigmatisasi
Setelah melewati Bandara internasional El Tari Kupang dan Lapangan Golf Baumata, jurnalis KatongNTT menyusuri jalanan tak beraspal dan berlubang-lubang sejauh 2 kilometer. Di sisi kanan dan kiri jalan berupa lahan berkebun warga sekitar. Aneka ragam tanaman pangan hortikultura ditanam di lahan itu seperti jagung, ubi, kacang dan sayur sayuran.
Seorang pria setengah baya ditemani dua remaja perempuan sedang membersihkan kebun. Nama pria itu, Markus Banu dan dua remaja itu adalah anak-anaknya. Satu keluarga ini mengolah lahan Kelompok Tani Noepes Taebenu seluas 1 hektar.
Istrinya, Yuliana Henuk pada Jumat sore di akhir Juli sedang membuat lubang untuk menanam bibit sayuran dan buah. Yuliana bersama suami dan anak-anaknya telah sepakat untuk membagi waktu kerja di lahan kebun mereka.
Dia sekeluarga menyukai tanaman pangan lokal, termasuk anak-anaknya meski makanan instan menggoda mereka.
Menurut Yuliana, nutrisi dalam tanaman pangan lokal jauh lebih bagus daripada makanan siap saji. Dia juga menepis stigma bahwa orang yang makan pangan lokal sebagai orang miskin dan tidak modern. Makanan pangan lokal ini merupakan makanan cadangan ketika tidak ada nasi.
Baca juga: Perempuan NTT dalam Lingkaran Kemiskinan Panjang dan Tradisi yang Membebani
“Ketika nasi tidak ada atau habis kami bisa makan jagung dan ubi, makan ini lebih sehat. Kalau dong (mereka-red) omong bilangkKatong (kami-red) makan ini sebagai orang miskin dong pikir dong makan itu hasil dari katong yang petani ini tanam dan jual,” kata Mama Yuli tertawa.
Langkah kecil para perempuan ini menginspirasi gerakan akar rumput yang bisa ditiru daerah lain. Mereka tak hanya menjaga benih, tapi juga harapan akan kemandirian pangan dari tanah sendiri. Yang mereka butuhkan kini adalah ekosistem kebijakan yang berpihak, akses pasar yang adil, dan pengakuan setara dalam sistem pertanian nasional. (YOHANES FANDI/RIANDI KORE)
Artikel ini merupakan bagian dari serial liputan kolaborasi #PerempuanRawatBumi bersama media anggota Women News Network (WNN), didukung oleh International Media Support (IMS). Informasi soal WNN bisa diakses di https://womennewsnetwork.id




