Larantuka – Para peziarah memadati lokasi prosesi Semana Santa di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga Jumat (29/3/2024) dini hari. Tradisi
religi sejak 500 tahun lalu ini menarik perhatian ribuan umat Katolik dari berbagai daerah hingga luar negeri.
“Diberikan kesempatan bagi umat untuk membawa keluh kesah dan ujud niat rasa syukur kepada Tuhan untuk satu tahun yang telah diberikan,” kata Raja Larantuka Don DVG.
Baca : Tragedi Montara Masalah Bangsa, Jadi Pembelajaran dan Solusi Pencemaran
Sejak Minggu daun-daun (palma), sejumlah peziarah dari dalam dan luar negeri sudah berdatangan ke Larantuka. Kota kecil yang dikenal dengan sebutan Reinha Rosari itu tidak seperti biasanya karena terlihat ramai. Bahkan, sejumlah penginapan di kota itu justru sudah penuh oleh para pengujung yang akan mengikuti prosesi Semana Santa itu.
Semana Santa adalah prosesi prapaskah yang didahului masa puasa atau pekan-pekan suci. Tradisi keagamaan itu warisan Portugis yang menyebarkan agama Katolik dan berdagang komoditas pertanian. Prosesi Jumat Agung merupakan puncak dari Semana Santa yang diawali dari perayaan Rabu Trewa.
Seperti dilansir Antara, Devosi cium Tuan Ma atau patung Bunda Maria telah dimulai pada Kamis (28/3/2024) pukul 11.00 WITA sejak pintu Kapela Tuan Ma dibuka oleh Raja Don DVG. Setelah pintu kapela terbuka, para peziarah pun menjalankan devosi itu hingga pukul 17.00 WITA. Devosi sempat terhenti karena misa Kamis Putih, namun dilanjutkan lagi pada pukul 21.30 WITA setelah misa.
Pantauan di Kapela Tuan Ma dan Tuan Ana, Larantuka hingga pukul 04.45 WITA, para peziarah masih mengantre dan terlihat memadati dua kapela tersebut.
Baca : Kisah Perempuan NTT Bertahan Dari Mahalnya Harga Beras
Seorang peziarah asal Maumere, Kabupaten Sikka, Tita (32) terlihat ikut mengantre dengan peziarah lain untuk mencium Tuan Ana dan Tuan Ma. Ia bersama tiga saudarinya sudah mengantre sejak pukul 11.00 WITA untuk mengikuti tradisi itu. Sebagai peziarah yang baru pertama kali mengikuti prosesi Semana Santa, ia tertarik dengan cerita-cerita yang ia dengar tentang prosesi itu. Dia memberanikan diri mengikuti prosesi dengan membawa ujud dan intensi khusus.
Peziarah lain, Birgita (60) yang datang dari Kabupaten Manggarai juga tertarik untuk mengikuti prosesi Semana Santa 2024. Dirinya pernah mengikuti prosesi serupa pada tahun 2010, namun tetap memiliki kerinduan yang sama untuk hadir lagi di Kota Larantuka.
Birgita pun menjadikan momentum Semana Santa ini sebagai “bale nagi” atau pulang ke kampung halaman karena ia berasal dari Pulau Solor.
“Saya selalu menantikan momentum ini,” ucapnya.
Baca : Kemarau Landa NTT, Budidaya Singkong Jadi Pilihan Atasi Krisis Pangan
Semana Santa adalah sebuah tradisi ritual perayaan selama pekan suci Paskah. Mencium Tuan Ma dan Tuan Ana merupakan dua hal yang masuk dalam bagian prosesi Semana Santa dan selalu menjadi devosi yang paling diminati oleh peziarah. Adapun jumlah peziarah hingga dua hari lalu diperkirakan sudah mencapai 5.000 orang. [Anto]




