• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Kamis, Juli 2, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Sorotan

Prabowo Dirikan Sekolah Berasrama untuk Memutus Rantai Kemiskinan

Program Sekolah Berasrama menargetkan pembangunan minimal 100 sekolah berasrama setiap tahun.

Tim Redaksi by Tim Redaksi
1 tahun ago
in Sorotan
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Andika Rivaldo Bonat (berdiri) siswa kelar 7 SMPN 5 Amabi Oefeto Kabupaten Kupang Provinsi NTT mengeluhkan kondisi sekolahnya ( Ruth - KatongNTT.com))

Andika Rivaldo Bonat (berdiri) siswa kelar 7 SMPN 5 Amabi Oefeto Kabupaten Kupang Provinsi NTT mengeluhkan kondisi sekolahnya ( Ruth - KatongNTT.com))

0
SHARES
40
VIEWS

Kupang – Presiden Prabowo Subianto berupaya memutus rantai kemiskinan melalui program pendidikan berasrama. Program ini ditujukan khusus bagi anak-anak dari keluarga paling tidak mampu.

Kepala negara menyebut program sekolah berasrama mulai bergulir pada Juli 2025 dengan peluncuran sekitar 53 hingga 55 sekolah berasrama perdana di seluruh Indonesia.

BacaJuga

Erik Saka, anak Frans Xaver Saka dan istrinya Clotilde Min Mesak menuangkan angur kolesom saat sembahyang Imlek di rumah mereka di Weluli, Kabupaten Belu, NTT. (Yanti Mesak/KatongNTT)

Tradisi Sembahyang Imlek di Weluli

3 Maret 2026
Jalan rusak parah di Desa Natarmage, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, NTT (Yohanes Fandi/KatongNTT)

Antara Jalan Rusak, Gagal Panen, Obat Kosong dan Semarak Kemerdekaan

18 Agustus 2025

Baca juga: Perempuan NTT dalam Lingkaran Kemiskinan Panjang dan Tradisi yang Membebani

“Biasanya di setiap negara, sekolah berasrama itu untuk anak-anak terpintar, dan itu tetap kita jalankan. Tapi yang ini khusus untuk keluarga yang benar-benar tidak mampu,” kata Presiden Prabowo dalam Halal Bihalal bersama Purnawirawan TNI-Polri di Balai Kartini, Jakarta,Selatan, 6 Mei 2025, seperti dikutip dari Antara.

Program ini menargetkan pembangunan minimal 100 sekolah berasrama setiap tahun. Presiden juga menekankan pentingnya keberanian untuk memutus mata rantai kemiskinan.

“Kalau bapaknya pemulung, anaknya tidak boleh jadi pemulung. Kalau bapaknya tukang becak, anaknya tidak perlu jadi tukang becak. Kita harus berani dulu, baru benar, lalu berhasil,” ujarnya.

Menurut Presiden Prabowo, proses seleksi murid sudah dimulai dengan kriteria ketat, bekerja sama dengan Kementerian Sosial, Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, dan Badan Pusat Statistik untuk memastikan calon peserta benar-benar berasal dari keluarga miskin.

Dalam acara itu ditayangkan gambar Naila, anak dari keluarga dengan penghasilan kurang dari Rp1 juta per bulan dan tanggungan lima orang anggota keluarga.

Baca juga: Edisi Perempuan NTT: Potret Buram Kemiskinan, Para Perempuan Kehilangan Anaknya

“Jadi ini, kalau anda perhatikan, ini profil calon yang akan masuk jadi peserta didik, namanya Naila. Orang tuanya penghasilannya kurang dari 1 juta, padahal jumlah tanggungannya ada lima orang,” kata Presiden Prabowo.

Dalam tayangan itu ditampilkan sejumlah anak usia pelajar yang berpose pada bangunan rumah yang semi permanen di lingkungan yang kumuh.

Data resmi BPS menyebutkan tingkat kemiskinan Indonesia per September 2024 sebesar 8,57 persen atau sekitar 24,06 juta jiwa. Data berbeda dikeluarkan Bank Dunia melalui Macro Poverty Outlook  pada awal April 2025 . Bank Dunia menyebutkan bahwa lebih dari 60,3 persen penduduk Indonesia atau setara dengan 171,8 juta jiwa hidup di bawah garis kemiskinan pada tahun 2024. [*]

 

Tags: #BPS#katongntt#miskin#PresidenPrabowo#SekolahBerasrama
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Erik Saka, anak Frans Xaver Saka dan istrinya Clotilde Min Mesak menuangkan angur kolesom saat sembahyang Imlek di rumah mereka di Weluli, Kabupaten Belu, NTT. (Yanti Mesak/KatongNTT)

Tradisi Sembahyang Imlek di Weluli

by Yanti Mesak
3 Maret 2026
0

Untuk menyambut Tahun Baru Imlek 2577 yang dimulai pada 17 Februari 2026 dan berakhir pada 3 Maret 2026, keluarga Frans...

Jalan rusak parah di Desa Natarmage, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, NTT (Yohanes Fandi/KatongNTT)

Antara Jalan Rusak, Gagal Panen, Obat Kosong dan Semarak Kemerdekaan

by Difan Fandi
18 Agustus 2025
0

Desa Natarmage - Pagi itu, saya berangkat dari Desa Pruda menuju Natarmage, Kecamatan Waiblama, untuk mengikuti perayaan HUT RI ke-80...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati