Kupang – Gelombang tinggi selama sepekan terakhir meluluhlantakkan rumput laut milik para nelayan di Desa Tablolong, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang. Sedikitnya 58 nelayan budidaya rumput laut mengalami kerugian puluhan juta dan kehilangan mata pencarian.
“Semua rumput laut hancur diterjang ombak yang tingginya mencapai 5 meter. Rumput laut lepas dari talinya. Sampan fiber saya juga rusak diterjang ombak,” kata Daniel Doan, nelayan rumput laut kepada KatongNTT, Jumat, 7 Februari 2025.
Baca juga: Nelayan Temukan Limbah Aspal di Laut hingga Pantai Tablolong
Daniel kemudian merinci ada 40 tali untuk mengikat rumput lalu yang terlepas dibawa arus deras air laut. Tali-tali pengikat rumput laut juga terputus. Padahal Daniel sudah bersiap untuk panen rumput laut pada 6 Februari.
Pria yang sudah 24 tahun bekerja sebagai nelayan budidaya rumput lalut mengalami kerugian sekitar Rp 20 juta. Kerugian ini termasuk kerusakan sampan fiber yang dulu dia beli seharga Rp 5 juta.
Menurut Daniel, ada sekitar 60 nelayan budidaya rumput laut di Desa Tablolong. Semuanya terkena dampak dari gelombang tinggi di Laut Timor. Hanya saja nilai kerugian mereka berbeda-beda.
“Ada yang 70 tali hancur semua,” ujar Daniel.
Perempuan nelayan rumput laut di desa Tablolong, Helda juga kehilangan sumber mata pencariannya. Gelombang tinggi Laut Timor menghancurkan 30 tali rumput laut miliknya.
“Rusak semua, 30 tali rumput laut saya rusak,” kata Helda kecewa.
Helda beruntung sampan miliknya selamat dari terjangan gelombang Laut Timor.

Baca juga: Nelayan Minta Pemerintah Ungkap Limbah Hitam di Pantai Tablolong
Helda sudah 25 tahun menjadi nelayan budidaya rumput laut di Tablolong. Ini kedua kalinya dia mengalami kekecewaan karena rumput lautnya hancur terkena gelombang air. Peristiwa pertama terjadi pada saat badai Seroja menerjang NTT pada 4 April 2021. Dan, kedua terjadi pada awal Februari 2025.
Gelombang laut seganas ini menurut Daniel merupakan pertama kali terjadi dalam 24 tahun terakhir. Gelombang laut tahun 2001 telah meluluhlantakkan rumput laut nelayan Tablolong. Di tahun itu, nelayan untuk pertama kali membudidayakan rumput laut sebagai sumber mata pencarian.
Daniel dan puluhan nelayan rumput laut di Tablolong kini kehilangan mata pencarian. Mereka yang juga nelayan tangkap tidak bisa melaut untuk mencari ikan karena cuaca buruk.
Mencegah kapalnya rusak, Daniel pun memutuskan menarik kapal ikannya ke darat pada 5 Februari lalu.
“Saya tarik kapal ke darat. Nelayan lain ada yang simpan kapalnya di Pulau Semau,” ujarnya.
Dinas Sosial Kabupaten Kupang sejak 4 Februari lalu membantu keluarga nelayan yang terdampak gelombang laut dan hujan deras. Dinas Sosial menyediakan nasi bungkus untuk setiap orang sebanyak 3 kali perhari. Tenda-tenda pengungsi juga didirikan di lokasi aman dekat kantor Desa Tablolong.
“Kami mendapat satu bungkus nasi dengan lauk pauk waktu sarapan, makan siang, dan makan malam.” ujar Daniel.
Bantuan lainnya, menurut dia, belum ada.
Baca juga: Nelayan Pesisir NTT Diabaikan, Dari Kekurangan Infrastruktur Hingga Kriminalisasi
Kehidupan nelayan rumpun laut Desa Tablolong memprihatinkan. Dalam kurun waktu lima tahun, rumput laut mereka rusak sehingga panen gagal.
Daniel menjelaskan sedikitnya tiga peristiwa yang merusak rumput laut miliknya dalam 5 tahun terakhir. Pertama, saat Badai Seroja pada 4 April 202. Kemudian temuan limbah hitam di permukaan Laut Timor yang merusak botol-botol bibit rumput laut pada akhir Desember 2024. Dan sepekan terakhir geliombang tinggi menghancurkan rumput lautnya.
Daniel berharap pemerintah Kabupaten Kupang memberikan bantuan kepada para warga Tablolong yang terkena dampak gelombang tinggi Laut Timor. Nelayan, ujarnya, butuh bantuan bibit rumput laut untuk dibudidayakan lagi.
“Dinas Kelautan dan Perikanan belum pernah membantu kami. Hanya di masa Bupati Ibrahim Meda tahun 2001 kami diberi bibit rumput laut. Lantamal 7 TNI AL memberikan tali 5 rol atau 15 kilogram,” ujar Daniel.
Ketua Badan Pemusyawaratan Desa Tablolong, Zakarias Doroh mengatakan, dirinya segera mendata jumlah nelayan rumput laut yang terdampak gelombang tinggi awal Februari ini.
“Kami perlu data supaya jelas. Karena bisa jadi mereka nelayan tangkap dan juga budidaya rumput laut,” kata Zakarias kepada KatongNTT melalui telepon, Jumat, 7 Februari 2025.
Dia juga meminta pemerintah jeli dalam memberikan bantuan kepada para nelayan yang terdampak gelombang tinggi agar tepat sasaran.
“Jangan terulang lagi seperti sebelumnya, di mana yang tidak layak mendapat bantuan,” ujarnya.
Dia mengaku kecewa karena pemerintah tidak memperhatikan nelayan Tablolong selama ini.
Zakarias yang juga Ketua Himpunan Nelayan Kabupaten Kupang mengusulkan pemerintah duduk bersama para nelayan dan perangkat desa untuk mendiskusikan tentang bibit rumput laut untuk dibudidayakan nelayan. [*]




