• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Rabu, Mei 13, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Bisnis Agribisnis

OJK Latih Perangkat Desa di Timor, Rote, Sabu Soal Literasi Keuangan Selama 5 Hari, Apa Capaiannya?

Rita Hasugian by Rita Hasugian
3 tahun ago
in Agribisnis
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Pembukaan Training of Trainers Literasi Keuangan OJK NTT yang diikuti perangkat desa dari Pulau Timor, Rote, dan Sabu di aula pertemuan OJK, Kota Kupang, Senin, 19 Juni 2023. (Rita Hasugian-KatongNTT.com)

Pembukaan Training of Trainers Literasi Keuangan OJK NTT yang diikuti perangkat desa dari Pulau Timor, Rote, dan Sabu di aula pertemuan OJK, Kota Kupang, Senin, 19 Juni 2023. (Rita Hasugian-KatongNTT.com)

0
SHARES
21
VIEWS

Kupang – Literasi keuangan dan inklusi keuangan mungkin belum mudah dipahami masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Alhasil tak mudah untuk menjelaskan apa manfaat keduanya dalam keseharian mereka.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTT, Japarmen Manalu membuat ilustrasi tentang beda keduanya saat memberikan sambutan pembukaan Training of Trainers Perangkat Desa di Pulau Timor, Rote Ndao, dan Sabu Raijua pada Senin, 19 Juni 2023.

BacaJuga

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

12 September 2024
Petani rumput laut di NTT meradang pasca terbitnya pergub yang melarang pengiriman ke luar daerah (Joe-KatongNTT)

NTT Belum Ekspor Rumput Laut Tahun Ini

30 Mei 2024

“Saya beli hp langsung pakai. Padahal orang sudah membuat panduan berlembar-lembar (biasanya kertas panduan tersedia di dalam kotak hp), tapi kita langsung pakai. Kalau mentok baru telepon teman minta bantuan. Pokoknya pakai dulu, soal nanti ada masalah, tanya teman,” kata Japarmen tersenyum.

Para peserta yang sebagian besar kepala desa tertawa mendengarkan ilustrasi Japarmen.

Dia menjelaskan, literasi keuangan itu bermakna pemahaman dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan jasa  keuangan untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Baca juga: OJK dan Jalan Panjang Wujudkan Hak Kekayaan Intelektual Jadi Jaminan Kredit Bank

Adapun arti inklusi keuangan menurut peraturan OJK Nomor 76/POJK.07/2016 adalah ketersediaan akses akan berbagai lembaga, produk, dan layanan jasa keuangan formal sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Semestinya, kata Japarmen, literasi keuangan masyarakat lebih dulu baik untuk kemudian melakukan inklusi keuangan. Karena kebiasaan yang keliru ini, tak heran kerap terjadi masalah dalam mengakses produk atau layanan lembaga keuangan.

Tapi kebiasaan ini tidak hanya ditemukan di NTT, tapi di berbagai daerah. Setidaknya hal itu tercermin dari hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2022. Survei terhadap 14.634 responden dari 76 kabupaten/kota di 34 provinsi menyebutkan angka 49,68 persen untuk tingkat literasi keuangan. Sedangkan skor inklusi keuangan 85,10 persen.

Sedangkan berdasarkan survei literasi dan inklusi keuangan untuk NTT, hasilnya 51,95 persen untuk literasi keuangan dan 85,9 persen untuk inklusi keuangan.

Hasil SNLIK 2022 menunjukkan ada gap 49,68 persen antara literasi keuangan dan inklusi keuangan. Begitu juga NTT, terjadi gap sebesar 34,02 persen dari hasil survei tersebut.

Kesimpulan dari survei ini adalah dari sekitar 280 juta warga Indonesia, sekitar 238 juta orang sudah menggunakan produk atau layanan keuangan. Namun belum memiliki pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan yang utuh mengenai produk dan layanan yang digunakan.

Begitu juga di NTT, 85 persen dari sekitar 5 juta penduduknya atau sekitar 4,2 juta penduduknya sudah menggunakan produk atau layanan keuangan. Namun sebagian besar belum memiliki tingkat literasi keuangan yang baik.

Kepala OJK NTT, Japarmen Manalu memberikan sambutan pada pembukaan Training of Trainers Literasi Keuangan yang diikuti puluhan perangkat desa dari Pulau Timor, Rote, dan Sabu di aula pertemuan kantor OJK NTT, Kota Kupang, Senin, 19 Juni 2023. (Rita Hasugian - KatongNTT.com)
Kepala OJK NTT, Japarmen Manalu memberikan sambutan pada pembukaan Training of Trainers Literasi Keuangan yang diikuti puluhan perangkat desa dari Pulau Timor, Rote, dan Sabu di aula  kantor OJK NTT, Kota Kupang, Senin, 19 Juni 2023. (Rita Hasugian – KatongNTT.com)

Baca juga: OJK Buat Aplikasi iBPR-S, Ini Manfaatnya bagi Pelaku Usaha

Khusus untuk NTT, rendahnya literasi keuangan ini ditimpali dengan 3 masalah besar yakni kemiskinan, stunting, dan tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Sehingga OJK, kata Japarmen didukung Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa NTT mengadakan training of trainers untuk perangkat desa di tiga pulau yakni Pulau Timor, Rote Ndau dan Sabu Raijua.

Kadis Pemberdayaan Masyarakat dan Desa NTT, Viktor Manek menjelaskan, persoalan mendasar tentang literasi keuangan adalah sumber daya manusia.

“Semua punya hp, malah hp kepala desa canggih, tapi belum memanfaatkan ini untuk literasi. Padahal banyak potensi di daerah yang dapat dipromosi hingga dipasarkan melalui pemahaman literasi keuangan,” kata Viktor dalam acara pembukaan Training of Trainers di aula pertemuan OJK NTT, Kota Kupang, Senin, 19 Juni 2023.

Viktor mengimbau perangkat desa sebagai peserta untuk sungguh-sungguh mengikuti pelatihan literasi keuangan selama 5 hari, 19-23 Juni 2023. Setelah itu mereka harus membagikan pengetahuan dan  ketrampilan dari pelatihan ini ke masyarakat di desa mereka.

Masalah lainnya, kata Viktor, adalah sulitnya pasar bagi masyarakat untuk menjual komoditi mereka dan posisi tawar mereka yang lemah berhadapan dengan ijon dan off taker. Sehingga masyarakat desa yang nanti memiliki pengetahuan tentang literasi keuangan, akan dengan sendirinya mampu meningkatkan posisi tawar mereka.

John Pelondo, Kepala Desa Semau Selatan menuturkan, pelatihan yang dia ikuti hingga hari kedua telah memberikan manfaat baginya. Terutama dia semakin mengenali apa yang dimaksud dengan literasi keuangan.

“Menyenangkan. Tentu ada manfaat. Senang juga bisa belajar bersama. Dari yang sonde tahu akhirnya lewat pelatihan ini bisa tahu,” kata John kepada KatongNTT.com, Rabu malam, 20 Juni 2023.

Baca juga: Kemenkeu Dorong UMKM, Perbankan di NTT Masih Prioritas Kredit Konsumtif

John tidak merinci manfaat yang konkrit dia dapatkan dari pelatihan tersebut, namun dia memastikan pengetahuannya bertambah tentang literasi keuangan.

Setelah pelatihan literasi keuangan ini, kata Japarmen, pihaknya akan mengadakan pertemuan dengan Asosiasi Pengusaha Indonesia, (Apindo NTT), Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia, dan Kadin NTT. Sehingga langkah OJK memberikan pemahaman tentang literasi keuangan dan inklusi keuangan kepada perangkat desa didukung ketiga organisasi ini.

Japarmen berharap terjadi sinergi kerja antara Apindo dan Kadin NTT sehingga masyarakat desa dapat memasarkan produknya dan bersaing dengan sehat. Mereka terbebas dari ijon dan permainan harga oleh off taker yang sulit dikendalikan. Ini bisa diatasi oleh perangkat desa yang memahami literasi keuangan dan membagikan keterampilan itu kepada masyarakat di desanya.

“Saya imbau Apindo dan Kadin, janganlah terlalu mengorbankan masyarakat. Margin keuntungan jangan terlalu besar, sehingga susah pemasaran dan bersaing. Lebih bagus sedikit (margin keuntungan-Red) tapi jalan terus . Karena jika ada prospek di desa, maka tidak akan ada lagi korban TPPO,” kata Japarmen. (Rita Hasugian)

Tags: #ApindoNTT#DinasPemberdayaanMasyarakatdanDesa#Ijon#Inklusikeuangan#JaparmenManalu#KADINNTT#Literasikeuangan#OJKNTT#PulauTimor#Rote#Sabu
Rita Hasugian

Rita Hasugian

Baca Juga

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

by Rita Hasugian
12 September 2024
0

Boleh jadi kita tidak pernah terlintas cari tahu tentang jenis jagung yang kita konsumsi, apakah berasal dari bibit jagung lokal...

Petani rumput laut di NTT meradang pasca terbitnya pergub yang melarang pengiriman ke luar daerah (Joe-KatongNTT)

NTT Belum Ekspor Rumput Laut Tahun Ini

by Tim Redaksi
30 Mei 2024
0

Ekspor rumput laut NTT ini memang minim sejak ekspor perdana pada 2019 lalu sebesar 25 ton Alkali Treated Cottonii (ATC)...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati