Kupang – Kasus rabies di Nusa Tenggara Timur (NTT) bertambah. Pemerintah Provinsi NTT pun meminta vaksin dan serum anti rabies ke Kementrian Kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan, Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dinkesdukcapil) NTT, Ruth Laiskodat, menyampaikan ini Jumat 23 Juni 2023.
Baca juga: Pengadaan Vaksin Rabies di NTT Masih Bukan Prioritas
Permohonan Pemprov NTT ini sebanyak 25 ribu vial vaksin anti rabies (VAR) dan 550 vial serum anti rabies (SAR) agar stoknya di NTT tetap ada.
“Kita juga meminta pamflet, leaflet, dan media edukasi lainnya,” ujar Ruth dalam jumpa pers di Kantor Gubernur NTT.
Ruth menyebut stok saat ini tersisa 14.566 vial VAR dan 10 vial SAR. Hingga 18 Juni 2023 lalu sudah 25 ribu vial VAR yang dikeluarkan.
Baca juga: Bahaya Rabies, Ikuti Langkah Ini Untuk Mencegah Terinfeksi
“Lebih banyak diberikan saat ini ke Timor Tengah Selatan (TTS),” kata dia.
Kabupaten yang berbatasan dengan TTS, seperti Malaka, Timor Tengah Utara (TTU), Kabupaten Kupang, termasuk Kota Kupang mendapat stok VAR di layanan kesehatan termasuk rumah sakit.
“Walaupun Kota Kupang belum ditemukan kasus rabies tapi masyarakat yang tercakar atau tergigit kita anjurkan ke rumah sakit kota,” ungkapnya.
Baca juga : Pemda TTS Ancam Pidana Pemilik Hewan Penular Rabies
Menurut Ruth sudah 515 orang di TTS yang diserang anjing. 460 orang di antaranya yang mendapatkan VAR. Sisanya diberikan suntikan SAR. Dari 515 orang korban itu pun 448 orang di antaranya belum memiliki gejala rabies.
“Ada 4 orang dengan gejala khas rabies,” kata Ruth.****




