Kupang – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat 10 kasus kematian warganya akibat rabies sejak Januari – 22 Juni 2023.
Kepala Dinas Kesehatan, Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dinkesdukcapil) NTT, Ruth Laiskodat, menyampaikan ini, Jumat 23 Juni 2023.
10 kasus kematian akibat rabies di NTT ini yaitu 2 orang di Kabupaten Manggarai Timur, 2 orang di Ende, 2 orang di Manggarai, 3 orang di TTS dan Sikka 1 orang.
Baca juga: 2 Balita Tewas, Rabies Merajalela di TTS
Hingga 22 Juni 2023 ini pun korban gigitan anjing di NTT mencapai 5.940 orang. Sudah 4.998 korban yang diberikan vaksin anti rabies (VAR). Sisanya mendapatkan serum anti rabies (SAR).
“TTS yang tertinggi korban meninggal,” sebut Ruth dalam jumpa pers di Kantor Gubernur NTT.
Ruth menyampaikan warga yang diserang anjing harus segera mendapatkan penanganan di layanan kesehatan. Dokter juga akan mendiagnosa dan memberi obat yang sesuai.
Baca juga : Pemda TTS Ancam Pidana Pemilik Hewan Penular Rabies
“Pasien tidak boleh dibiarkan lama di rumah karena harus dibawa ke puskesmas terdekat supaya diamati dan mendapat pengobatan,” tegas dia.
Bila pasien demam maka akan diberikan obat demam dan juga vitamin. Bila luka terbuka maka akan dijahit dan diobati dengan antibiotik agar luka cepat kering. Penanganan terhadap pasien rabies juga menggunakan VAR atau SAR.
“Bobot berat badan anak atau dewasa akan diukur lalu diberikan SAR atau VAR,” tambah Ruth lagi.
Baca juga: Nihil Anggaran, Vaksin Rabies di NTT Kosong Saat Kasus Meningkat
Untuk VAR pertama kali diberikan 2 dosis. Kemudian diberikan lagi pada hari ke-7, lalu hari ke-21 dan hari ke-28.
“Kita berharap tidak ada kematian lagi karena usaha maksimal sudah kita lakukan di pusat layanan kesehatan,” ungkap Ruth.
Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, juga telah menyampaikan permintaan VAR dan SAR kepada Menteri Kesehatan.
Ruth menyebut 28 provinsi membutuhkan vaksin ini juga. Untuk NTT sendiri ada 9 kabupaten yang membutuhkan VAR dan SAR.****




