Kupang – Indonesia memiliki 6 provinsi penghasil ternak terbanyak termasuk NTT di urutan keempat. Sekalipun begitu NTT memiliki tantangan besar soal ketersediaan pakan, air, infrastruktur kesehatan hewan hingga minimnya implementasi peternakan modern.
Berbagai hal itu menjadi tantangan peternakan di NTT menurut Kepala Balai Karantina Pertanian (BKP) Kupang, Yulius Umbu Hunggar, menyatakan ini saat diwawancarai, Senin 31 Juni 2023.
Baca juga : Pendapatan Petani di NTT Terbesar dari Peternakan dan Perikanan
Sistem peternakan di NTT saat ini sangat tradisional, kata Yulius, dan sifatnya ekstensifikasi yang minim adopsi teknologi. Modernisasi peternakan sendiri diperlukan bertujuan meningkatkan produksi dan efisiensi usaha.
Menurutnya, masih di Sumba Timur yang terlihat memiliki fasilitas modern untuk peternakan sapi seperti di PT Asiabeef Biofarma Indonesia. Peternakan modern pun terkait dengan manajemen bisnis yang tertata dengan mempertahankan bibit unggul.
“Misalnya dengan penerapan inseminasi buatan hingga teknologi transfer embrio. Perlu didukung dengan ketersediaan pakan dan air yang memadai,” lanjut Yulius.
Baca juga : Pabrik Pakan Ternak di NTT Belum Terwujud, Terkendala Produksi TJPS
Sentra Peternakan Rakyat (SPR) di NTT pun perlu memiliki kawasan tertentu sebagai media pembangunan peternakan dan kesehatan hewan. Untuk SPR yang tidak bisa melengkapi fasilitas ini maka pemerintah daerah perlu menyediakan embung hingga padang pengembalaan ternak.
“Tapi ya tadi modernisasinya belum diterapkan dan ini yang perlu didorong untuk diubah orientasinya dari yang tradisional menjadi lebih modern,” lanjut Yulius.
Saat ini pabrik pakan juga direncanakan dibangun oleh Pemerintah Provinsi NTT namun belum kelihatan progresnya.
Baca juga : NTT Didorong Tingkatkan Produktivitas Singkong Guna Antisipasi Rawan Pangan
Rencana baik tersebut, kata dia, diperlukan sehingga NTT mandiri pakan. Namun sektor pertanian harus menjadi penunjang ketersediaan bahan baku jagung hingga dedak bagi adanya pabrik pakan ini.
Produksi pakan dalam daerah akan memicu harga pakan yang akan lebih murah ketimbang pakan diambil dari luar NTT.
“Sehingga perlu terintergrasi dan tersedia di lokal karena kalau 80 persen diambil dari luar maka tentunya akan mahal di sini,” ungkap dia.
Baca juga : Australia Bantu NTT Alat Canggih Mampu Mendeteksi 82 Virus Pada Ternak
Laboratorium sebagai infrastruktur diagnosa cepat juga diperlukan di NTT untuk mendeteksi penyakit ternak. Saat ini laboratorium yang digunakan lebih banyak ada di Surabaya dan Bali sehingga tidak efektif waktu dan anggaran.
Balai Karantina Pertanian sekarang ini telah berganti nomenklatur menjadi Balai Karantina Indonesia atau langsung di bawah presiden. Demikian maka NTT perlu memiliki infrastruktur ini.
“Seperti laboratorium untuk pengujian rabies yang belum kita miliki dan penyakit yang belum ada di NTT,” kata Yulius. ****




