Lebanon – Sebagai negara kepulauan, Indonesia menjadi salah satu negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim.
NTT merupakan salah satu provinsi yang dikelilingi wilayah pesisir dan paling terdampak dari perubahan iklim.
Untuk itu, keterlibatan anak muda menjadi sangat penting untuk menyebarluaskan penyadartahuan mengenai mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim ini.
Lima anak muda perwakilan koalisi VCA (Voices for Just Climate Action) Indonesia terpilih untuk mengikuti Climate Justice Camp 2023 di Lebanon yang berlangsung pada 28 Agustus hingga 2 September 2023.
Kegiatan ini mempertemukan 450 pemimpin muda dari hampir 100 negara.
Guna mengembangkan strategi dan tuntutan bagi para pengambil keputusan, supaya menempatkan keadilan iklim sebagai inti kebijakan.
Baca Juga: Perempuan NTT Dalam Bayang-bayang Bencana Ekologis
Dalam kegiatan ini, peserta diberikan peningkatan kapasitas yang dikemas dalam lokakarya interaktif mengenai topik loss and damage. Lalu terkait adaptasi iklim, polusi plastik, dan deforestasi.
Serta penghapusan bahan bakar fosil, dan mendapatkan cerita inspiratif mengenai perjuangan aktivisme anak muda dari negara lain dalam sesi human LIVErary.
kelima perwakilan Aliansi VCA Indonesia ini menyelenggarakan sesi workshop mengenai praktik baik mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim yang sudah dilakukan di NTT.
Terkhususnya saat badai tropis seroja yang menerjang sejumlah wilayah NTT pada 2021 sebagai dampak dari perubahan iklim.

Maria B. Tukan, salah satu perwakilan dari NTT menyampaikan, “Sesi berbagi mengenai praktik baik di NTT tersebut mendapat respon positif. Khususnya dari peserta Asia-Pasifik yang mayoritas memiliki isu yang sama sebagai wilayah kepulauan,”.
Kegiatan yang berlangsung selama enam hari ini selain menjadi wadah pembekalan, tentunya jadi ajang berjejaring dan membangun solidaritas secara internasional.
Baca Juga: Kemarau Landa NTT, Budidaya Singkong Jadi Pilihan Atasi Krisis Pangan
Christa Gabriela yang juga sebagai salah satu perwakilan anak muda NTT menuturkan solidaritas yang kuat memang sangat dibutuhkan saat ini.
“Karena terlepas budaya, negara, dan bahasa, kita semua menghadapi isu yang sama, yaitu krisis iklim,” ujarnya.
Dengan kekayaan kearifan lokal yang ada di NTT, banyak praktik baik mengenai adaptasi dan mitigasi yang sudah dilakukan saat seroja.
Seperti ketahanan pangan melalui budidaya sorgum dan pangan lokal lainnya oleh masyarakat adat.
Lalu ritual adat jaga hutan untuk keberlangsungan sumber air, penanaman mangrove oleh masyarakat pesisir, dan juga kampanye aksi iklim yang digerakan oleh sejumlah anak muda di NTT.
Ini menjadi hal baik yang menginspirasi dalam kegiatan tersebut. Sehingga kata Christa semoga suara dari Timur Indonesia bisa semakin didengar.
Pun diingat, dan dapat dipertimbangkan dalam menyusun kebijakan yang adil untuk bumi.
Baca Juga: 11 Wilayah NTT Tak Akan Hujan Untuk Waktu Lama
Adapun kelima anak muda yang terpilih merupakan perwakilan dari setiap koalisi yang tergabung dalam Aliansi VCA Indonesia.
Yaitu Ayu Rahayu mewakili Koalisi Pangan BAIK, Eulis Utami mewakili KOPI (Koalisi Orang Muda untuk Perubahan Iklim).
Kemudian Ullya Farah mewakili Koalisi Adaptasi, Christa Gabriela dan Maria B. Tukan mewakili Koalisi SIPIL.*****


