• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Rabu, April 29, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Perempuan dan Anak

Bocah di TTS Tewas Direnggut Rabies Usai Menyelamatkan Anak Anjing

Tim Redaksi by Tim Redaksi
2 tahun ago
in Perempuan dan Anak
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Marak Kekerasan Online Berbasis Gender, Anak Korban Terbanyak

Ilustrasi Kekerasan Online Berbasis Digital dialami anak. (Pixabay)

0
SHARES
72
VIEWS

Kupang – Rabies lagi-lagi merenggut nyawa bocah-bocah di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Seorang anak di Desa Taiftob, Dusun Nuntoli, pun dilaporkan tewas akhir Februari kemarin.

Bocah yang menjadi korban jiwa ke-16 di TTS ini adalah Imanuel Seko. Ia masih berumur 12 tahun. Seekor anjing liar mengigit wajahnya pada 6 Februari lalu. Ia tak mendapat penanganan medis apapun dan mengalami penderitaan sebelum tewas.

BacaJuga

Para peserta Diskusi Komunitas Breaking Barries, Building Feature #KickOutGBV# berfoto bersama dilatari bola untuk olahraga sepak bola di Jakarta, 6 Maret 2026. (Foto: Magdalene)

Sepak Bola Jadi Wadah Promosi Ruang Aman untuk Perempuan

10 Maret 2026

Sewindu Komunitas Lakoat Kujawas, Jatuh Bangun Melestarikan Budaya Mollo

19 Februari 2026

Baca juga: Kasus Kematian Naik Drastis, 11 Daerah di NTT Terpapar Rabies

Imanuel awalnya berada di rumah kebun bersama keluarganya di Desa Kualeu pada kecamatan yang sama, Mollo Tengah. Mereka baru saja pulang menjenguk pamannya di desa itu.

Seekor anak anjing yang ada di rumahnya itu tiba-tiba saja diterkam lehernya oleh anjing liar yang muncul dari dalam hutan. Kejadian itu berlangsung jam 3 sore.

Imanuel yang kebetulan sedang bermain di halaman pun sigap melepas cengkraman anjing liar itu. Namun dirinya malah ikut digigit pada pipi kiri. Bocah itu mendapat 3 luka dalam.

Baca juga : Rabies Renggut 29 Jiwa di NTT, Anak Terbanyak

Ayah dan kakaknya tak bisa berbuat banyak. Ibunya membersihkan darah di wajah Imanuel yang menangis. Perempuan 50 tahun itu mengolesinya dengan minyak cap Nona Mas ke wajah anak kedelapannya itu.

Lukanya tak dicuci di air mengalir menggunakan sabun dan diberikan vaksin atau serum pasca gigitan di fasilitas kesehatan terdekat.

Memang luka bekas gigitan itu sembuh seminggu kemudian setelah dioleskan minyak itu setiap hari. Anak itu juga tidak merasakan gejala apapun hingga 18 Februari 2024.

Namun keesokannya, 19 Februari 2024, Imanuel mengeluh kepalanya sakit. Ia juga demam dan muntah-muntah. Meskipun begitu, ia tetap pergi ke sekolah. Ia terus mengalami kondisi seperti itu hingga 24 Februari dan mau ke sekolah.

Baca juga : Harga Minyak Mentah Dunia Picu Kenaikan Tarif Listrik

Akhirnya gejala rabies muncul lebih nyata di 25 Februari 2024. Anak itu makin gelisah. Ia takut angin, api, cahaya, asap, air. Imanuel tidak mau makan dan minum. Ia pun dibawa keluarganya untuk dirawat di rumah kebun.

Keluarganya melakukan pengobatan tradisional dengan cara disembur namun tak berhasil dan anak itu tetap menderita.

Lalu Imanuel dibawa kembali pulang oleh keluarga ke Desa Taiftob, RT 013/RW 004, dan malamnya ia semakin cemas. Ia sampai mencakar dan menggigit ibunya.

Penderitaan anak ini pun berakhir. Ia dinyatakan meninggal pada 28 Februari 2024, sekitar jam 11 siang.

Baca juga : NTT Bakal Gelar Sensus Anjing Atasi Rabies

“Dari Kesimpulan tim TRC dan gejala yang muncul maka diduga anak Imanuel Seko ini mengalami gejala khas rabies. Ia meninggal setelah 4 hari mengalami gejala khas rabies,” tukas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten TTS, dr. Ria Tahun.

Ia juga menyebut keluarga tak memberikan pertolongan yang diperlukan yaitu mencuci luka dengan air mengalir kemudian dibawa ke puskesmas atau rumah sakit terdekat.

“Masa inkubasinya pendek karena luka gigitan merupakan resiko tinggi dan tidak dilakukan tata laksana pencucian luka, dan pemberian SAR dan VAR,” tambah dia.

Baca juga : Rabies Renggut 29 Jiwa di NTT, Anak Terbanyak

Jumlah korban gigitan hewan pembawa rabies (HPR) di TTS sendiri dari 30 Mei 2023 hingga 1 Maret sudah 3.551 korban dan 16 orang yang meninggal. Seluruh kabupaten TTS sudah terdeteksi adanya kasus gigitan HPR.

Total vaksinasi yang sudah diberikan yaitu 3.710 orang untuk dosis satu dan 3.702 orang untuk dosis dua. Kemudian 2.790 orang sudah vaksinasi H-7 dan 1.183 orang sudah vaksinasi H21. ***

Tags: #anakkorbanjiwarabies#anjingrabies#AnjingrabiesTTS#KLBrabiesTTS
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Para peserta Diskusi Komunitas Breaking Barries, Building Feature #KickOutGBV# berfoto bersama dilatari bola untuk olahraga sepak bola di Jakarta, 6 Maret 2026. (Foto: Magdalene)

Sepak Bola Jadi Wadah Promosi Ruang Aman untuk Perempuan

by KatongNTT
10 Maret 2026
0

Siapa yang tidak kenal sepak bola, jenis olahraga paling populer seantero Indonesia bahkan dunia. Untuk merayakan Hari Perempuan Internasional pada...

Sewindu Komunitas Lakoat Kujawas, Jatuh Bangun Melestarikan Budaya Mollo

by Yanti Mesak
19 Februari 2026
0

Komunitas Lakoat Kujawas adalah salah satu komunitas yang berada di Desa Taiftop, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT....

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati