• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Rabu, Mei 6, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Sorotan

Ancaman Terus Meningkat, Satgas Rabies BNPB Belum Efektif

Tim Redaksi by Tim Redaksi
2 tahun ago
in Sorotan
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Ancaman Terus Meningkat, Satgas Rabies BNPB Belum Efektif

Vaksinasi rabies oleh pimpinan BNPB di Kabupaten TTS akhir Januari 2024 lalu (Dok BPBD).

0
SHARES
82
VIEWS

Jakarta – Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan dua provinsi dengan ancaman rabies meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Selain kejadian luar biasa (KLB) di Kabupaten Sikka, wilayah lain di NTT pun kembali muncul serangan rabies, yakni Kota Kupang dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

Setelah KLB di Sikka dua pekan lalu, informasi yang dihimpun KatongNTT.com juga menyebutkan kasus baru yakni seorang perempuan meninggal pada Sabtu (30/3/2024) lalu. Wanita asal Desa Tanarawa, Kecamatan Waiblama, Sikka, terserang rabies setelah digigit anjing peliharaannya. Beberapa hari sebelumnya, seorang anak asal Usapi Baanfanu, Desa Manikin, Noemuti Timur, TTU, juga meninggal dunia akibat rabies.

BacaJuga

Erik Saka, anak Frans Xaver Saka dan istrinya Clotilde Min Mesak menuangkan angur kolesom saat sembahyang Imlek di rumah mereka di Weluli, Kabupaten Belu, NTT. (Yanti Mesak/KatongNTT)

Tradisi Sembahyang Imlek di Weluli

3 Maret 2026
Jalan rusak parah di Desa Natarmage, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, NTT (Yohanes Fandi/KatongNTT)

Antara Jalan Rusak, Gagal Panen, Obat Kosong dan Semarak Kemerdekaan

18 Agustus 2025

Praktisi mitigasi bencana Vian Feoh mengatakan perkembangan rabies di NTT sebenarnya sudah masuk dalam kondisi berbahaya dan memerlukan penanganan cepat. Pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Rabies melalui Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB) juga sudah baik. Apalagi langsung di bawah koordinasi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy sejak akhir November 2023 lalu.

Baca : Paus Fransiskus Berkunjung ke Indonesia 3 September 2024

Namun, kata Vian, dirinya mempertanyakan efektivitas dari Satgas Rabies yang dikoordinasi langsung oleh Menko PMK tersebut. “Kalau kasus masih berlanjut dan terus meningkat hingga saat ini, berarti apa gunanya Satgas tersebut sejak dibentuk tahun lalu,” tanya Vian, Selasa (2/4//2024).

Baca : Anjing Bebas Berkeliaran, Biaya Tangani Rabies di NTT Membengkak

Dia menegaskan BNPB agar lebih serius dengan berbagai program pencegahannya. Hal itu karena, selain rabies, masyarakat NTT juga sudah dilanda berbagai bencana. Mulai dari virus ASF pada ternak babi, El Nino yang berdampak pada kesulitan akses pangan hingga ancaman bencana letusan gunung berapi.

Baca : Rabies Renggut 29 Jiwa di NTT, Anak Terbanyak

Seperti diberitakan laman resminya, Kepala BNPB Suharyanto bersama Satgas Penanganan Rabies meninjau pelaksanaan vaksinasi dalam rangka mengantisipasi wabah rabies di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), NTT, pada akhir Januari 2024 lalu.

Saat itu, Suharyanto menyatakan proses pemberian vaksin akan dilakukan selama tiga bulan yakni Januari, Februari dan Maret. “Kami berharap bisa segera teratasi dalam tiga bulan ini, jika belum kami akan perpanjang tiga bulan kembali,” tutur Suharyanto.

Data yang dihimpun KatongNTT menyebutkan pada tahun 2023, korban meninggal akibat gigitan anjing rabies di NTT sebanyak 39 orang. Untuk tahun ini, terhitung hingga 20 Maret 2024, sudah 6 orang meninggal dunia. [Anto]

Tags: #BNPB#KLB#RabiesSikka
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Erik Saka, anak Frans Xaver Saka dan istrinya Clotilde Min Mesak menuangkan angur kolesom saat sembahyang Imlek di rumah mereka di Weluli, Kabupaten Belu, NTT. (Yanti Mesak/KatongNTT)

Tradisi Sembahyang Imlek di Weluli

by Yanti Mesak
3 Maret 2026
0

Untuk menyambut Tahun Baru Imlek 2577 yang dimulai pada 17 Februari 2026 dan berakhir pada 3 Maret 2026, keluarga Frans...

Jalan rusak parah di Desa Natarmage, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, NTT (Yohanes Fandi/KatongNTT)

Antara Jalan Rusak, Gagal Panen, Obat Kosong dan Semarak Kemerdekaan

by Difan Fandi
18 Agustus 2025
0

Desa Natarmage - Pagi itu, saya berangkat dari Desa Pruda menuju Natarmage, Kecamatan Waiblama, untuk mengikuti perayaan HUT RI ke-80...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati