Jakarta – Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan dua provinsi dengan ancaman rabies meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Selain kejadian luar biasa (KLB) di Kabupaten Sikka, wilayah lain di NTT pun kembali muncul serangan rabies, yakni Kota Kupang dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).
Setelah KLB di Sikka dua pekan lalu, informasi yang dihimpun KatongNTT.com juga menyebutkan kasus baru yakni seorang perempuan meninggal pada Sabtu (30/3/2024) lalu. Wanita asal Desa Tanarawa, Kecamatan Waiblama, Sikka, terserang rabies setelah digigit anjing peliharaannya. Beberapa hari sebelumnya, seorang anak asal Usapi Baanfanu, Desa Manikin, Noemuti Timur, TTU, juga meninggal dunia akibat rabies.
Praktisi mitigasi bencana Vian Feoh mengatakan perkembangan rabies di NTT sebenarnya sudah masuk dalam kondisi berbahaya dan memerlukan penanganan cepat. Pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Rabies melalui Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB) juga sudah baik. Apalagi langsung di bawah koordinasi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy sejak akhir November 2023 lalu.
Baca : Paus Fransiskus Berkunjung ke Indonesia 3 September 2024
Namun, kata Vian, dirinya mempertanyakan efektivitas dari Satgas Rabies yang dikoordinasi langsung oleh Menko PMK tersebut. “Kalau kasus masih berlanjut dan terus meningkat hingga saat ini, berarti apa gunanya Satgas tersebut sejak dibentuk tahun lalu,” tanya Vian, Selasa (2/4//2024).
Baca : Anjing Bebas Berkeliaran, Biaya Tangani Rabies di NTT Membengkak
Dia menegaskan BNPB agar lebih serius dengan berbagai program pencegahannya. Hal itu karena, selain rabies, masyarakat NTT juga sudah dilanda berbagai bencana. Mulai dari virus ASF pada ternak babi, El Nino yang berdampak pada kesulitan akses pangan hingga ancaman bencana letusan gunung berapi.
Baca : Rabies Renggut 29 Jiwa di NTT, Anak Terbanyak
Seperti diberitakan laman resminya, Kepala BNPB Suharyanto bersama Satgas Penanganan Rabies meninjau pelaksanaan vaksinasi dalam rangka mengantisipasi wabah rabies di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), NTT, pada akhir Januari 2024 lalu.
Saat itu, Suharyanto menyatakan proses pemberian vaksin akan dilakukan selama tiga bulan yakni Januari, Februari dan Maret. “Kami berharap bisa segera teratasi dalam tiga bulan ini, jika belum kami akan perpanjang tiga bulan kembali,” tutur Suharyanto.
Data yang dihimpun KatongNTT menyebutkan pada tahun 2023, korban meninggal akibat gigitan anjing rabies di NTT sebanyak 39 orang. Untuk tahun ini, terhitung hingga 20 Maret 2024, sudah 6 orang meninggal dunia. [Anto]




