• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Sabtu, April 18, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Kolaborasi Dekranasda Provinsi NTT

Elsye Lesik Olah Rumput Laut di NTT Jadi Cemilan Sehat

Tim Redaksi by Tim Redaksi
4 tahun ago
in Dekranasda Provinsi NTT
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Elsye Lesik, Pelaku UMKM dari Kupang yang memberdayakan Potensi Rumput Laut di NTT menjadi Camilan sehat (KatongNTT)

Elsye Lesik, Pelaku UMKM dari Kupang yang memberdayakan Potensi Rumput Laut di NTT menjadi Camilan sehat (KatongNTT)

0
SHARES
469
VIEWS

Kupang – Elsye Lesik sudah tujuh tahun menjadi pelaku UMKM di Kupang, NTT dengan produk olahan dari rumput laut.

Ia awalnya seorang guru. Hingga pada 2014, anak keduanya mengalami kanker otak. Situasi ini memaksanya untuk berhenti dari pekerjaan itu untuk fokus merawat anaknya.

BacaJuga

Produk 'Dosa', yang adalah cuka tradisional dari Rote, NTT (Ruth-KatongNTT)

Mengenal ‘Dosa’, Cuka Tradisional dari Rote, NTT

27 Mei 2023
Proses produksi garam di CV. Raja Baru milik Ferdinand Latuharu (Dok. CV. Raja Baru)

Pabrik Garam Ferdinand Latuheru Kesulitan Bahan Baku

21 Mei 2023

Elsye kemudian mencari pekerjaan yang bisa ia kerjakan di rumah. Dia kemudian mengikuti pelatihan pengolahan rumput laut pada 2015, lalu memilih untuk mengembangkannya menjadi sebuah usaha.

“Dan akhirnya terpikirkan untuk buat ceker rumput laut, ada juga kerupuk rumput laut, dodol, jeli, torchips, dan mi dari rumput laut,” ujar perempuan 43 tahun ini.

Tanpa micin dan pengawet, dia mengolah produk-produknya dengan tujuan anaknya yang sakit bisa mengonsumsi makanan ini juga.

Baca Juga: Kisah Orang Muda NTT Bisnis Camilan Jadul Ublin

Dengan modal awal Rp 500 ribu, ia mulai memproduksi makanan ringan itu. Awalnya Elsye hanya memproduksinya pada masa hari raya. Menerima pesanan dari kerabatnya karena belum mendapat izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). Dia baru berani memasarkannya di 2019 saat sudah mendapat sertifikat PIRT.

Satu produk dengan penjualan terbaik adalah Ceker Rumput Laut. Camilan dari campuran tepung dan rumput laut ini, diuleni hingga kalis, baru kemudian digoreng menggunakan cetakan yang menghasilkan adonan menyerupai kaki (ceker) ayam.

“Saya melihat keunikan nama itu mempengaruhi orang untuk mau beli. Padahal ini bukan dari kaki ayam, bentuknya saja yang mirip tapi (bahannya) dari rumput laut. Justru bentuknya lebih ke terumbu karang tapi uniknya ceker saja,” cerita Elsye sambil tertawa.

Dia kemudian menitipkan produknya di tiga toko yang ada di Kupang dengan harga Rp15 ribu untuk kemasan 100 gr. Pendapatan terendahnya per bulan Rp1,5 juta. Namun saat pandemi Covid-19 melanda, omset menurun drastis.

“Waktu pandemi itu omset rendah, sampai rumah produksi sempat ditutup karena penjualan kurang,” katanya.

Ceker Rumput Laut, salah satu produk dari Elsye yang dikelolanya sejak 2015 (KatongNTT)

Hingga pada 2022, saat aktivitas masyarakat sudah mulai kembali normal, Elsye kemudian melanjutkan usahanya. Kali ini ia menjualnya ke Dekranasda NTT. Sistem pembayarannya yang langsung, tanpa konsinyasi, bagi Elsye membantunya untuk tetap bisa hidup.

“jadi kami bisa langsung putar modal untuk buat lagi, tanpa harus tunggu laku dulu,” kata perempuan asal Ambon ini.

Hingga kini Elsye terus mengolah makanan berbahan dasar rumput laut. Bahkan dia sedang memformulasikan resep untuk membuat bakso dari rumput laut. Produk ini nantinya dikhususkan bagi para vegetarian.

Alasannya untuk tetap mengembangkan produk makanan dari rumput laut sederhana, agar hasil laut NTT tak hanya dinikmati di luar NTT maupun di luar negeri, namun bisa dikenal oleh masyarakatnya sendiri.

Baca Juga: Dortia Mbura Di Usia Senja Kelola UMKM Setia Kawan

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS), produksi rumput laut di NTT mencapai lebih dari 2.158 juta ton. Cina menjadi negara tujuan dengan total ekspor terbesar.

Produksi rumput laut di NTT mencapai 22,45 persen dari total produksi Indonesia. Sedangkan per 14 Januari, Pergub NTT dibuat untuk rumput laut di NTT hanya dijual ke tiga perusahaan yang ada di kabupaten Kupang, Sabu,dan Sumba. Untuk selanjutnya dibuat menjadi keripik rumput laut.

Ini membuat pengelolaan rumput laut masih minim, dibanding dengan kelor yang makin banyak dibuat sejak program kelorisasi digaungkan Gubernur NTT pada 2018 lalu.

“Akhir-akhir ini banyak yang beralih ke kelor, padahal ada hasil laut NTT yang juga bagus. Kalau semua lari ke kelor, kompetisinya makin terasa, jadi saya memilih tetap mengolah rumput laut,” ucap ibu dengan tiga anak itu. *****

 

Silakan hubungi nomor +628125055279 jika berminat untuk membeli produk UMKM ini. Ayo kita dukung kemajuan UMKM NTT!

Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Produk 'Dosa', yang adalah cuka tradisional dari Rote, NTT (Ruth-KatongNTT)

Mengenal ‘Dosa’, Cuka Tradisional dari Rote, NTT

by Tim Redaksi
27 Mei 2023
0

Produknya ia beri nama Dosa, yang berasal dari bahasa Rote, yang artinya Cuka. “Tujuannya hanya untuk memperkenalkan saja kalau kami...

Proses produksi garam di CV. Raja Baru milik Ferdinand Latuharu (Dok. CV. Raja Baru)

Pabrik Garam Ferdinand Latuheru Kesulitan Bahan Baku

by Tim Redaksi
21 Mei 2023
0

“Sebelumnya itu bahan baku dari tahun lalu bisa bertahan sampai sekarang,” ujar laki-laki yang pernah mengikuti pendidikan di PT. Garam...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati