• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Kamis, April 16, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Sorotan

Warga Besipae Kehujanan dan Tidur di Bawah Pohon

Tim Redaksi by Tim Redaksi
3 tahun ago
in Sorotan
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Anak-anak Besipae menangis di bawah reruntuhan rumah. Warga Besipae kehujanan setelah rumah mereka digusur Pemprov NTT (ist)

Anak-anak Besipae menangis di bawah reruntuhan rumah. Warga Besipae kehujanan setelah rumah mereka digusur Pemprov NTT (ist)

0
SHARES
665
VIEWS

Kupang – Warga Besipae kehujanan setelah rumah yang mereka tempati digusur oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (Pemprov NTT), Kamis (20/10/2022). Sebanyak 14 unit rumah dirobohkan walau sebelumnya dibangun oleh Pemprov NTT bagi warga Besipae.

Dalam video yang beredar, tampak warga yang mendiami lokasi tersebut basah kuyup karena tidak ada tempat yang disediakan setelah penggusuran. Tidak hanya orang tua, anak-anak pun ikut terguyur hujan.

BacaJuga

Erik Saka, anak Frans Xaver Saka dan istrinya Clotilde Min Mesak menuangkan angur kolesom saat sembahyang Imlek di rumah mereka di Weluli, Kabupaten Belu, NTT. (Yanti Mesak/KatongNTT)

Tradisi Sembahyang Imlek di Weluli

3 Maret 2026
Jalan rusak parah di Desa Natarmage, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, NTT (Yohanes Fandi/KatongNTT)

Antara Jalan Rusak, Gagal Panen, Obat Kosong dan Semarak Kemerdekaan

18 Agustus 2025

Penggusuran tersebut dilakukan karena Pemprov NTT menilai masyarakat Besipae menghalangi pekerjaan yang dibiayai APBD NTT tahun anggaran 2022. Pada 14 Oktober 2022 lalu, Plt Sekda NTT, Johana Lisapaly mengeluarkan surat yang meminta warga meninggalkan rumah dan lokasi Besipae.

Pemprov NTT mengatakan lokasi tersebut merupakan aset daerah berdasarkan Sertifikat Hak Pakai nomor 0001 tahun 2013 dengan luas tanah 3.780 hektar. Surat tersebut tidak sejalan dengan kesepakatan yang dilakukan 21 Agustus 2020.

Saat itu keluarga besar Nabuasa Besi dan Pa’E bersama Pemprov NTT membuat kesepakatan bersama mengakhiri masalah yang terjadi di Besipae.

Selain itu, ada beberapa poin yang menjadi catatan, di antaranya mengkapling tanah 800 m² per kepala keluarga untuk 37 KK. Lokasi tersebut berada di kawasan 3.780 haktare yang tercatat dalam sertifikat hak pakai. Lokasi ini pula yang dipakai membangun rumah bagi warga dan kemudian digusur.

Pemprov NTT juga sepakat mengidentifikasi wilayah Desa Linamnutu, Enoneten, Polo, Mio, Oe Ekam yang masuk dalam kawasan 3.780 hektare untuk dikeluarkan dari sertifikat. Tanah tersebut kemudian harus diserahkan kembali kepada masyarakat pada lima desa tersebut.

Niko Manao mengatakan, Pemprov belum mengidentifikasi batas-batas kawasan yang tercatat dalam sertifikat yang dimiliki Pemprov NTT. Karena itu, pihaknya menganggap belum ada penyelesaian terhadap persoalan ini dan menolak keluar dari kawasan tersebut.

“Alasan kami menolak karena Pemprov tidak jalankan kesepakatan mengidentifikasi kembali batas-batas, jika tanah masyarakat masuk di dalam sertifikat 3.780 hektar itu maka dikeluarkan,” jelas Niko kepada KatongNTT, Kamis (20/10/2022) malam.

Anak-anak Besipae tidur di bawah reruntuhan rumah setelah penggusuran oleh Pemprov NTT (ist)

Niko dan warga Besipae lainnya mengacu pada rekomendasi Komnas HAM yang disampaikan saat berkunjung ke Besipae Agustus 2020. Komnas HAM meminta Pemprov NTT tidak melakukan pekerjaan sebelum masalah diselesaikan.

Baca juga: Besipae Kembali Memanas, Pemprov NTT Gusur Rumah Warga

Alasan itu pula kemudian warga Besipae menolak ketika ada pekerja membangun jalan, paddock dan pagar di kawasan Besipae. Akibat penolakan itu, Plt Sekda NTT mengeluarkan surat untuk penertiban aset daerah. Padahal dalam kesepakatan yang dilakukan Agustus 2020, Pemerintah bersedia menyerahkan tanah untuk 37 KK masing 800 m².

Setelah digusur, warga tidak punya tempat untuk berteduh. Mereka diguyur hujan dan kebasahan. Dalam video yang beredar, anak-anak berlindung di bawah reruntuhan rumah saat hujan sambil menangis.

“Ketika penggusuran tidak ada tempat yang sudah disiapkan oleh Pemerintah Provinsi untuk merelokasi masyarakat sehingga masyarakat sudah seperti ini,”ujar Niko di bawah guyuran hujan sambil menggendong seorang balita.

Masyarakat terpaksa menginap di bawah pohon. Mereka tetap bertahan di lokasi penggusuran karena tidak ada tempat yang disiapkan bagi mereka.

“(Kami) tidur di bawah pohon,” kata Daud Selan, Kamis malam sekitar pukul 11 waktu setempat.*****

Baca juga: Seminggu Diberlakukan, Pemprov Tunda Penerapan Kenaikan Tarif TN Komodo

Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Erik Saka, anak Frans Xaver Saka dan istrinya Clotilde Min Mesak menuangkan angur kolesom saat sembahyang Imlek di rumah mereka di Weluli, Kabupaten Belu, NTT. (Yanti Mesak/KatongNTT)

Tradisi Sembahyang Imlek di Weluli

by Yanti Mesak
3 Maret 2026
0

Untuk menyambut Tahun Baru Imlek 2577 yang dimulai pada 17 Februari 2026 dan berakhir pada 3 Maret 2026, keluarga Frans...

Jalan rusak parah di Desa Natarmage, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, NTT (Yohanes Fandi/KatongNTT)

Antara Jalan Rusak, Gagal Panen, Obat Kosong dan Semarak Kemerdekaan

by Difan Fandi
18 Agustus 2025
0

Desa Natarmage - Pagi itu, saya berangkat dari Desa Pruda menuju Natarmage, Kecamatan Waiblama, untuk mengikuti perayaan HUT RI ke-80...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati