Kupang – Longsor yang menutup Jalan Timor Raya Kilometer 73, Kecamatan Takari, Kabupaten Kupang berasal dari jenis napal atau batuan gamping lempungan yang sangat rawan.
Kondisi serupa terdapat di titik-titik lainnya di Kabupaten Kupang yang memerlukan mitigasi. Namun mitigasi struktural dan non struktural dinilai belum optimal dilakukan.
Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Pengurus Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sekaligus Akademisi Universitas Nusa Cendana (Undana), Herry Kotta, menjelaskan hal ini.
Longsor di Takari, kata dia, penyebabnya berlangsung internal . Yaitu dari bebatuan dan urutan batuannya, kondisi lereng, tutupan lahan, hingga struktur geologi.
Baca juga: 4 Titik Rawan Terdeteksi di Lokasi Longsor di Takari
“Itu stratigrafinya. Faktor internalnya yang memang jenis batuan di daerah ini termasuk jenis batuan napal atau gamping lempungan istilahnya,” kata Herry saat dihubungi Selasa 21 Februari 2023.
Sifat dari batuan ini adalah mudah menyerap air tetapi sulit melepaskannya. Saat hujan, airnya akan terserap dan tertampung ke dalam. Daya tampung jenis batuan ini sangat luar biasa. Namun karena sulit melepaskan air sehingga bebannya cukup masif saat terjadi longsoran.
“Apalagi kalau hujan perlahan-lahan tapi lama bisa lebih berbahaya. Sehingga air yang masuk akan mengisi ruang antar pori karena ada gamping itu,”papar Herry.
Sementara lempungnya bersifat mengembang setelah dipenuhi air hingga akhirnya membuat daya ikat antar butirnya melemah.
“Ditunjang lagi dengan kemiringan lereng yang cukup curam seperti itu maka materialnya akan bergerak turun,” tambah Herry.
Kondisi ini yang menyebabkan longsor yang lajunya baru akan terhenti setelah terhalang atau berada di tempat landai.
Kejadian seperti longsor di Takari, kata dia, terdapat di beberapa daerah di NTT juga terutama di Kabupaten Kupang termasuk saat Badai Seroja. Pada saat itu banyak lokasi mengalami longsor seperti ini.
“Cukup banyak tetapi tidak menutup jalan dan terjadinya di kebun warga,” kata dia.
Menurut Herry, di lokasi terjadinya longsor di Takari memang rentan. Hanya menunggu pemicu yang menyebabkan musibah tersebut.
Adanya embung alam di atas lereng tepat sebelum terjadinya longsor ini dapat menjadi pemicunya.
“Daerah dari Takari, Batu Putih, terus ke sana kebanyakan terbentuk dari gamping lempungan. Ada sedikit kandungan pasir juga,” tambahnya.

Baca juga: Sudah Ada Tanda-tanda Sepekan Sebelum Longsor di Takari
Menurut Herry, mitigasinya adalah dengan penerapan sistem drainase yang tepat di lereng. Sehingga dapat mencegah hujan masuk dan terkumpul di tempat atau titik rawan longsor.
“Itu kunci pertamanya. Kita lihat bahwa setelah Batu Putih ada dua tikungan di ujung jembatan kecil itu juga sudah dibuatkan mitigasi struktural. Itu sebenarnya untuk mengatur sistem drainasenya,” tukas dia.
Sistem ini agar air tidak meresap di lereng yang rawan kemasukan air dengan menempatkan pipa untuk mengatur drainasenya secara tepat. Selain drainasenya, perlu juga ditanam vegetasi khusus dengan pola tanam khusus seperti yang sudah dilakukan di daerah rawan lainnya.
Sistem ketiga adalah sistem terasering atau memotong lereng yang curam dengan tujuan menjadikannya tempat yang landai.
“Supaya tidak terlalu terjal sehingga meskipun terisi air, volume berat porinya saat bertambah. Tapi lerengnya tidak curam ya nanti materialnya bergerak tapi tidak jauh jalannya,”papar Herry.
Baca juga: Peti Jenazah Digotong Melintasi Area Longsor di Takari
Ia menjelaskan, mitigasi struktural belum 100 persen diberlakukan di wilayah atau jalan yang terdeteksi rawan longsor di Kabupaten Kupang.
“Belum sama sekali ya. ‘Kan yang dibuat di dua lokasi yang ada setelah Batu Putih ke arah Soe itu dibuat pun setelah adanya longsor,” ungkapnya.
Namun begitu di beberapa titik setelahnya ke arah Soe tidak dibuatkan mitigasi serupa. Sementara di tikungan sekitar tanjung memang sudah terdapat batu yang sangat resisten sehingga mencegah terjadinya longsor.
“Bahasa teknisnya itu batuan ‘beku’ hasil proses pembekuan magma dan itu memang sangat resisten. Sangat keras dan tidak akan longsor,” jelasnya.
Selain perihal mitigasi struktural pun diperlukan mitigasi non struktural yaitu dengan mengidentifikasi lereng yang rentan bergerak.
“Kita kenali dulu kemudian dibuatkan peta yang merupakan informasi dan mitigasi untuk masyarakat dan pengguna jalan,” ujar Herry.
Langkah awal mitigasi ini adalah berupa bentuk peringatan dan pencegahan sebelum bencana ini terjadi. Sehingga dapat mengurangi risikonya.
“Biasanya kita itu hanya sebagai ‘pemadam kebakaran’ setelah sudah terjadi baru kita semua datang,” lanjut Herry.
Masyarakat perlu mengetahui bila hujan deras selama dua jam, hujan ringan atau sedang secara terus-menerus, maka perlu mengevakuasikan diri dari lereng yang rentan bergerak.
“Itu wajib hukumnya,” tegasnya.
Maka dari itu, lanjut dia, diperlukan peta rawan longsor sehingga bisa disosialisasikan dan dapat menjadi input bagi pemerintah dalam mitigasi.
“Jadi kita jangan lagi jadi ‘pemadam kebakaran’,” kata dia.
Jalur alternatif yang kini dipilih yaitu dengan menyusuri sungai pun hanya untuk digunakan sementara saja karena longsor yang terjadi di Takari.
Ia menyebut kondisi jalan itu tidak bisa dibuat menjadi alternatif jalan untuk waktu yang lama. Tetapi sekedar untuk memperlancar lalu lintas selagi jalan arus utama diperbaiki.
“Tetapi harus dilihat, diperhatikan betul-betul, jangan sampai kita hanya memindahkan masalah,” kata dia. (Putra Bali Mula)




