Angky Fiah Raup Rp 10 Juta Per Bulan dari Aksesoris Antik NTT

Menjadi pekerjaan turun temurun dari leluhurnya, membuat Angky, pria asal Rote Ndao Nusa Tenggara Timur (NTT) ini memilih menjadi pengrajin aksesoris antik.

Angky Fiah, sedang membuat aksesoris antik NTT (Ruth-KatongNTT)

Angky Fiah, sedang membuat aksesoris antik NTT (Ruth-KatongNTT)

Kupang – Bunyi pukulan tembaga yang dipipihkan menggunakan palu terdengar nyaring berulang di rumah Angky Fiah. Di sudut rumah, peralatan untuk membuat berbagai macam aksesoris terletak rapi di atas meja, yang juga menjadi meja kerjanya setiap hari.

Menjadi pekerjaan turun temurun dari leluhurnya, membuat Angky, pria asal Rote Ndao Nusa Tenggara Timur (NTT) ini memilih menjadi pengrajin aksesoris antik.

Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kelas 3, Angky mulai mengikuti jejak ayahnya untuk membuat cincin, gelang, dan kalung antik daerah.

“Mulai kelas tiga SD. Produk paling pertama saya buat itu cincin. Karena tidak terlalu rumit,” ujarnya ketika disambangi di kediamannya di Liliba, NTT, Jumat, 30/12/2022.

Namun ia belum menjadikan pekerjaan ini sebagai sumber penghasila utama. Karena masih bersekolah waktu itu.

Baca Juga: Kadis Parekraf: UMKM Jadi Daya Tarik Wisatawan Kunjungi NTT

Seiring berjalannya waktu, ketika ia lulus sekolah, Angky memilih menjadi ojek.

“Karena dulu itu titi (re:pukul) tembaganya sering kena jari. Jadi saya ojek saja. Karena lihat penghasilannya tiap hari. Tapi setelah itu, saya lihat orang kerja ini penghasilannya juga lumayan jadi saya kembali kerja ini,” cerita pria 40 tahun ini.

Angky terus belajar dan belajar untuk membuat aksesoris dengan berbagai bentuk dan corak. Bukan hanya dari daerah asalnya Rote, namun juga untuk hampir seluruh daerah di NTT. Seperti adat Rote, Timor, Flores, dan Sumba.

Aksesoris kalung daerah NTT yang dibuat Angky (Ruth-KatongNTT)
Aksesoris kalung daerah NTT yang dibuat Angky (Ruth-KatongNTT)

Aksesoris yang dibuatnya terbuat dari kuningan dan tembaga. Satu set aksesoris terdiri atas mahkota, kalung, gelang, cincin, dan ikat pinggang. Baik untuk laki-laki maupun perempuan.

Di 2013, Angky akhirnya berani memasarkan aksesoris buatannya di satu toko di Kota Kupang. Hasil karyanya yang rapi, detail, dan cepat pembuatannya, membuat aksesoris buatannya diminati banyak orang.

Sehingga pada 2016, produknya dipilih untuk dipakai dalam satu pegelaran busana di New York, Amerika.

“Ada juga duta pariwisata dari NTT begitu. Mereka ambil aksesorisnya dari sini,” ungkapnya.

Di 2019 pun, Dekranasda mulai memasokk aksesoris daerah dari Angky.

Aksesoris yang dibuatnya berbahan dasar Kuningan dan Tembaga. Ia datangkan dari Yogyakarta dengan harga Rp500 ribu per lempeng. Dengan ukuran 36×120 cm.

Per lempeng bisa ia hasilkan lima hingga sembilan set aksesoris. Yang kemudian ia jual dengan kisaran harga Rp300 – 500 ribu per set. Angky mengatakan, tingkat kesulitan pembuatan berpengaruh pada harga barang.

“Yang paling mahal itu yang dari Timor, karena mahkota untuk perempuan tinggi. Laki-laki ada rompi juga. Lalu Sumba, itu juga mahal. Yang murah itu Rote karena mahkotanya kecil. Dan tidak terlalu banyak,” kata Angky.

Baca Juga: Kisah Penenun Yakoba Dedo Dijanjikan Modal Hingga Tolak Berjualan Online

Dalam sejam, ia bisa menghasilkan satu gelang polos. Namun, jika aksesorisnya banyak corak, dapat diselesaikan dalam satu hingga tiga hari pengerjaan.

Selain dijual dalam satu set, Angky pun menjual akseseoris satuan dengan harga paling murah Rp50 ribu – 1 juta.

“Yang mahal itu cincin yang bukan dari kuningan, tapi dari koin. Jadi ini ada muka (Ratu) Elisabet, harganya bisa sampai Rp1 juta lebih. Karena kalau antik dia semakin mahal,” terang pria dua anak ini.

Dengan moda awal Rp1 juta, Angky kini bisa mendapat untung sebesar Rp10 juta per bulan. *****

 

Silakan hubungi nomor +6285237567020 jika berminat untuk membeli produk UMKM ini. Ayo kita dukung kemajuan UMKM NTT!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *