Jakarta – Proyek Arafura and Timor Seas Ecosystem Action Phase II (ATSEA-2) mendorong pengelolaan perikanan berbasis ekosistem (ecosystem approach to fisheries management/EAFM) kakap merah di Laut Arafura dan Laut Timor.
Dalam laman resminya yang dikutip Jumat (29/12/2023), ATSEA mengawali program tersebut dengan melakukan survei sebagai acuan. “Survei ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang isu-isu penting yang dipertimbangkan dalam penyusunan rencana EAFM kakap merah,” demikian ditulis ATSEA.
Baca : Gaet Perusahaan China, KKP Kembali Garap Udang Sumba Timur
Seperti diketahui, wilayah laut Arafura dan Timor (Arafura & Timor Sea/ATS) mendukung perikanan demersal yang kaya dan beragam untuk perikanan skala kecil dan komersil. Adapun program ATSEA meliputi empat negara mitra, yakni Australia, Indonesia, Papua Nugini dan Timor Leste.
Untuk menyusun rencana EAFM regional untuk perikanan kakap merah, ATSEA-2 menunjuk dan bermitra dengan Fishwell Consulting dan Starling Resources. Rencana EAFM ini akan menyediakan jalan bagi negara mitra ATS untuk meningkatkan tata kelola dan kondisi perikanan kakap merah.
Baca : “Pugar” Tingkatkan Produksi Garam, Perpres 126/2022 Belum Optimal di NTT
“Kami mengharapkan masukan dari pemangku kepentingan tentang cakupan optimal dan isu-isu penting yang akan dipertimbangkan dalam rencana EAFM regional kakap merah. Proses ini merupakan lanjutan dari pekerjaan ATSEA sebelumnya seperti Transboundary Diagnostic Analysis (TDA) dan Strategic Action Plan.,” demikian penjelasan ATSEA.
Dalam agenda The 5th Regional Steering Committee Meeting ATSEA-2 Project pada November 2023 lalu, Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Antam Novambar sudah menegaskan beberapa hal. Salah satunya adalah pengawasan implementasi penangkapan ikan terukur (PIT) berbasis kuota khususnya di WPPNRI 718 yang meliputi perairan Laut Aru, Laut Arafuru, dan Laut Timor bagian Timur, akan lebih ketat.
“Memang harus lebih ketat. Kita sangat memahami pentingnya kawasan ini, makanya dari mulai pengawasan, pengelolaan, sangat ketat nantinya. Ini tempat pemijahan juga,” katanya di sela-sela pertemuan ATSEA-2 Project di Jakarta.
WPPNRI 718 mempunyai peran strategis bagi Indonesia karena berbatasan langsung dengan tiga negara tetangga, yaitu Australia di selatan, Timor Leste di barat, dan Papua Nugini di timur.
Baca : Novilia, Pelaku UMKM di Oebelo Tertatih Cari Pasar Camilannya
ATSEA-2 telah memainkan peran penting dalam mendukung tata kelola kelautan dan perikanan. Selaras dengan Program Aksi Strategis (Strategic Action Programme/SAP) Regional dan Nasional ATS, program ini mengatasi isu lintas batas. ATSEA-2 adalah fase kedua dari program yang didanai oleh Global Environment Facility (GEF), dikelola dan dieksekusi di bawah United Nations Development Programme (UNDP). Adapun Partnerships in Environmental Management for the Seas of East Asia (PEMSEA) Resource Facility (PRF) adalah organisasi pelaksana. [Anto]




