Bogor – Dinosaurus. Itu nama merek pupuk organik hayati yang diproduksi oleh perusahaan yang dipimpin Freddy Wijaya. Sarjana akuntasi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) ini mengaku memiliki ketertarikan di bidang pertanian sejak masih kecil, gara-gara sering membaca buku National Geographic dan majalah Trubus. “Sejak kecil, saya punya cita-cita memiliki usaha yang bisa menghijaukan dan melestarikan lingkungan,” katanya dalam suatu kesempatan.
Cita-cita itu mulai dirintis setelah lulus kuliah melalui usaha produksi pupuk. Pada tahap awal, Freddy fokus pada usaha pemberdayaan petani jagung di Kabupaten Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Baca : Kekeringan, Harga Beras Naik, dan Tanam Singkong
Interaksi dengan petani membuat dirinya menangkap berbagai keresahan yang dirasakan. Mulai dari kesulitan memperoleh pupuk subsisi, harga pupuk kimia yang mahal, serta produktivitas lahan yang menurun. Singkatnya, petani tanam jagung tapi tak pernah panen jagung alias gagal. Masalah para petani adalah sulitnya memperoleh pupuk kimia yang biasanya harus didatangkan dari Pulau Jawa.
Baca : Ombudsman NTT Monitor Distribusi Pupuk Bersubsidi, Petrokimia Gresik Beri Pelatihan
“Kombinasi permasalahan itu membuat petani kesulitan mendapat hasil panen yang bagus,” jelasnya.
Bersama 4 orang rekannya, Freddy mulai merintis bisnis pupuk organik sekitar 4 tahun lalu atau sekitar tahun 2015. “Awalnya ini belum berorientasi bisnis. Kita awalnya cuma ingin membantu petani jagung di Flores,” tutur Freddy.
Semangat memproduksi pupuk organik juga memanfaatkan bahan dasar sekitar lokasi pertanian. Dari mulai buah-buahan, hingga kotoran ternak yang difermentasi jadi pupuk.
“Hasilnya ternyata luar biasa. Dari yang semula jarang berhasil, sekarang mereka langsung panen,” tutur Freddy.
Pupuk organik hayati yang diproduksinya dinamakan Dinosaurus. Perlahan-lahan tapi pasti, usaha yang dirintis Freddy terus berkembang. Fakta dan bukti peningkatan hasil dengan pupuk Dinosaurus pun semakin teruji. Permintaan dari daerah-daerah terus meningkat. Masyarakat perkotaan pun banyak yang menggunakan pupuk tersebut untuk berbagai tanaman pekarangannya.
“Pupuk ini multifungsi untuk tanaman pangan dan juga nutrisi untuk hortikultura hingga tanaman pekarangan. Tanaman pangan padi, jagung, singkong sangat cocok. Ada juga petani sayuran di Bogor dan Cianjur mendapatkan hasil yang meningkat setelah aplikasi Dinosaurus,” ujar Freddy pada akhir September 2023 lalu, dalam sebuah pameran pertanian.
Baca : Pabrik Pakan Ternak di NTT Belum Terwujud, Terkendala Produksi TJPS
Di Brebes, misalnya, awalnya petani bawang tidak mau pakai Dinosaurus karena menambah biaya produksi. “Aakhirnya saya minta satu dua lajur saja tanah yang enggak terlalu subur untuk dicoba. Ternyata, hasilnya memuaskan dan akhirnya petani itu minta lagi,” kata Freddy.
Belakangan, sejumlah daerah juga sudah menggunakan Dinosaurus dengan hasil yang optimal. Bahkan, pemesanan dari luar negeri juga sudah ada. Dia berharap di tengah kesulitan pupuk kimia dan harga yang cukup tinggi, Dinosaurus bisa menjadi alternatif solusi. Petani mendapatkan hasil yang optimal sehingga berdampak pada pendapatan, Indonesia pun bisa memenuhi keterbatasan pupuk untuk meningkatkan produksi. [Anto]




