Kupang – Masyarakat Amfoang dapat memberdayakan kehadiran Observatorium Timau sebagai peluang ekonomi dan wisata astronomi. Observatorium Timau dibangun oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan beroperasi tahun 2019.
Pembahasan Observatorium Timau ini mencuat dalam seminar sehari yang digelar oleh Ikatan Keluarga Amfoang (IKA) di UPTD Taman Budaya Gerson Poyk, Sabtu 27 Mei 2023.
Pendeta Eben Nuban Timo yang berbicara dalam seminar ini menjelaskan tentang Observatorium Timau yang terbesar di Asia Tenggara ditinjau dari perspektif iman bagi kehidupan masyarakat Amfoang.
Menurutnya, kehadiran Observatorium Timau dapat mendorong ekonomi baru masyarakat sekaligus memicu motivasi generasi muda akan pendidikan dan sains.
Baca juga : Mengenal ‘Dosa’, Cuka Tradisional dari Rote, NTT
Tiap-tiap rumah tangga, kata Eben, bisa menyediakan tempat atau rumah mereka sebagai tempat penginapan maupun ruang untuk diskusi hingga dengan souvernir.
Menurut Eben, interaksi langsung dengan masyarakat lokal juga membuat homestay saat ini lebih banyak diincar oleh wisatawan luar.
Tempat kuliner lokal dan alamiah yang bisa menjadi tempat diskusi atau pun pertemuan orang dalam jumlah banyak pun dibutuhkan ke depannya.
“Lembaga adat, IKA dan sanggar ini perlu berbicara dengan masyarakat supaya bisa dari rumah warga menjadi homestay. Ada kamar yang layak dan toilet yang bagus dengan harga terjangkau,” ungkapnya.
Masyarakat bisa menseriusi ini sebelum hadirnya pengusaha besar yang membangun hotel dan tempat penginapan di sana. Tidak menutup kemungkinan keindahan alam di sana akan menjadi daya tarik investor besar masuk ke sana.
Baca juga: Potret Industri Garam NTT, Investor Jual Bahan Baku Hingga Pabrik Tak Berproduksi
Bila hotel-hotel berbintang hadir di Amfoang, lanjut dia, kemungkinan besar masyarakat tidak banyak mendapat banyak dampak ekonomi. Menurutnya, hasil bumi pun lebih cenderung untuk kebutuhan hotel akan banyak datang dari luar.
Apabila masyarakat ingin menjadi penyuplai bahan makanan maka seharusnya sejak dini petani sudah bisa menjaga produktivitas, kontinuitas dan kualitas produk pertanian.
“Karena petani tomat hanya produksi hari ini tapi tahun depan baru ada lagi misalnya,” sambung dia.
Kelestarian alam Amfoang pun perlu dijaga karena Observatorium Timau hadir di sana karena alam yang terbebas dari polusi.
Di sisi lain, perlu adanya peraturan desa yang mengatur terutama mengenai sampah dan retribusinya. Saat ini pun banyak sampah ditemukan saat banyak orang datang berkemah di sana.
Baca juga : Ironi di Labuan Bajo: Investor Luar Menikmati, Masyarakat NTT Nyaris Tak Punya Peran
Menurutnya kebersihan, pemberdayaan manusia dan menjaga kelestarian alam adalah bagian dari iman yang benar-benar perlu diimplementasikan.
“Yesus juga melakukan itu. Manusia harus baik. Kalau manusia tidak baik dan merusak desa sama juga merusak Yerusalem juga,” sambung dia.
Ketua IKA, Gregorius Baitanu menjelaskan, organisasi ini membina masyarakat Amfoang dengan lebih fokus pada pengetahuan atau membuka wawasan dan ekonomi masyarakat.
“Kami juga membuka wawasan berpikir atau mindset masyarakat Amfoang untuk mandiri,” jawab dia
IKA sendiri hadir sejak 1979 namun sempat berjalan di tempat lalu digencarkan kembali pada Juni 2022 hingga sekarang ada berbagai kegiatan.
Selain seminar pun akan dikukuhan pula badan pengurus Sanggar Binoni. Sedangkan ke depannya akan ada berbagai kegiatan seperti musyawarah daerah (musda) di Amfoang yang rencananya berlangsung Juli ini.
Pater Gregorius Neonbasu selaku Antropolog dan dosen IPM FISIP Unika Kupang, membahas soal perspektif budaya masyarakat Amfoang dalam seminar. Ia lebih banyak membahas soal sejarah, asal-usul Amfoang. Dia menilai pariwisata Amfoang bisa berasal dari landscape (bentang darat), landslite (longsoran), landslope (tanah bergerak) dan batu berbentuk khas. *****




