• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Rabu, April 15, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Opini

Jejak Perjalanan Paus Fransiskus: Saya Berharap Ada Gereja untuk Orang Miskin

Tim Redaksi by Tim Redaksi
12 bulan ago
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Paus Fransiskus mengundang ratusan warga miskin di Roma makan malam bersama 29 Juni 2018 (Vatican News)

Paus Fransiskus mengundang ratusan warga miskin di Roma makan malam bersama 29 Juni 2018 (Vatican News)

0
SHARES
43
VIEWS

Kupang – Paus Fransiskus sejak awal ditahbiskan sebagai imam Katolik memilih hidup sederhana nyaris miskin. Dia menjadi sahabat bagi orang-orang miskin dan melarat hingga akhir hidupnya.

Mario Bergoglio menikah dengan Regina Sivori pada 12 Desember 1935. Keduanya berdarah Italia tepatnya dari Genoa dan sudah lama tinggal di Argentina.  Setahun pernikahan mereka, lahir seorang bayi laki-laki pada 17 Desember 1936. Keduanya memberi nama bayi itu Jorge Mario Bergoglio.

BacaJuga

Konsep Komunio Leonardo Boff dan Relevansinya bagi Komunitas Religius

13 April 2026
Ilustrasi Perdagangan Orang (Jalastoria)

Paradoks Kemiskinan di NTT

8 April 2026

Perjalanan Jorge menjadi imam Katolik tanpa cerita yang seru atau menimbulkan decak kagum. Dalam buku bertajuk Jorge Mario Bergoglio Fransiskus Paus dari Dunia Baru karya Andrea Tornielli, Jorge terpanggil datang ke gereja parokinya yaitu Gereja San Jose de Flores. Kehadirannya di Gereja itu tanpa alasan khusus. Dia bertemu seorang pastor tak dikenalnya yang menyampaikan renungan rohani. Setelah mendengarkan renungan, Jorge mengaku dosa.

Baca juga: Paus Fransiskus Wafat di Hari Paskah

Saat itulah, Jorge menemukan panggilan religiusnya dan menyadari bahwa dirinya dipanggil.

“Kita sedang mencari-cari Tuhan. Tapi Dia mendapatkanmu terlebih dahulu. Kita ingin bertemu dengan Tuhan, tapi Dia datang mengunjungi kita terlebih dahulu,” kata Jorge dalam buku itu.

Begitupun, Jorge tidak segera masuk seminari. Sekitar empat tahun kemudian ia masuk seminari sambil belajar ilmu kimia. Sebelum masuk seminari, Jorge jatuh sakit parah karena infeksi paru-paru. Dia dirawat di rumah sakit.
Barulah tahun 1957 Jorge masuk seminari di Villa Devoto dan memilih bergabung pada ordo Serikat Jesus (Jesuit). Ordo ini berorientasi pada pelayanan misionaris.

Beda dengan ayahnya yang sangat mendukung keputusannya menjadi imam. Ibunya merasa sangat sedih karena tahu Jorge akan segera pergi. Ibunya tidak mengantar Jorge saat anaknya masuk seminari. Selama bertahun-tahun ibunya tidak bisa menerima keputusan Jorge masuk seminari.

Pada 11 Maret 1958 Jorge lulus dari Seminari di Villa Devoto dan melanjutkan ke Novisiat SJ. Ia belajar studi ilmu humaniora di Cile. Pada 1963 pulang ke Buenos Aires lalu meraih gelar sarjana filsafat.

Baca: Sengketa di Lahan Keuskupan Maumere, Hak Ulayat Jadi Akar Masalah?

Jorge Mario Bergoglio ditahbiskan menjadi pastor pada 13 Desember 1969. Pada akhir upacara pentahbisan, seorang perempuan tua berlutut di hadapannya untuk meminta berkat perdana dari Jorge. Perempuan itu adalah ibu yang melahirkannya.

Setelah 29 tahun bertugas sebagai pastor,  Bergoglio ditunjuk sebagai Uskup Agung Buenos Aires pada 1998. Hidupnya tidak berubah tetap sederhana. Ia menolak tinggal di kediaman Uskup Agung di Olivos dan lebih memilih tinggal di apartemen. Kebiasaan memasak untuk diri sendiri dan tamu-tamunya tidak dihentikan sekalipun ia seorang uskup agung.

Uskup Agung Bergoglio dikenal sebagai seorang gembala yang sangat dekat dengan umat khususnya orang-orang miskin.

“Betapa saya berharap sebuah Gereja yang miskin dan untuk orang-orang miskin,” kata Uskup Bergoglio suatu ketika .

Tiga tahun setelah penunjukkannya sebagai Uskup Agung Buenos Aires, Paus Yohanes Paulus II memilihnya sebagai kardinal. Ia datang ke Roma untuk dilantik sebagai kardinal. Kedatangannya ke Italia sekalian untuk mengunjungi kampung halaman nenek moyangnya di Piemonte.

Kardinal Bergoglio konsisten dengan pilihan hidup yang sederhana.

Baca juga: Paus Fransiskus Berkunjung ke Indonesia 3 September 2024

Pada Rabu malam, 13 Maret 2013 waktu Vatican, jendela besar teras utama Basilika Santo Petrus dibuka. Tampaklah Kardinal Proto-Diakon Jean-Louis Tauran membacakan pengumuman telah terpilihnya paus ke-266 yakni Kardinal Jorge Mario Bergoglio. Pemilihan ini diselenggarakan setelah Paus Benediktus XVI mengundurkan diri.

Kardinal Bergoglio kemudian memilih nama santo Fransiskus Asisi untuk namanya sebagai Paus. Ada dua Fransiskus dalam daftar santo : Fransiskus Xaverius dan Fransiskus Asisi. Fransiskus Asisi adalah pendiri Ordo Fransiskan atau Ordo Saudara-saudara Hina Dina (OFM). Sedangkan Fransiskus Xaverius adalah salah seorang pendiri Ordo Serikat Jesus (SJ).

Meski ia seorang Jesuit, Kardinal Bergoglio memilih nama Santo Fransiskus Asisi karena kepeduliannya pada orang-orang miskin dan melarat.

Andrea Tornielli dalam bukunya melukiskan kesahajaan Kardinal Bergoglio setelah terpilih sebagai Uskup Roma sekaligus Paus. Beliau tidak memakai  mozzetta merah dengan pinggiran bulu cerpelai yang disiapkan untuknya. Di pundaknya juga tak tergantung stola. Paus tak mau memakai busana berkerah bulu yang nampak bagaikan busana kerajaan.

Salib di dada tetap sama yang sudah sejak lama dikenakannya. Salib yang dibuat dari logam bukan emas. Salib yang tak bertaburan permata. Mozzetta adalah salah satu kelengkapan jubah Paus berupa jubah penutup bahu dan sebagian lengan dengan bagian terbuka di dada.

Pada Senin pagi, 21 April 2025, tepat hari kedua Paskah, Paus Fransiskus wafat di kediamannya di Wisma Santa Marta, Vatican setelah menderita sakit pneumonia akut. [Tonnio Irnawan/Rita]

 

 

Tags: #GerejaKatolik#katongntt#PausBenediktusXVI#PausFransiskus#RIPPausFransiskus#SantoFransiskusAsisi#SantoFransiskusXaverius#UskupBuenosAires#Vatican
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Konsep Komunio Leonardo Boff dan Relevansinya bagi Komunitas Religius

by Gerardus Taena
13 April 2026
0

Konsep komunio merupakan salah satu pilar teologis yang mendasar dalam diskursus kekristenan, terutama dalam konteks Gereja dan kehidupan religius. Dalam...

Ilustrasi Perdagangan Orang (Jalastoria)

Paradoks Kemiskinan di NTT

by Frumentiana Leto
8 April 2026
0

Pernahkah kita membayangkan seorang bapak yang berangkat sebelum fajar menyingsing, mendayung perahu ke tengah laut, dan pulang siang hari dengan...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati