Kupang – Sebanyak 15 warga Bangladesh tanpa identitas menjalani pemeriksaan di Kantor Imigrasi Kupang. Sebelumnya mereka menjalani pemeriksaan di Polres Rote setelah warga menemukan mereka di Pantai Hena, Desa Kolobolon, Kecamatan Lobalain, Kabupaten Rote Ndao pada Kamis, 19 Desember 2024 sekitar jam 9.50 Wita.
Mereka berangkat dari Malaysia pada September 2024 untuk diselundupkan ke Australia melalui perairan NTT dengan menggunakan kapal ikan.
Kepala Imigrasi Kupang, Nanang Mustofa menjelaskan 15 warga Bangladesh ini akan menjalani pemeriksaan untuk mengetahui dari mana mereka masuk ke wilayah Indonesia, rute perjalanan, alat transportasi yang digunakan, dan jejaring orang yang menyelundupkan mereka ke Australia.
Baca juga: 10 Warga Bangladesh Korban Penyelundupan ke Australia Dideportasi dari Kupang
Menurut Nanang, tak satupun dari 15 warga Bangladesh itu memiliki dokumen tentang identitas diri. Sehingga Imigrasi akan mengecek tentang identitas mereka.
“Sejauh ini tidak ditemukan dokumen,” kata Nanang kepada KatongNTT pada Sabtu, 21 Desember 2024 di Kantor Imigrasi Kupang.
Berdasarkan catatan imigrasi, kasus 15 warga Bangladesh yang ditemukan warga di Rote merupakan kasus kedua dalam tahun 2024. Kasus pertama adalah sebanyak 39 warga Bangladesh dan 5 warga Myanmar ditemukan terdampar di Pulau Rote pada Juli 2024. Mereka mengaku akan dibawa ke Australia melalui perairan NTT. Mereka telah dideportasi ke negara mereka.
Agen Warga Bangladesh di Malaysia dan di Medan
Muhammad Tosir Ahmed, 42 tahun merupakan satu dari 15 warga Bangladesh yang ditemukan warga di Pantai Hena di Pulau Rote pada Kamis, 19 Desember 2024.
Tosir menjelaskan, dia dan 14 warga Bangladesh lainnya diberangkatkan agen warga Bangladesh di Malaysia bernama Faruq menuju Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara pada 10 September 2024. Setiba di Medan, mereka diurus satu agen tenaga kerja bernama Candra dan warga sekitar menyapanya “ustad”.
Baca juga: Warga Cina Didakwa Menyelundupkan Orang ke Australia via Laut NTT
Perjalanan mereka dilanjutkan ke Jakarta. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan sekitar 4 jam menuju pelabuhan berlokasi di Jawa Tengah. Tosir tidak mengetahui pasti nama pelabuhan tersebut karena mereka tinggal dalam satu rumah dan tidak diizinkan keluar.
Tosir dan 14 warga Bangladesh lainnya kemudian dimasukkan dalam kapal berukuran besar menuju Pulau Christmas, Australia. Di dalam kapal, menurut Tosir ada dua warga Indonesia.
Ketika kapal mendekati Pulau Christmas, Pasukan Penjaga Perbatasan Australia (Australian Border Force) menangkap mereka. Selama 16 hari mereka ditahan bersama 26 orang lainnya yang sudah lebih dulu ditangkap.
Pasukan Penjaga Perbatasan Australia kemudian memulangkan 41 imigran tak berdokumen ini dengan dua kapal. Satu kapal berisikan 15 orang termasuk Tosir, dan satu kapal lainnya berisi 26 orang. Mereka diarahkan ke Pulau Rote.
Dalam perjalanan di tengah laut, 15 warga Bangladesh ini terdampar di Pantai Hena, Pulau Rote. Sedangkan kapal berisi 26 orang tidak diketahui keberadaannya.
“26 orang kita tak tahu di mana,” kata Tosir kepada KatogNTT di Kantor Imigrasi Kupang, Sabtu, 21 Desember 2024.
Baca juga: Polres Rote Tangkap Buron Penyelundup Warga India ke Australia
Tosir mengaku tidak mengenal 14 warga Bangladesh lainnya yang berada dalam satu kapal dengannya. Sedangkan 14 lainnya memilih diam dengan alasan hanya dapat berkomunikasi dalam bahasa Bangla.
Tosir yang sudah 10 tahun bekerja di pabrik perakitan motor di Malaysia mendapatkan informasi tentang Australia dari obrolan teman-temannya. Tosir kemudian tergoda untuk masuk Australia melalui agen warga Bangladesh di Malaysia.
Dia pun bersedia membayar biaya masuk ke Australia sebesar 50 ribu ringgit atau setara Rp 179,65 juta. Tosir memberikan uang itu secara tunai kepada Candra sebagai agen di Medan. Dokumen berupa paspor juga diserahkan ke Candra.
Pria yang berasal dari Dakha, ibukota Bangladesh terisak menyadari dirinya sudah ditipu agen yang menjanjikan dirinya bisa masuk Australia melalui rute laut.
“Kita sudah habis. Kita kasih uang sama Candra . kita punya rumah dan tanah sudah tak ada,” ujar Tosir menangis.
“Dia betul-betul tipu.”
Pemerintah Bangladesh Diimbau Edukasi Warganya
Kepala Imigrasi Kupang Nanang Mustofa memperkirakan kasus penyelundupan manusia melalui perairan NTT akan terus berlanjut. Masalah ini sulit untuk diatasi tanpa kerjasama semua pihak khususnya pemerintah Bangladesh untuk mengedukasi warganya tentang bahaya menyelundupkan manusia.
Baca juga: Kasus Penyelundupan Warga Bangladesh Diatur di Malaysia dan Terdampar di Rote
Pemerintah Bangladesh juga perlu mensosialisasikan kepada warganya tentang human trafficking atau perdagangan orang dan penyelundupan manusia.
“Saya imbau pemerintah Bangaldesh bisa memberikan edukuasi untuk melarang warganya berbuat seperti itu. Jangan coba-coba, sangat berisiko,” kata Nanang.
Menurut Nanang, upaya pencegahan di hulu lebih efektif untuk memberangus penyelundupan manusia melalui laut NTT. Masalah penyelundupan manusia ke Australia telah menambah beban NTT yang berada di hilir karena harus menyediakan anggaran untuk para imigran sebelum dideportasi. [*]
Artikel ini diproduksi dengan dukungan Global Initiative Against International Organized Crime (GITOC) dan Resilience Fund Supporting Community Responses to Organized Crime.




