Bogor – Enam ekor komodo jantan akan dilepasliarkan ke Cagar Alam (CA) Wae Wuul, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjalani uji coba alat deteksi lacak posisi (global positioning system/GPS). Uji coba selama sebulan tersebut dilakukan secara ketat oleh tim Taman Safari (TS) Bogor dan diikuti perwakilan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT.
“Proses uji coba GPS Collar dilakukan sebulan menjelang pelepasliaran 6 ekor komodo yang dijadwalkan pada pertengahan September 2023. Mudah-mudahan dengan difasilitasi TS dan Smelting, training penggunaan GPS Komodo ini bisa menjadi ajang transfer ilmu pengetahuan di lapangan,” demikian keterangan Humas TS Bogor, Jumat (4/8/2023).
Adapun kegiatan pelatihan dan uji coba pada Varanus komodoensis ini dimulai sejak Rabu (2/8/2023) yang dibuka oleh Government Relation TS Bogor, Boy Hartono.
Baca : Pertamina Akan Persingkat Rute Suplai Avtur ke Bandara Komodo
“Pelepasliaran komodo ini pertama kali kita lakukan ke CA Wae Wuul. Tentunya ini menjadi pilot project penyelamatan populasi Komodo yang merupakan salah satu satwa kebanggaan Indonesia,” ungkap Boy.
Dikatakan, keenam ekor Komodo yang akan dilepasliarkan ke CA Wae Wuul NTT ini sudah melalui berbagai proses adaptasi di TS Bogor. Program pelepasliaran enam ekor Komodo ini adalah hasil kerja sama TS Bogor, PT Smelting serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI.
“Rencananya keenam ekor Komodo ini akan kami berangkatkan bulan ini,” ungkap Boy.
General Affairs PT Smelting, Sapto Hadi Prayetno mengatakan program pelepasliaran 6 ekor Komodo ini merupakan salah satu program konservasi yang dilakukan PT Smelting.
Baca : Taman Safari Bogor dan KLHK Siapkan Pelepasliaran Komodo di NTT
“Kami berkeinginan tidak hanya sebatas ini saja. Tapi juga bagaimana komodo bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar Wae Wuul. Kami berterima kasih pada Taman Safari dan BKSDA NTT karena sudah optimal membantu program ini. Ini juga merupakan skema Pentahelix kami untuk program konservasi dengan prinsip kolaborasi,” ungkap Sapto.
Sementara itu, Sahudin selaku Perwakilan BBKSDA NTT menegaskan, pihaknya sangat mengapresiasi program CSR PT Smelting dengan bantuan TS Bogor.
“Mudah-mudahan dengan fasilitasi ini, training penggunaan GPS komodo bisa menjadi ajang transfer ilmu pengetahuan di lapangan. Karena Komodo yang akan dilepasliarkan nanti akan dipantau cukup lama yakni 3 tahun. Kami optimistis kegiatan ini bisa meninggalkan banyak legacy bersejarah bagi Indonesia,” tandasnya.
Baca : Tarif Baru Komodo Diprotes Turis, Pelaku Usaha Wisata Juga Mulai Khawatir
Sebelumnya, Kepala Balai Besar KSDA NTT Arief Mahmud menyampaikan upaya konservasi komodo dan habitatnya tidak dapat dilakukan sendiri oleh pemerintah dalam hal ini KLHK. Untuk itu dibutuhkan peran seluruh pihak yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian satwa purba ini.
Pelepasliaran komodo ke habitatnya di CA Wae Wuul ini telah melalui serangkaian proses riset dan uji DNA, monitoring populasi dan habitat serta kesesuaian habitat. Dari hasil uji DNA, dijelaskan bahwa induk komodo yang akan dilepasliarkan memang berasal dari CA Wae Wuul. [Anto]




