Kisah Remaja Lembata Memilih Jadi Penari Tradisional NTT

“Saya tidak malu (menari tarian daerah). Tidak bosan juga. Saya hanya berharap anak-anak muda lain juga bukan hanya (suka) menari modern, tapi suka tarian lokalnya juga,” pungkas Amel.

Kupang – Satu malam di 2013, ia diajak menonton lomba menari oleh orang tuanya di Pantai Harnus Wulen Luo, Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ada banyak penari tampil malam itu. Berlenggak lenggok di panggung disaksikan oleh banyak pasang mata.Tepuk tangan riuh di akhir tampilan mereka.

Melihat hal tersebut, Natalia Carmelita Leumara yang saat itu baru berusia empat tahun, bertekad untuk menjadi seorang penari.

Tekadnya membuahkan hasil. Gadis berusia 13 tahun itu menjadi penari tradisional asal Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

“Suka menari sejak umur empat tahun. Karena saya lihat orang-orang tampil di depan, dan saya ingin tampil di depan juga seperti mereka untuk dilihat orang-orang,” ujar perempuan yang biasa disapa Amel ini saat ditemui KatongNTT.com di gedung Dekranasda NTT, Jumat (18/11/22).

Baca Juga: Martha Kewuan, Pejuang Hak Perempuan dari Noelbaki NTT

Setelah malam perlombaan itu, dia mulai masuk ke dunia tari. Amel didaftarkan orang tuanya ke Sanggar Alegra Lembata.

Dengan keberadaan orangtuanya yang juga adalah pemusik dan penari, darah seni mengalir pula dalam diri Amel. Ia didukung penuh oleh orang tuanya untuk menjadi seorang penari.

Gadis yang kini duduk di kelas satu SMP itu sudah jatuh cinta terlalu dalam dengan menari. Baginya, dengan menari, selain menjadi media untuk mengekspresikan diri, juga bisa menjaga budayanya agar tetap ada.

“Saya menari supaya tarian dari Lembata ini tidak hilang,” kata Amel.

Amel juga berlatih menari setiap harinya. Pelbagai lomba pun dia ikuti sejak umur tujuh tahun. Amel menemukan kebahagiannya ketika menari.

Upaya, kerja keras, dan kesukaannya pada menari membawanya menjadi penari profesional saat ini. Di usia 13 tahun, Amel menjadi salah satu pelatih di sanggarnya.

“Latihan jam tiga sore. Setiap hari. Saya juga yang kasih latih adik-adik atau kaka-kaka yang baru masuk. Jadi pelatih begitu,” cerita Amel.

Amel Leumara, saat ditemui di DekranasdaNTT dalam kujungannya bersama para penari lainnya dalam ajang Putra/Putri Tari Remaja/Cilik, NTT (Ruth-KatongNTT)
Amel Leumara, saat ditemui di DekranasdaNTT dalam kujungannya bersama para penari lainnya dalam ajang Putra/Putri Tari Remaja/Cilik, NTT (Ruth-KatongNTT)

Amel ingat benar tarian pertama yang ia pelajari yaitu Tarian Menenun. Tarian yang menceritakan proses pembuatan kain tenun. Satu pekerjaan wajib yang sering ditemui di daerahnya Lembata, dan di NTT pada umumnya.

Baca Juga: Kisah Tukang Sol Sepatu Memaknai Cinta dari Pahitnya Hidup

Amel kini membawa kembali tarian itu dalam ajang pemilihan Putra/Putri Tari NTT. Sebagai peserta termuda dalam kompetisi ini, dia ingin menyampaikan bahwa dalam terpaan budaya luar yang masuk ke Indonesia, di mana para anak-anak muda lebih tertarik dengan budaya negara lain, ia tetap pada pendirianya untuk merawat tarian daerah.

“Saya tidak malu (menari tarian daerah). Tidak bosan juga. Saya hanya berharap anak-anak muda lain juga bukan hanya (suka) menari modern, tapi suka tarian lokalnya juga,” pungkas Amel. *****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *