Kisah Sukses Agustina dan Jusuf Meracik Sabun A61, Dipicu Kritik Pedas

Agustina Ratu, pemilik UMKM Merede, yang memproduksi Sabun Bubuk dan cair di NTT (KatongNTT-Ruth)

Agustina Ratu, pemilik UMKM Merede, yang memproduksi Sabun Bubuk dan cair di NTT (KatongNTT-Ruth)

Kupang – Awalnya ia hanya ingin menjadi agen sabun. Mendatangkan sabun dari Pulau Jawa, dan menjualnya di Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun respon distributor sabun yang mengatainya bodoh, membuatnya tergugah untuk menciptakan sabun sendiri.

“Saya dibilang bodoh. Bilang ‘lihat itu orang NTT, bodoh. Masa sabun saja diambil dari Jawa, padahal bahannya banyak di sana.’ Padahal yang omong ini dia sarjana agama, bisa buat sabun. Berarti saya juga bisa,“ ujar Agustina Ratu, pemilik UMKM Merede, yang memproduksi aneka sabun di Kupang, NTT.

Bersama suaminya, Jusuf Dominggus Lado, mereka menyambut kedatangan tim KatongNTT di rumah produksi sabun di kelurahan Fontein, Kupang.

Dikelilingi tiga mesin penghancur dan pencampur sabun. Tiga mesin kemasan ditaruh dalam ruangan semi permanen.

Agustina dan Jusuf mulai menceritakan sepak terjang bisnis mereka.

Pasangan asal Sabu Raijua ini membangun UMKM Merede pada 2015.

“Tapi jauh sebelum 2015 itu saya coba-coba dulu. Sekitar tiga sampai empat tahun. Belajar otodidak racik bahan-bahan untuk jadi sabun itu bagaimana,” kata Jusuf.

Baca Juga: Kisah Mamata Tabrak Aturan Pria Dilarang Menenun

Pria lulusan S1 Akuntansi dan S2 keuangan mengambil resiko untuk terus mendalami pekerjaan ini.

“Belajar sekarang ini bukan lagi karena sekolah, begitu banyak referensi di internet. Sudah tentu referensi itu kita baca dan uji coba juga. Jangan telan bulat-bulat. Harus rajin melakukan penelitian. Nah sudah tentu penelitian ini butuh dana besar. Sehingga harus ada keberanian untuk mengeluarkan uang pribadi. Walaupun rugi untuk daerah ini,” kata pria 56 tahun ini.

Setelah banyak dana, tenaga, dan waktu yang terbuang untuk melakukan uji coba pembuatan sabun, akhirnya mereka menemukan formula yang tepat. Selanjutnya melakukan uji coba ke laboratorium untuk memastikan produk yang dibuat aman.

Sabun pertama yang dibuat adalah sabun cair serba guna. Mereka kemudian menjualnya ke keluarga dan kenalan. Kritik dan saran mereka terima untuk selanjutnya memperbaiki komposisi yang ada. Menyesuaikan dengan keinginan pelanggan.

Selanjutnya, berbagai varian sabun dibuat. Sabun cair untuk mencuci piring, pakaian, dan sabun cair khusus untuk pakaian tenun pun dibuat.

Teknik pewarnaan pada kain tenun NTT yang kebanyakan masih menggunakan pewarnaan alami membuatnya tak bisa dicuci menggunakan detergen biasa. Sehingga mereka munculkan sabun khusus tenun.

Tak ketinggalan sabun mandi, sampo, dan kondisioner pun mereka buat. Produk yang terbaru ialah sabun batang dari kelor dan detergen bubuk.

Jusuf Lado, di rumah produksi sabun miliknya di Kelurahan Fontein, Kupang, NTT (KatongnTT-Ruth)
Jusuf Lado, di rumah produksi sabun A61 miliknya di Kelurahan Fontein, Kupang, NTT (KatongnTT-Ruth)

Walau disebut sudah sesuai formula yang ada, aneka sabun yang diberi nama merek A61 ini masih dikeluhkan oleh beberapa pengguna karena disebut kurang berbusa.

“Padahal kami buat begitu biar tangan tidak kasar. Ini sabun hanya perlu direndam saja dan kucak sedikit, sudah bersih. Nah kita punya masyarakat di sini masih fanatik merek. Mau sabun yang dari luar saja. Mau sabun yang berbusa tinggi. Sebentar baru mengeluh sabun panas, tangan kasar. Busa itu kan yang buat tangan kasar,” ujar Jusuf sambil tertawa. Dia mengenang kembali alasan-alasan yang diterima dari pembeli produknya.

Nama merek sabunnya diberi nama A61. A untuk Ama (panggilan untuk laki-laki Sabu), dan enam satu dalam tangga nada dibaca La Do. Yang membentuk nama marga dari Jusuf, yaitu Lado.

Sedangkan untuk UMKM mereka disebut Merede, yang artinya daerah yang hijau dan makmur.

Bahan-bahan yang digunakan dalam produknya disebut Agustina 80% menggunakan bahan-bahan lokal dan 20% mereka datangkan dari luar.

Sehingga menurutnya, selain membuka lapangan pekerjaan, dengan banyak membeli produk ini, ada unit-unit lain yang bisa mendapat imbas baiknya juga.

“Pengusaha garam, minyak kelapa, kelor, Gula Sabu, mereka juga pasti dapat imbasnya dari adanya produksi sabun ini. Karena itu bahan-bahan yang kami ppakai,” ungkap Agustina.

Sehingga Jusuf berharap ada penghargaan dari masyarakat NTT terhadap upaya-upaya yang dilakukan oleh anak-anak NTT di semua UMKM, bukan hanya sabun saja.

Baca Juga: Dortia Mbura Di Usia Senja Kelola UMKM Setia Kawan

“Ada kekurangan dan kelemahan dari produk-produk ini tentu ada. Kami menyadari kalau kami tidak mungkin bisa memuaskan semua pihak. Tapi harapan itu tetap ada bahwa daerah ini akan lebih cepat maju kalau bersatu,” kata Jusuf.

Penjualan produk-produknya kini baru sekitar daratan Pulau Timor. Agustina dan Jusuf setiap minggunya akan turun ke sekolah-sekolah untuk menawarkan produk mereka.

Penghasilan per bulan rata-rata mencapai Rp 40-50 juta.

“Tapi itu langsung habis di Bank. Karena kita dulu pinjam uang untuk pakai belajar. Waktu kami uji coba buat sabun itu tidak sedikit yang harus dikeluarkan juga, kalau tidak napas panjang saja kami sudah berhenti ini (bisnis) dari lama,” ujar Agustina, perempuan 53 tahun ini.

Belum lagi kemasan produk yang harus dibeli dari Pulau Jawa. Sehingga sekali beli harus dalam jumlah yang banyak.

“Sekali beli itu (botol kemasan) sampai 101 ribu ke atas. Rugi kita kalau beli sedikit-sedikit. Jadi kami berharap juga ada pabrik kemasan lebih bagus,” sebut perempuan dengan lima anak ini.

Ditambah beberapa pekerja yang direkrut acap kali menggelapkan dana dan produk mereka. Sehingga pendapatan pun kadang tak menentu. Ini membuat Agustina dan Jusuf kini masih tak ingin merekrut pekerja dari luar lingkaran keluarga mereka.

Kini produk-produknya dapat ditemui di galeri Dekranasda NTT dan bisa dihubungi lewat media sosial mereka atau menghubungi nomor +62 812-4668-728

“Kalau ada sabun di NTT, kenapa pakai sabun yang lain? Toh, hasilnya juga tidak kalah dengan produk yang lain,” ujar Agustina pada pembicaraan kami sore itu. *****

 

Silakan hubungi nomor +628124668728 jika berminat untuk membeli produk UMKM ini. Ayo kita dukung kemajuan UMKM NTT!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *