Kupang – Pemimpin Redaksi Konde.co, Luviana Ariyanti mengatakan terjadi pertumbuhan portal dan media perempuan daring baru. Media-media ini dengan progresif dan cara yang beragam mempromosikan kepentingan, hak dan kondisi perempuan secara berkesinambungan. Sekaligus memberikan pendidikan untuk khalayaknya. Keberadan media perempuan online tidak hanya ditemukan berkantor di Jakarta, tetapi juga di daerah.
Para pengelola media perempuan alternatif ini bekerja keras dengan daya yang terbatas untuk mengelola small news room. Sedangkan media mainstream terus memperjuangkan persoalan klasik seperti berjuang dalam big news room yang masih bias gender.
“Kami mengundang dosen, pemerhati media, organisasi dan lembaga donor untuk bersama sama memikirkan ini. Media alternatif harus hidup di antara minimnya diversity of content dan diversity of ownership, sekaligus jurnalis media mainstream yang juga sedang berjuang untuk ini di ruang redaksinya,” kata Luviana saat membuka acara “Selebrasi Kolaborasi Media Perempuan Menolak Mati” yang didukung Voice dan Google News Iniative bertempat di GoetheHaus, Jakarta, Sabtu, 3 Juni 2023.
Baca juga: Saatnya Media Perempuan Berkolaborasi Menjawab Tantangan dan Hambatan
Luviana menyatakan, sejumlah tantangan yang dihadapi media perempuan alternatif di antaranya finansial hingga mendapatkan pembaca. Sementara, media arus utama menghadapi tantangan perubahan bisnis dan memperbesar pembaca. Produk jurnalistik tentang isu perempuan yang berperspektif dan mendukung perempuan juga jadi tantangan besar bagi media perempuan.
Dalam acara selebrasi itu, Konde.co meluncurkan buku hasil riset yang berjudul “Kolaborasi Menolak Mati: Pemetaan Kondisi Media Perempuan di Indonesia”. Riset ini berisi tentang tantangan yang dihadapi media perempuan di Indonesia, baik media alternatif maupun media perempuan arus utama (mainstream).
Peluncuran buku tersebut dilanjutkan dengan diskusi bersama Peneliti Konde.co dan Dosen LSPR Lestari Nurhajati, Jurnalis Konde.co Nani Afrida, Jurnalis Kompas, Sonya Helen Sinombor , Pimpred Digitalmamaid, Catur Ratna Wulandari, Direktur PR2Media dan Dosen Komunikasi UII, Masduki, dan Ketua Dewan Pers, Ninik Rahayu.
Baca juga: 14 Media Alternatif Perempuan Sepakat Memperjuangkan Teknologi Digital Inklusif
Peneliti Konde.co, Lestari mengatakan, hal yang terpenting untuk diangkat media perempuan adalah perspektif yang berpihak pada perempuan dan kelompok marginal. Patriarki dan bias gender dalam ruang redaksi masih menjadi kendala umum, bahkan di media perempuan sekalipun.
Kendati demikian, harapan media perempuan khususnya media alternatif agar tetap hidup juga senantiasa menyala. Untuk itu, kolaborasi antara media alternatif dan arus utama harus terus dibangun dan dipelihara.
“Ketika media arus utama dapat bergerak mempengaruhi pemangku kebijakan, media alternatif bisa berperan mendekati komunitas masyarakat dan keduanya dapat membawa perubahan yang berarti,” ujar Lestari.
Direktur PR2Media dan Dosen Universitas Islam Indonesia, Masduki mengungkapkan tentang pentingnya mendorong media alternatif di Indonesia yang terus bertumbuh untuk menjadi watchdog atau mengawasi kekuasaan. Media-media alternatif ini menuliskan secara kritis, dan hingga hari ini negara tidak mendukungnya. Tidak seperti di Eropa yang umumnya negara mendukung keberadaan media-media alternatif.
Baca juga: Riset AJI-PR2Media Temukan 82,6 Persen Jurnalis Perempuan Alami Kekerasan Seksual
Ketua Dewan Pers, Ninik Rahayu menyatakan, Dewan Pers akan mendukung keberadaan media-media alternatif dan juga perjuangan para perempuan di media mainstream.
Hasil riset Konde.co menunjukkan, terdapat data media di Indonesia namun selama ini hanya menggambarkan secara umum tentang jumlah media, yakni 47 ribu. ,Sebanyak 43 ribu di antaranya adalah media daring (online), dengan jumlah perusahaan media yang tercatat di Dewan Pers sebanyak 1.700.
Namun, detail tentang kategorisasi segmen pembaca media dan tema media tidak bisa ditemukan datanya. Maka dari itu, sangat sulit kemudian untuk mengetahui berapa banyak jumlah media yang peduli dengan isu perempuan. *****


