Kupang – Sebanyak 16 media perempuan alternatif bertemu secara daring untuk mendiskusikan tantangan dan hambatan di era digitalisasi informasi. Pertemuan itu membicarakan tentang pengalaman dalam menghadapi tantangan dan menemukan solusi dari hambatan.
Kreativitas dan ketangguhan pengelola media perempuan alternatif ini layak diacungi jempol. Tidak satupun mempersoalkan untung rugi dalam menjalankan medianya. Mereka tahu pilihan itu harus diambil.
Konde.co, media yang mengusung perspektif perempuan dan minoritas dan didukung Google News Initiative mempertemukan pengelola media perempuan dalam dua kali pertemuan. Pertama, pada 17 Februari 2023 untuk 16 media perempuan alternatif. Pertemuan kedua pada 24 Februari 2023 untuk 8 pengelola dan jurnalis media arus utama.
Beruntung, KatongNTT.com terpilih untuk ikut pertemuan daring dengan 16 pengelola media perempuan. Media perempuan tersebut di antaranya Mubadalah.id, Srikandi Lintas Iman, Jurnal Perempuan, Femini.id, BincangPerempuan.com, Perempuan Berkisah, Marsinah FM, TentangPuan.com, Suluh Perempuan Indonesia, Perempuan Berkabar, DigitalMamaID, Jala Storia, Bincang Muslimah, dan Jala PRT.
Baca juga: AMSI Bentuk Agency Iklan IDiA untuk Media dan Bisnis Sehat
Pemimpin Redaksi Konde.co, Luviana yang membuka pertemuan menjelaskan, pertemuan ini untuk mendorong media perempuan di Indonesia saling berkolaborasi. Pertemuan berupa diskusi kelompok terfokus bertajuk Sarasehan Media Perempuan di Indonesia: Mengurai Tantangan dan Kebutuhan untuk Berkolaborasi Media Perempuan di Indonesia: “Mengurai Tantangan dan Kebutuhan untuk Kolaborasi Media Perempuan Indonesia.”
KatongNTT mencatat, semua pembicara tidak memiliki pendanaan yang kuat, mengandalkan pendanaan sendiri, minim iklan. Ada yang menyisihkan honornya dari kegiatan lain untuk membiayai medianya. Ada yang fundraising dengan menjual produk merchandise lalu dipajang di akun media sosial resmi medianya.
Berbagai kreativitas ini dilakukan karena mereka berkomitmen media tetap independen dalam bekerja. Tantangan lain, tidak mudah mengajak masyarakat mau membaca isu-isu berperspektif perempuan di dunia yang kental budaya patriarkhi.
Direktur Konde.co, Nani Afrida mengatakan media alternatif menghadapi tantangan seperti sulitnya mendapatkan pembaca dan bertahan di tengah krisis finansial. Dalam menghadapi tantangan yang demikian, Konde.co meyakini bahwa perjuangan besar tidak akan bisa dilakukan sendirian, tetapi harus bersama.
“Maka dari itu, sarasehan ini ditujukan untuk menguatkan solidaritas untuk bahu membahu memperjuangkan keadilan sehingga media perempuan dapat terus maju,” ujar Nani.
Menurut Founder Bincangperempuan.com dari Bengkulu, Betty Herlina, tidak semua orang mau membaca isu perempuan, terlebih budaya patriarkis yang masih kuat.
Selain itu, medianya juga kesulitan dari segi finansial terutama untuk memberikan upah layak bagi jurnalisnya.
“Saya berharap ada kolaborasi media sehingga punya kesempatan menggiring isu bersama, tidak bergantung pada funding saja,” ujarnya.
Founder DigitalmamaID dari Bandung, Catur Ratna Wulandari mengaku mengumpulkan dana secara pro-bono dari patungan hingga membayar kebutuhan medianya dengan hasil berjualan roti.
“Kami kesulitan mendapatkan funding karena DigitalMamaID dianggap bukan kelompok perempuan rentan. Padahal perempuan ya rentan harus buat banyak keputusan, juga menghadapi pandemi,” ujarnya.
Baca juga: Mitos dan Tafsir Kitab Suci Picu Kekerasan terhadap Anak dan Perempuan di NTT
Ide untuk mempertemukan media perempuan di Indonesia sebenarnya telah lama dicetuskan Konde.co. Luviana menjelaskan, portal dan media perempuan berbasis online saat ini mulai bertumbuh dengan progresif. Dengan cara beragam mempromosikan kepentingan, hak, dan kondisi perempuan secara terus menerus. Sekaligus memberikan pendidikan untuk khalayaknya.
Temuan ini melegakan, kata Luviana, mengingat tumbuhnya media alternatif perempuan ini tidak hanya terjadi di Jakarta, tapi juga di beberapa daerah.
“Keberadaan media perempuan online tidak hanya ditemukan berkantor di Jakarta, melainkan juga di daerah. Hal yang menarik, banyak media mainstream yang juga mulai membuka kanal khusus isu perempuan di website mereka,” ujarnya.

Sebanyak 11 pemimpin media di NTT menandatangani Deklarasi untuk bergabung ke AMSI guna berkolaborasi untuk membangun bisnis media yang sehat. (Ruth-KatongNTT)
Dalam diskusi dengan 8 pengelola media perempuan arus utama pada Jumat, 24 Februari 2023, Pemimpin Redaksi Femina, Petty S Fatimah mengatakan, ada tiga tantangan pengembangan media perempuan saat ini.
Pertama, perilaku konsumen yang berubah diikuti perubahan industri media akibat digitalisasi. Perubahan ini dinilainya membuat media perlu menyesuaikan dengan kondisi digital.
“Media itu kayak air, tidak usah kekeuh dengan kemauan, tapi harus menyesuaikan,” ujarnya seperti disampaikan Konde.co dalam pernyataan persnya.
Perubahan bisnis media menjadi tantangan bagi media perempuan. Media perempuan tidak lagi hanya bisa menggantungkan pendapatan dari iklan karena adanya digitalisasi.
“Revenue datang dari display ad (advertorial) di website, involving-nya cepat sekali. Saat digital ad jadi mainstream, ad tersedot ke Youtube termasuk Google. Media berpikir keras dengan ini,” papar Petty.
Tantangan lainnya yaitu pergeseran isu perempuan. Petty mengakui ada tren mengenai isu perempuan yang ramai dibicarakan oleh audiens. Tren tersebut berubah seiring waktu, seperti isu body shaming yang besar dengan dipicu oleh sosial media, tetapi kemudian berubah dengan isu lainnya.
“Kalau kita mau isu perempuan lebih nonjol, kita harus punya lobi yang lain. Yang lebih gampang, perempuan equal di media harus dimulai dari visi misi perusahaannya,” ujarnya.
Baca juga: Martha Kewuan, Pejuang Hak Perempuan dari Noelbaki NTT
Mengangkat isu perempuan, diakui Editor Media Indonesia, Indrastuti tidak cukup mudah. Menurutnya, pembuat kebijakan di media arus utama perlu memiliki kemauan untuk memberi porsi isu perempuan.
“Isu perempuan tampil di HL (headline) kalau ada kejadian besar,” ujarnya.
Jurnalis Kompas, Sonya Hellen Sinombor mengungkapkan isu perempuan setiap hari menghiasi media. Tetapi yang terpenting adalah perspektifnya. Dia berharap media tidak menampilkan perspektif yang merendahkan atau eksploitasi perempuan.
“Perempuan berhadapan dengan hukum, ada selalu di meja redaksi, tapi bagaimana itu ditampilkan? Yang ditampilkan semestinya perspektif perempuan, tapi lagi-lagi, tidak mudah. Kita perempuan jurnalis harus saling memberi penguatan,” ujarnya.
Dian Kardha, Managing Editor Nova mengungkapkan sesama media perempuan perlu berkolaborasi untuk membesarkan suara. Bukan saling anggap sebagai kompetitor. Apalagi saat ini, media menghadapi tantangan munculnya influencer yang turut berebut advertorial.
“Kalau kita kolaborasi voice-nya bisa lebih besar, 10 media perempuan atau mainstream suarakan satu hal, pastikan sebarnya lebih luas,” ujarnya.
Lestari Nurhajati, Editorial Adviser Konde.co mengungkapkan saat ini banyak media arus utama membuka kanal isu perempuan ataupun khusus menarget pembaca perempuan. Akan tetapi, masih menghadapi persoalan klasik mendapatkan pembaca dan mampu bertahan secara finansial tetapi tetap kritis.
Oleh karena itu, dia menekankan pentingnya pemetaan kondisi media perempuan di Indonesia. Hal ini untuk mendapatkan gambaran tantangan dan kebutuhan untuk tumbuh semakin kuat ke depan.
“Mapping media di Indonesia sudah cukup kuat yang menggambarkan bagaimana media bisa bertahan. Tapi bagaimana dengan media perempuan di Indonesia, itu masih perlu digali,” ujarnya. *****




