Kreativitas Remaja NTT Herlin Rato, Hasilkan Tenun dan Aksesoris Unik

Herlin Rato, penenun muda asal Sumba, yang membuat aksesoris berbahan dasar tenun (KatongNTT)

Herlin Rato, penenun muda asal Sumba, yang membuat aksesoris berbahan dasar tenun (KatongNTT)

Kupang – “Ada saatnya senang-senang, ada saatnya kita harus menghasilkan produk untuk ada pegangan. Tidak mungkin dari SD sampai SMA ditanggung orang tua. Kapan maju kalau selalu bergantung ke orang tua,” kata penenun Herlin Rato, 20 tahun.

***

Di sudut perempatan lampu merah El Tari Kupang, bersebrangan dengan Pos pantau lalu lintas (Lantas) El Tari, berdiri kokoh spanduk berukuran besar bertuliskan Community Tenun Millenials. Spanduk menunjukkan keberadaan kelompok penenun muda yang baru lulus SMK pada 2021.

Di depan ruang belakang rumah berlantai dua, terdapat etalase kaca berisi kain tenun warna warni dengan beragam motif. Di sampingnya ada jejeran anting, kalung, dan lainnya yang bermotif tenun.

Suara ketukan antara kayu dan benang yang saling bertemu terdengar dari dalam ruangan. Di dalam seorang perempuan berambut hitam panjang sedang duduk fokus merapatkan benang satu per satu ke helain benang hijau, putih, dan kuning keemasan yang sudah disusun rapi.

Adalah Herlina Goko Rato, salah satu pengelola komunitas tersebut yang masih aktif menenun.

Herlin bukan berasal dari keluarga penenun. Dari daftar keluarganya, baru dia yang tahu tentang tenun. Herlin awalnya bercita-cita ingin menjadi guru agama.

Namun orang tuanya mendaftarkan Herlin masuk sekolah jurusan tekstil di SMKN 4 di Kota Kupang. Herlin pasrah dan mencoba menjalani sekolahnya pada 2018.

“Itu bapak yang daftar. Bapa dan mama bilang itu jurusan bagus. Beta sonde (tidak) tahu kalau itu tentang tenun. Awalnya sonde suka itu jurusan. Tapi akhirnya ikut saja mereka punya mau,” Ujar gadis asal Sumba, NTT ini.

Baca Juga: Friets Mone Merawat Budaya Sabu Melalui Kamus

Guru-guru yang merangkul, dan teman-temannya yang sudah lebih dulu tertarik dengan jurusan tersebut, membuat Herlin jatuh hati dengan jurusan tekstil di sekolahnya.

Setelah lulus sekolah tahun 2022 Herlin bersama lima teman lainnya memilih untuk berwirausaha di bidang tenun. Walaupun ia sendiri belum mahir tenun karena fokus pada menjahit.

“Kelas tiga belum tahu tenun, sudah tamat baru kepengen sekali kenapa beta sonde tahu tenun. Sedangkan beta punya kawan yang lain bisa tenun. Jadi beta belajar,” ungkap Herlin.

Selain itu, tuntutan di NTT kini yang mengharuskan penggunaan kain tenun di berbagai instansi, membuat Herlin melihat peluang usaha di bidang ini.

Ia lalu belajar pada seorang guru di sekolah asalnya. Ternyata menenun tak semudah yang ia lihat. Tak jarang tenunannya harus ia bongkar karena benang-benang yang tak saling sambung. Motif yang tak sesuai, dan kendala lain yang mengharuskannya membongkar dan mulai dari awal.

Dua minggu berselang, ia kemudian mengikuti pelatihan tenun yang diadakan Dekranasda NTT. Pelatihan berlangsung selama sebulan. Setelah itu mereka diberi dana untuk berwirausaha.

Keenam perempuan muda itu kemudian membuat tenun, dan aksesoris berbahan dasar tenun. Jenis tenun yang mereka dalami ialah tenun Sotis atau Lotis. Tenunan yang memakai benang berwarna kemudian motifnya disulam.

Aksesoris berbahan dasar tenun yang dibuaat Herlin dalam kelompoknya (Ruth-KatongNTT)

Herlin sudah bisa menenun. Namun masih membutuhkan bantuan ketika menghani. Yakni satu proses di awal tenun untuk memilah helaian benang satu per satu, disesuaikan dengan pola yang diinginkan.

“Awalnya rumit sekali. Beta yang tenun menangis. Tenun sudah susah, bikin (aksesoris) susah, tapi harga murah,” keluh Herlin sembari menertawakan realita yang ada.

Belum lagi teman yang lebih pandai menenun memilih keluar dari komunitas mereka. Diikuti tiga teman lainnya yang memilih hengkang. Sehingga tersisa ia dan satu temannya yang belum cakap menenun.

Baca Juga: Bisnis Camilan NTT Mama Ana Melejit Setelah “Ganti Baju”

Mereka kemudian mencari pelatihan tenun lagi untuk diikuti. Hingga akhirnya mereka sudah mampu menenun sendiri tanpa bantuan siapa-siapa lagi.

Hasil tenunannya kemudian dijual dengan harga Rp500 ribu hingga Rp 1 juta per kain, disesuaikan dengan ukurannya.

Sedangkan untuk aksesoris, dimulai dari gelang, masker, anting-anting, dan kalung, Herlin menjualnya dari Rp10 ribu hingga Rp 100 ribu. Penjualannya secara luring maupun daring.

Walau susah payah harus ia lalui lebih dulu. Ada waktu main-main bersama teman yang ia lewatkan. Bagi Herlin tak apa demi mempertahankan warisan budaya tenun ini agar tak putus.

“Biasa kan orangtua yang tenun. Tapi tidak mungkin orang tua yang tenun terus. Pasti katong harus ganti mereka jadi penenun, karena katong punya budaya ini tenun,”pungkas Herlin. *****

 

Silakan hubungi nomor +6281339451143 jika berminat untuk membeli produk UMKM ini. Ayo kita dukung kemajuan UMKM NTT!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *