Kupang – Inflasi Nusa Tenggara Timur (NTT) di Februari 2024 capai 3,01 persen atau naik dibandingkan Februari 2023. Inflasi tahunan NTT ini menjadi yang tertinggi di wilayah Bali dan Nusa Tenggara.
Inflasi tahunan NTT ini pun lebih tinggi dari nasional yang menyentuh 2,75 persen per Februari 2024, dengan provinsi tertinggi inflasinya ialah Papua Selatan dengan 4,61 persen.
Baca juga : Keluh Buruh Kasar Berburu Beras Murah Keliling Kota
Deputi Bidang Statistik Produksi Badan Pusat Statistik (BPS) RI, M. Habibullah, menyebut mahalnya harga beras di Indonesia memiliki andil besar terhadap pasar.
“Beras menyumbang andil inflasi di 37 provinsi dan hanya 1 provinsi yang tidak terpengaruh atau mengalami deflasi,” tukasnya dalam keterangan pers Jumat 1 Maret 2024.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau ini menyebabkan inflasi 6,36 persen dan andilnya 1,79 persen. Lebih rinci, jelas Habibullah, andil inflasi ini adalah emas, perhiasan, gula pasir, biaya kontrak rumah dan nasi dengan lauk.
Baca juga : Salah Data, Bantuan Pangan Beras Bagi NTT Lambat Datang
Bila dilihat secara bulanan, inflasi Indonesia per Februari 2024 ini naik 0,37 persen dari Januari 2024 akibat mahalnya harga beras, cabai merah, telur ayam ras, daging ayam ras, dan minyak goreng.
Khusus NTT terjadi inflasi tahunan 3,01 persen per Februari 2024 akibat naiknya harga kelompok makanan, minuman dan tembakau ini.
Menurut Kepala BPS NTT, Matamira B Kale, beras jadi komoditas yang mendorong 0,88 persen inflasi tahunan di NTT dan yang tertinggi di Ngada, 1,38 persen.
“Terbesar di NTT adalah beras dan terjadi di kabupaten dan kota cakupan IHK (Indeks Harga Konsumen). Selain itu ada angkutan udara yang memberi inflasi di Waingapu, Maumere dan Kota Kupang,” sebutnya.
Baca juga : Kisah Perempuan NTT Bertahan Dari Mahalnya Harga Beras
Kenaikan harga beras ini pun punya dampak lanjutan terhadap kelompok penyedia makanan dan minuman seperti rumah makan atau restoran.
“Bahan makanan yang meningkat (harganya) tentu membuat kelompok penyediaan makanan akan terdampak. Untuk kelompok penyedia makanan dan minuman atau restoran itu inflasi 4,04 persen dan kelompok transportasi 3,79 persen,” tukasnya dalam rilis, Jumat 1 Maret 2024.
Secara bulanan, per Februari 2024 ini, NTT memang mengalami deflasi 0,16 persen. Namun beras tetap menjadi komoditas yang paling mahal bulan ini dan sangat rentan terhadap pola permintaan, produksi dan cuaca. Kenaikan harga beras, kata Matamira, terjadi merata di seluruh kota kabupaten dalam IHK.
“Memang trennya seperti ini, di Januari kita inflasi lalu di Februari alami deflasi,” kata dia.
Baca juga : Akhir Februari, NTT Baru Dapat 19 Persen Bantuan Beras
Andil beras terhadap inflasi bulanan yaitu 0,1629 persen, diikuti tomat sebesar 0,1212 persen, kangkung 0,0504 persen, ikan kembung 0,0361 persen dan ikan bakar 0,0338 persen.
“Beras jadi penyumbang inflasi terbesar dan kenaikan harga beras ini terjadi hampir di seluruh Indonesia,” tukasnya.
Harga beras premium di NTT per 1 Maret 2024 ini Rp 16.930/kilogramnya atau Rp 17 ribu di pasaran, sedangkan beras medium Rp 15.130/kilogram atau dijual Rp 15.500.
Kenaikan harga beras ini jauh melampaui batas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. NTT sendiri masuk HET Zona 2 bersama Sumatera (selain Lampung dan Sumsel) dan juga Kalimantan. HET beras di Zona 2 ini seharusnya Rp 11.500/kg untuk beras medium sebesar dan Rp.14.400/kg beras premium. ***




