Kupang – Mikhael seorang pekerja serabutan atau buruh kasar di Kota Kupang berpindah-pindah dari pasar, kios dan toko karena tak mendapat beras dengan harga yang terjangkau.
Ia diboncengi rekannya dengan sepeda motor keluaran belasan tahun lalu menemui berbagai penjual. Mereka kini singgah di Pasar Naikoten yang baru saja diguyur hujan selepas jam makan siang demi sekilo beras yang sesuai kesanggupan mereka.
Baca juga: Akhir Februari, NTT Baru Dapat 19 Persen Bantuan Beras
“Taputar (keliling) dari tadi cari beras yang murah,” jawab pria berkulit gelap itu dengan suara pelan.

Senin 26 Februari 2024 itu buruh kasar ini hanya mendapati sekarung kecil beras Bulog yang memang harganya lebih murah dari beras lainnya. Namun begitu tak semua penjual di Kota Kupang menyediakan beras itu. Karung beras itu dilabeli SPHP, akronim dari stabilitas pasokan dan harga pangan.
Bulog menjual beras mereka ini Rp 11.500 per kilogramnya sedangkan merek lainnya di atas Rp 15 ribu. Beras premium tentunya sudah lebih mahal lagi bisa Rp 17 ribu per kilogram.
Mikhael lantas mendekap sekarung beras berukuran 5 kilogram yang ada di salah satu lapak di pertigaan pasar tradisional itu. Satu orang hanya dibolehkan membawa pulang sekarung beras saja.
Baca juga: Salah Data, Bantuan Pangan Beras Bagi NTT Lambat Datang
Tidak sekedar membayar, kini penjual pun harus mengambil foto masing-masing mereka. Air muka mereka tergambar lesu dan keheranan bersama sekarung beras yang sudah mereka tunaikan.
Mikhael tak benar-benar paham mengapa ada aturan seperti itu. Dahinya pun berkerut saat ditanyai soal harga beras yang sulit turun beberapa minggu terakhir. Mikhael hanya mengeluh dengan singkat, tak bisa berharap banyak.
“Mau bagaimana lagi, ya kita terima sudah asal bisa dapat,” tukasnya.
Baca juga : Bulog Pasok 5000 Ton, Beras di NTT Tetap Mahal
Pria gondrong dan sedikit beruban itu memeluk erat-erat karung beras miliknya sedangkan rekannya meletakkan sekarung lainnya di rangka motor yang berpoles lumpur. Akhirnya ada beras untuk keluarga di rumah masing-masing dua pria ceking ini.
“Ini satu karung Rp 57.500. Sudah ini saja yang paling murah,” harapnya sekarung beras itu bisa mencukupi kebutuhan keluarganya di rumah.
Pengeluhan ini tidak datang dari buruh kasar seperti Mikhael saja. Pedagang seperti Jamal pun sampai tak tega harus menjual dengan harga tinggi. Namun apa mau dikata kenyataan mustahil dipungkiri.

Baca juga : Prediksi Kementan, Harga Beras Tetap Mahal Jelang Panen Raya
“Jadi ya kebanyakan orang cari Bulog kalau ada stok masuk,” ungkap pedagang di Pasar Oeba ini.
Untuk kiosnya sendiri masih dengan banyak pasokan beras premium yang harganya cendrung tinggi. Stok beras Bulog memang sudah lama habis di lapaknya. Kuota beras SPHP pun katanya tak banyak sehingga tak selalu ia dapat.
Ia menjual beras premium seperti Nyong Kupang misalnya yang sudah naik hingga Rp 17 ribu dalam 2 minggu terakhir dari Rp 16 ribu. Begitu juga beras Nona Kupang berukuran 10 kilogram pun sudah Rp 175 ribu. Kemudian beras Lonceng Rp 317 ribu per 20 kilogram.

Dengan harga demikian maka stok beras premium ini makin cenderung jauh dari incaran. Kebanyakan pembeli kini memang berburu beras Bulog yang tentunya lebih murah.
Baca juga: Optimalkan Singkong, NTT Bisa Kurangi Ketergantungan Beras dari Luar
“Ada yang beli premium tapi tidak seperti tahun lalu, sedikit saja,” kata pria asal Makassar yang pernah berdagang di Wamena, Papua Pegunungan, selama 5 tahun ini.
Menurut catatan Badan Pangan Nasional (BAPANAS) disparitas atau kenaikan harga beras masih sangat tinggi.
Untuk di NTT per 26 Februari ini terjadi kenaikan harga beras premium hingga Rp 16.790 atau dengan disparitas 2.57 persen. Berbeda dengan harga dua hari sebelumnya yang mana beras premium yaitu Rp 16.580.
Baca juga: Harga Naik, Bulog NTT Hanya Bisa Serap Beras di Ngada

Sedangkan harga beras medium mencapai Rp 15.030 dengan disparitas harga 5.10 persen. Tak jauh berbeda dengan dua hari sebelumnya di harga Rp 15.020.
Harga ini jauh dari ketetapan harga eceran tertinggi (HET) untuk Zona 2 yang meliputi Sumatera selain Lampung dan Sumsel, NTT, dan Kalimantan.
HET beras di zona 2 ini seharusnya Rp 11.500/kg untuk beras medium sebesar dan Rp.14.400/kg beras premium.
Data Bulog sendiri mengungkap realisasi beras SPHP khusus di NTT sudah mencapai 5.000 ton. Rinciannya 2.363 ton per Januari dan 2.640 ton di Februari.
Baca juga: NTT Keluarkan Rp 2 Miliar Untuk Beras Warga Miskin
Sementara kegiatan SPHP beras di ritel modern seperti mall hingga Alfamart dan Indomaret di NTT selama 2024 ini hanya 73 ton yaitu 38 ton di Januari dan 35 ton di Februari ini.
Beras SPHP sendiri memang ditujukan untuk masyarakat menengah ke bawah di tengah mahalnya harga beras saat ini di samping adanya penyaluran bantuan pangan beras bagi masyarakat yang tidak mampu.***




