Kupang – Matahari menggantung di ufuk barat langit Kota Kupang ketika seorang Ibu memegang koran duduk di pinggir jalan. Lokasinya dekat kantor Gubernur Nusa Tenggara TImur (NTT).
Setumpuk koran terjepit rapi di kedua tangannya. KatongNTT menghampiri wanita paruh baya itu pada pekan lalu.
Secuil senyum terukir pada bibir wanita itu menunjukkan keramahannya. Kendaraan bermotor lalu-lalang di hadapannya tak digubrisnya.
Baca juga: Jalan-jalan Hingga Jatuh Cinta Pada Jurnalistik
Memang saat itu traffic light di perempatan El Tari Kupang rusak. Wanita yang bernama Elisabet Taneo itu biasa menjajakan koran di perempatan jalan itu saat kendaraan berhenti. Lokasi itu menjadi salah satu tempat para loper koran berjualan.
Elisabet hanya melayani beberapa orang yang sempat berdiri di depannya. Dia mengaku traffic light itu sudah rusak sejak beberapa hari lalu.
Dia lalu menyodorkan koran dari Pos Kupang. “Harganya tiga ribu kaka,” ujar Elisabet.
Sebagai loper, Elisabet menjual koran dari tiga media cetak yang ada di Kota Kupang. Koran tersebut dijual dengan harga yang berbeda.
“Pos Kupang kita ambil dengan harga Rp.2.300- (per eksemplar), kita jual dengan harga Rp.3.000-. Victory News dari kantor kasi dengan harga Rp.2.000-, kami jual dengan harga Rp.3.000-. Timex (Timor Express) kita beli harga Rp.2.700-, jual harga Rp.4.000,” ujar wanita asal Timor Tengah Selatan (TTS) itu.
Keuntungan paling besar dari penjualan itu didapat dari Timor Express yakni sebesar Rp.1.300 untuk satu eksemplar. Dari Victory News, mereka memperoleh keuntungan Rp.1.000-, dan Pos Kupang Rp.700-.
Baca juga: Konde.co Luncurkan Buku Pemetaan Kondisi Media Perempuan
“Tapi dari Pos Kupang kita dapat gaji mingguan dan gaji bulanan,” kata Putri Kore, siswa SMKN 4 Kupang yang juga berjualan koran.
Putri yang kini berada di kelas XI itu bercerita kepada KatongNTT, dirinya sudah membantu orang tua sejak tahun 2018, saat dirinya duduk di Kelas 2 SMP. Sepulang sekolah, dia manfaatkan waktu bergantian jualan koran dengan orang tuanya.
“Kita bukan tidak sekolah, kita sekolah. Saya pribadi saya sekolah,” kata Putri menegaskan statusnya sebagai pelajar.
Pekerjaan itu dilakoninya hanya untuk mengisi waktu laung. Apalagi di masa pandemi Covid-19, pelajaran di sekolah beralih menjadi pelajaran jarak jauh.
“Saya datang jualan hanya sekedar cari uang jajan atau (uang) isi pulsa data. Kan sekarang pandemi ini kita lebih banyak online,” kata siswa jurusan desain interior itu.
Hasil penjualan itu tidak seberapa dan tidak menentu. Penghasilan mereka bergantung pada berita yang ditulis pada hari itu.
Berita-berita kriminal biasanya diminati para pembaca. Atau peristiwa-peristiwa seperti bencana alam itu sangat diminati. Termasuk juga isu-isu politik.
Baca juga: Birokrasi dan Transparansi Anggaran NTT Dapat Skor Terburuk
“Uang dari hasil penjualan koran ini, walaupun kami dapat tidak banyak, kami gunakan untuk beli beras, kebutuhan lainnya (seperti) untuk anak-anak sekolah. Bayar uang bemo ke sekolah. Kita dapat seribu dua ribu kita gunakan untuk anak-anak jajan, bayar uang sekolah, bayar uang kos terutama makan minum,” ujar Elisabet.
Elisabet membantu suaminya yang bekerja di luar daerah untuk menyambung hidup keluarga mereka dari lembaran-lembaran koran itu. Ia turut membiayai kehidupan dua orang buah hatinya yang masih kecil itu.
Setiap hari, dia mengambil 30 eksemplar dari Pos Kupang. Sementara dari Timor Express dan Victory News, dia mengambil masing-masing 5 eksemplar.
“Terkadang penghasilan hanya cukup untuk makan minum. Yang terpenting kita tetap bersyukur, berdoa, pasti ada berkat Tuhan,” tutur Elisabet dengan raut wajah serius.
Koran tak hanya dijadikan sebagai alat mencari uang. Bagi Putri, sesuai fungsi utamanya memberikan informasi, Ia banyak belajar dari koran yang dijualnya.
Baginya, mengetahui isi berita adalah keharusan. Karena itu akan memudahkan saat melayani pembeli. Putri pun selalu membaca koran yang akan dijualnya.
“Biasanya orang yang beli akan tanya ada berita apa saja hari ini. Kita harus tahu, misalnya ada berita pembunuhan, itu di halaman berapa. Jadi kita tidak bolak balik lagi untuk cari,” kata Putri.
Semangat mereka untuk mengais rezeki dari selembar koran tak pernah surut. Meski ditengah gempuran arus informasi yang serba digital, mereka tetap gigih menyambung hidup mereka dan kehidupan koran itu sendiri.
Perkembangan teknologi saat ini serta menjamurnya berbagai media berita online, menjadi tantangan bagi mereka. Mereka, para loper koran, menjadi bagian yang hampir ikut tergerus oleh arus teknologi.
Putri yang berjualan sejak tahun 2018, merasakan betul perubahan itu. Tahun demi tahun, peminat koran pun ikut berkurang.
“Tahun-tahun paling laris itu tahun 2018 dan tahun 2019. Itu juga belum ada pandemi Covid-19,” jelasnya.
Kecepatan yang ditawarkan oleh media online menyeret sejumlah pembaca. Beberapa pembaca koran masih bertahan karena sudah jadi kebiasaan.
“Kebanyakan orang yang beli koran ini, orang-orang tua yang sudah langganan dari tahun-tahun sebelumnya,” tambah Putri.
Walau di tengah minimnya pembaca, mereka masih berharap mendapatkan sesuap nasi dari usaha itu. Sebagai loper koran, mereka tidak tahu, sampai kapan akan bertahan. Namun mereka tetap menaruh asa pada lembaran-lembaran koran itu.
“Kami bersyukur ada koran dan kami bisa jual. Kalau ke depan tidak cetak,” Elisabet terdiam lalu berkata lagi : “Mudah-mudah koran tetap cetak.” (Joe)




