Kupang – Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Kota Kupang dan Masjid Al Muttaqin yang berdiri berdampingan mempertahankan kerukunan bersama.
Toleransi yang dipupuk kedua tempat ibadah sejak lama ini ditunjukkan saat Paskah dan bulan Ramadan ini.
Gereja HKBP Kota Kupang melaksanakan ibadah Jumat Agung dan Masjid Al Muttaqin menggelar Shalat Jumat, 7 April 2023 ini.
Kedua tempat ibadah yang berada di RT 29 RW 13 Kelurahan Kelapa Lima Kota Kupang ini bahkan membagi tempat parkir untuk digunakan bersama.
Nantinya umat kedua dari kedua agama ini pun akan saling mengatur parkiran dan menjaga keamanan agar ibadah yang dijalankan berlangsung dengan baik.
Komunikasi antar kedua umat juga selalu dijaga terlebih saat perayaan keagamaan seperti yang dilakukan pada saat itu.
Baca Juga: Warga Fatufeto Tempatkan Replika Salib Yesus dan Bedug Ramadan di Satu Lokasi
Ketua Yayasan Al Mutaqin Kota Kupang, Muhammad Marhaban, mengaku setiap memasuki bulan keagamaan seperti ini maka kedua pihak akan bertemu dan mencari solusi terbaik.
“Kita selalu berkoordinasi dengan gereja untuk mengamankan parkiran. Gereja menggunakan parkiran masjid. Masjid menggunakan parkiran gereja.
Itu sudah terjadi beberapa tahun dan itu kita sudah saling memahami. Kerukunan yang ada di tempat ini luar biasa,” jelas dia.
Menurut mantan Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Alor ini dengan berdampingnya gereja dan masjid tersebut justru semakin mempererat umat kedua agama.
Kedua umat selama ini juga selalu solid menjaga kerukunan dan ibadah masing-masing.
“Ini juga menjadi ikon untuk kerukunan beragama di Kota Kupang,” tambah dia.
Sejak awal berdirinya gereja dan masjid ini juga komunikasi dan silaturahmi keduanya sudah terjalin baik.
Keduanya juga mensiasati agar suara-suara yang ditimbulkan saat ibadah baik itu di masjid atau gereja dapat ditolerir dan tidak menggangu.
“Kita saling memahami. Misalnya gereja masuk jam 9 pagi terus setelah selesai kita masuk Shalat Jumat, nantikan sudah tidak ada suara lagi. Usai Shalat Jumat pun kegiatan gereja juga bisa digelar dan tidak saling mengganggu,” lanjut dia.
Ia menerangkan volume pengeras suara yang keluar masjid hanya digunakan untuk saat adzan saja.
Setelahnya pihaknya akan menggunakan pengeras suara dalam masjid saja.
“Sehingga tidak menggangu teman-teman di gereja. Sama juga saat dari gereja biasanya menyanyi kita pun tidak dengar di dalam masjid,” tukas Marhaban lagi.
Baca Juga: Toleransi di NTT, Pemuda Gereja Jaga Keamanan Saat Umat Muslim Salat Tarawih di Kota Kupang
Selain komunikasi langsung untuk memikirkan solusi bersama, di antara kedua tempat ibadah ini pun sudah dibangun tembok penghalang.
Namun demikian selebihnya aktivitas keagamaan di kedua tempat ibadah ini tidak menjadi masalah berarti bagi umat masing-masing.
“Karena kita sudah sering saling membangun komunikasi selama ini. Itu yang terpenting,” ungkapnya. (Putra Bali Mula)




