Pengembangan Perpustakaan di NTT Terhambat Anggaran

Pengunjung mencari buku di perpustkaan daerah NTT (Joe-KatongNTT)

Pengunjung mencari buku di perpustkaan daerah NTT (Joe-KatongNTT)

Kupang – Perpustakaan daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) terus berbenah menuju perpustakaan berbasis inklusi sosial. Pengembangan ini masih terhambat oleh keterbatasan anggaran. Kepala Dinas Kerarsipan dan Perpustakaan NTT, Stefanus I. Ratyoe Oedjoe mengatakan, perpustakaan saat ini tidak hanya menjadi tempat mencerdaskan namun juga mensejahterakan masyarakat.

Menurut Stefanus, upaya pembenahan dari segi fasilitas dan layanan terus dilakukan. Hal ini termasuk dalam digitalisasi perpustakaan dengan hadirnya aplikasi ePerpus NTT.

“Perpustkaan bukan saja tempat untuk mencari ilmu, tapi juga menjadi tempat mensejahterakan masyarakat,” kata Stefanus kepada KatongNTT, Senin (12/9/2022).

Saat ini perpustakaan daerah NTT yang beralamat di jalan Tompelo itu terakreditasi B. Petugas teknis perpustakaan daerah, Yada Edon mengatakan, salah satu faktor yang menyebabkan tidak bisa meraih akreitasi A adalah penambahan koleksi buku setiap tahun.

Kondisi ini, menurut Stafanus tejadi lantaran kekurangan anggaran untuk penambahan koleksi buku. Akibatnya, tiga tahun terakhir tidak ada penambahan koleksi buku.

Anggaran yang tersedia lebih banyak untuk penambahan fasilitas seperti tempat duduk yang sudah menggunakan pemisah dan sistem pendataan pengunjung yang terintegrasi. Yada mengatakan, pelayanan pada perpustakaan daerah saat ini berstandar ISO dan dievaluasi setiap tahun.

Baca juga : Berkas Perkara Plt Kepala Biro Umum Setda NTT Dilimpahkan ke Kejaksaan

Salah satu proram jangka menengah tahun 2020-2024 yang dicanangkan oleh Peprustakaan Nasional Republik Indonesia adalah literasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Dalam program ini, perpustakaan tidak hanya menjadi tempat mencari bahan referensi namun berperan meningkatkan kapasitas dan kualitas sumber daya manusia.

Dalam menjalankan fungsi perpustakaan mensejahterakan masyarakat, Stefanus menjelaskan, pihaknya melakukan MoU dengan beberapa univesitas dan SMA di Kota Kupang. Dalam nota kesepahaman tersebut, misalnya dengan Politani Kupang, perpustakaan mendukung mahasiswa dengan bahan-bahan referensi sebelum mereka melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL). Bahan referensi tersebut berkaitan dengan pengembangan pertanian dan peternakan yang bisa meningkatkan ekonomi masyarakat.

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah NTT, Stefanus Ratoe Oedjoe (Joe-KatongNTT)

Pada tahapan lain, perpustakaan menghadirkan program peningkatan sumber daya manusia melalui library class. Yada mengatakan, program ini membuka kelas-kelas belajar bagi pelajar dan mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan dibidang teknologi informasi dan komunikasi.

“Kita memberikan pelatihan dalam kelas-kelas tersebut dengan harapan setelah tamat mereka bisa membuka lapangan usaha,” kata Yada.

Beberapa jenis pelatihan yang diberikan antara lain pelatihan desain grafis, office dan video editing. Pelatihan juga tidak hanya diberikan kepada siswa dan mahasiswa, tetapi juga kepada petugas pengelolaan perpustakaan, baik perguruan tinggi, perpustakaan umum maupun khusus.

Gelombang pertama program ini sudah dilaksanakan dengan peserta dari SMKN 5 dan SMKN 3 Kupang. gelombang kedua dijadwalkan akan berlangsung bulan ini hingga akhir tahun dengan peserta para mahasiswa.

Untuk menjangkau pembaca yang berada di luar Kota Kupang, aplikasi ePerpus hadir sebagai solusi. Aplikasi yang dilaunching oleh Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat pada Desember 2020 kini sudah memiliki 1.277 pengguna.

Yada mengatakan, tidak semua koleksi buku yang ada diperpustakaan daerah ada dalam ePerpus NTT. Untuk pengadaan buku pada ePerpus NTT, pihaknya lebih mengutamakan buku pelajaran sesuai kurikulum. Selain itu, untuk mendukung perpustakaan inklusi sosial, disediakan koleksi buku-buku yang berkaitan dengan peningkatan ketrampilan.

“Seperti program nasional bahwa kita berbasis inklusi sosial, dari buku dia (masyarakat) belajar dan mempraktekkan dan bisa mensejahterakan dirinya,” ujar Yada.

Puspa Weny, mahasiswa Pascasarjana Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya mengatakan, ePerpus NTT cukup membantu menemukan referensi yang dicari dengan cepat dan mudah. ePerpus NTT memiliki sistem yang sama seperti iPusnas. Pengguna bisa meminjam buku dan membaca secara offline selama 3 hari.

Kendati demikian, koleksi buku ePerpus NTT dinilai masih kurang. Karena itu, Puspa mendatangi perpustakaan daerah untuk mencari buku-buku yang tidak ditemukan di ePerpus NTT. Bersama temannya, Paula Kalaledo, mereka rajin mendatangi perpustakaan daerah untuk mengerjakan tugas-tugas kampus sejak menempuh studi pada jurusan Psikologi Undana Kupang.

“Buku-buku psikologi agak terbatas. Kalau kita beli online juga butuh waktu lama baru sampai,” kata Paula dibenarkan oleh Puspa.

“Perpustakaan jadi solusi untuk mencari referensi tanpa mengeluarkan biaya,” sambung Puspa.

Meski manfaatnya sudah banyak dirasakan, pengembangan menuju perpustakaan berbasis inklusi di NTT masih terbatas. Sejauh ini, kunjungan ke perpustkaan masih didominasi oleh mahasiswa dan pelajar. Masyarakat umum belum terlalu banyak berkunjung ke perpustakaan. Dampaknya upaya mewujudkan perpustakaan berbasis inklusi sosial belum signifikan. *****

Baca juga: GMIT Diminta Tanggung Biaya Hidup Anak Korban Pemerkosaan Vikaris

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *